1000 Cahaya

ATM Beras di Masjid Darussalam Getassrabi Kudus, untuk Bantu Warga Kurang Mampu

Dari masjid hingga rumah warga, PRM Getassrabi Kudus membuktikan teologi ekologis Muhammadiyah bisa hidup lewat aksi nyata pembangunan hijau.

1000CAHAYA – Di tengah ancaman global warming yang kian nyata, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hadir sebagai pelopor dalam mewujudkan prinsip teologi ekologis Muhammadiyah.

Melalui berbagai inovasi dan komitmen yang kuat terhadap pembangunan hijau berkelanjutan, PRM Getassrabi menunjukkan bagaimana komunitas lokal dapat menjadi motor perubahan yang signifikan bagi lingkungan.

Mengapa Pembangunan Hijau Penting? Pembangunan hijau adalah pendekatan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan secara seimbang. Prinsip ini menempatkan kebutuhan manusia dan alam pada porsi yang setara, demi memastikan keberlanjutan sumber daya bagi generasi mendatang.

Dalam konteks global warming, penerapan pembangunan hijau bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), serta menjaga kelestarian ekosistem.

Konservasi Energi ala PRM Getassrabi

PRM Getassrabi telah menerapkan berbagai strategi konservasi energi yang inovatif. Salah satu langkah penting adalah penggunaan energi baru terbarukan (EBT) melalui instalasi solar cell di Masjid Darussalam dan beberapa fasilitas lainnya.

Dengan metode on-grid, energi matahari ini tidak hanya memenuhi kebutuhan listrik masjid tetapi juga disalurkan ke gedung dakwah, aula kelurahan, dan rumah warga.

Selain itu, desain bangunan ramah lingkungan menjadi prioritas PRM Getassrabi. Gedung-gedung dirancang dengan ventilasi dan pencahayaan alami yang optimal, sehingga meminimalkan kebutuhan energi untuk penerangan, pendingin udara, dan pemanas. Langkah ini tidak hanya hemat energi tetapi juga mendukung kenyamanan lingkungan secara keseluruhan.

Menjaga Sumber Daya Air dengan Konservasi Kreatif

Dalam hal konservasi air, PRM Getassrabi memulai upayanya sejak 2016 dengan membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH). RTH ini dirancang untuk meningkatkan penyerapan air tanah, mengurangi polusi, dan menyediakan cadangan air berkualitas bagi masyarakat sekitar. Selain itu, paving block berpori digunakan di area masjid untuk mempercepat resapan air.

Inovasi lain yang tengah dirancang adalah program *recycle* air wudhu. Air wudhu akan didaur ulang untuk menyiram tanaman, membilas toilet, dan bahkan mengisi kolam ikan di sekitar masjid. Program ini tidak hanya menciptakan efisiensi tetapi juga menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat.

Sedekah Jelantah: Mengurangi Limbah, Memberdayakan Masyarakat

Tak berhenti di konservasi energi dan air, PRM Getassrabi bersama Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Getassrabi menginisiasi program “Sedekah Jelantah.”

Minyak jelantah yang biasanya menjadi limbah berbahaya, dikumpulkan, diolah kembali, dan dijual dengan harga terjangkau. Hasil penjualan digunakan untuk mendanai berbagai program sosial dan lingkungan PRM dan PRA.

Menjaga Lingkungan sebagai Bagian dari Ibadah

Menurut Nurul Zaman, Sekretaris PRM Getassrabi, semua inisiatif ini berakar dari prinsip teologi ekologis Muhammadiyah. Prinsip ini memadukan nilai-nilai agama dengan kesadaran ekologis untuk menjaga lingkungan hidup, sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.

Upaya ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan tetapi juga menjadi bentuk nyata tanggung jawab sosial terhadap umat dan generasi mendatang.  Bagi Nurul Zaman, sekecil apapun usaha yang dilakukan asal bertujuan baik bagi umat, maka hasil yang didapatkan akan menjadi besar dan bermanfaat bagi banyak orang.

Inspirasi bagi Ranting Muhammadiyah Lainnya

Apa yang dilakukan PRM Getassrabi adalah bukti bahwa komunitas lokal memiliki peran besar dalam pembangunan hijau. Dengan langkah-langkah yang terukur dan berbasis kebutuhan lokal, PRM Getassrabi telah menunjukkan bahwa sekecil apa pun usaha, jika dilakukan dengan niat baik dan konsisten, dapat membawa dampak besar.

Nurul Zaman berharap langkah PRM Getassrabi ini menginspirasi ranting-ranting Muhammadiyah lainnya di seluruh Indonesia. Ia juga mengajak Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah untuk terus mendukung program-program inovatif serupa, demi mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, adil, dan lestari.

PRM Getassrabi telah membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan komitmen teologis, komunitas kecil sekalipun dapat memberikan kontribusi besar bagi kelestarian bumi. Inilah wujud nyata dari pembangunan hijau yang sejalan dengan nilai-nilai agama dan keberlanjutan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *