
Masjid Supangat Tuban memadukan PLTS dan dakwah sosial, membuktikan energi terbarukan mampu menggerakkan maslahat umat dan menjaga bumi.
1000 CAHAYA – Listrik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Dalam keseharian, energi ini mendukung beragam aktivitas, mulai dari industri, transportasi, kesehatan, hingga tempat ibadah. Tak terkecuali masjid, yang memerlukan listrik untuk pengeras suara, penerangan, dan pendingin ruangan.
Bayangkan khutbah tanpa pengeras suara, seberapa besar pesan dapat tersampaikan? Atau salat berjamaah tanpa bacaan jahr (mengeraskan suara) seperti pada sholat Subuh, Maghrib, dan Isya’? Jamaah mungkin kesulitan memahami bacaan imam, bahkan mungkin kehilangan momen penting seperti menjawab “amin” atau mengetahui kapan tasyahud dan salam dilaksanakan.
Namun, kebutuhan ini membawa tantangan. Sebagian besar listrik yang digunakan masjid masih bergantung pada energi fosil. Selain berbiaya tinggi, energi ini menyumbang kerusakan lingkungan. Masjid Supangat di Tuban, Jawa Timur, menunjukkan bagaimana sebuah masjid dapat menjadi pelopor dakwah lingkungan sekaligus dakwah sosial melalui penerapan green energy.
Belajar dari Masjid Supangat Tuban
Masjid Supangat, yang berdiri pada 28 September 2024, mengadopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energinya. Edi Utomo, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), menjelaskan bahwa instalasi ini merupakan hibah dari NGO Aksara Nusantara. Lokasi masjid yang terpencil di tengah perkebunan dekat pesisir menjadi alasan utama penerapan PLTS, menggantikan keterbatasan akses listrik PLN.

PLTS memberikan solusi praktis sekaligus ekonomis. Sekitar 80–90% kebutuhan listrik masjid terpenuhi melalui tenaga surya, sementara sisanya—seperti untuk kulkas dan kipas angin—masih menggunakan PLN. Hasilnya, biaya listrik berkurang drastic dan bahkan menciptakan surplus dana yang dialokasikan untuk program sosial.
Dakwah Sosial melalui Inovasi Energi
Keberhasilan Masjid Supangat tak hanya dalam memanfaatkan energi terbarukan, tetapi juga memaksimalkan dampaknya bagi masyarakat.
Dana yang dihemat dari tagihan listrik dialihkan untuk program sosial seperti:
1. Santunan sembako bulanan untuk jamaah.
2. Penghargaan uang saku bagi anak-anak rajin salat Subuh berjamaah.
3. Rencana inovatif seperti e-money untuk remaja yang rutin berjamaah dan bimbingan belajar gratis yang syarat utamanya adalah ikut memakmurkan masjid.
“Dakwah lingkungan dan sosial harus berjalan beriringan,” ujar Edi.
Ia berharap model ini dapat diadopsi masjid lain untuk menghadirkan maslahat lebih luas bagi umat dan lingkungan.
PLTS: Solusi Maslahat yang Berkelanjutan
Penggunaan energi terbarukan seperti PLTS tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan stabilitas ekonomi. Instalasi ini memang memerlukan biaya awal yang besar, tetapi hasilnya mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil, yang harganya sering kali fluktuatif.

Lebih dari itu, dari sisi spiritual, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata dari iman.
Dalam surat Ṣād ayat 27, Allah menegaskan bahwa langit dan bumi diciptakan tidak sia-sia.
Sementara itu, Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menyebut bahwa keimanan seseorang diragukan jika menganggap lingkungan tak memiliki tujuan.
Masjid Supangat menerapkan kaidah fikih mā lā yudraku kulluh lā yutraku kulluh —”apa yang tidak mampu dikerjakan seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya.”
Meski hanya mampu mengurangi pemakaian energi PLN hingga 10–20%, langkah ini sudah menjadi bagian dari solusi.
Green Masjid, Inspirasi untuk Masa Depan
Dakwah lingkungan melalui green masjid adalah inovasi yang relevan dengan tantangan zaman. Dengan dukungan dari pemerintah, NGO, dan kesadaran masyarakat, energi terbarukan dapat menjadi standar baru bagi masjid-masjid di Indonesia.
Masjid Supangat membuktikan bahwa memadukan teknologi, spiritualitas, dan keberlanjutan lingkungan bukan sekadar mimpi, tetapi kenyataan yang membawa maslahat bagi umat dan bumi.
Green masjid adalah bukti nyata bahwa dakwah dapat dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dan berdampak, tidak hanya di langit spiritual, tetapi juga di bumi yang kita pijak.***