
Berada tepat di seberang rel kereta api lintas utara Jawa, Masjid Asy-Syifa Muhammadiyah Lamongan tumbuh sebagai green mosque nasional lewat efisiensi energi dan kepedulian lingkungan.
1000 CAHAYA – Deru kereta api datang dan pergi saban beberapa jam, memecah udara di tepi jalan utama Lamongan, Jawa Timur. Tepat di seberang rel aktif kereta api lintas utara Jawa yang menghadirkan denting roda besi yang nyaris tak pernah benar-benar senyap, Masjid Asy-Syifa Muhammadiyah Lamongan justru menumbuhkan keteduhan dengan cara yang tak biasa. Melalui tata kelola yang rapi, masjid ini menerapkan efisiensi energi yang disiplin, serta kepedulian sosial yang terukur.
Masjid yang berada satu kompleks dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan ini mulai beroperasi pada akhir 2023 dan diresmikan pada Januari 2024 oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Berdiri di atas lahan luas dengan bangunan dua lantai, masjid ini mampu menampung sekitar 1.500 jamaah. Pelatarannya berlapis batu alam yang bersih dan tertata. Rak sepatu tersusun rapi, lift disediakan untuk lansia dan penyandang disabilitas, dan nuansa hijau muda menyambut sejak langkah pertama—menandakan bahwa ketertiban adalah bagian dari visi yang hendak dibangun.

“Awalnya masjid ini lebih diperuntukkan bagi internal rumah sakit,” tutur Ustaz Ghofur, Kepala Takmir Masjid. “Tapi karena lokasinya di tepi jalan, kami ingin ia menjadi bagian dari dakwah yang terbuka untuk umum.” Pilihan membuka diri itu sekaligus menjadi tantangan. Kebisingan kereta bukan perkara kecil bagi ruang ibadah yang membutuhkan kekhusyukan.
Di sinilah desain arsitektur memainkan peran. Bangunan dirancang dengan bukaan lebar dan sistem ventilasi silang agar udara alami mengalir optimal. Cahaya matahari leluasa masuk pada siang hari, menekan penggunaan lampu. Namun pada saat yang sama, struktur dan material dipilih untuk membantu meredam gema berlebih dari luar. Hasilnya adalah ruang yang tetap terang dan sejuk tanpa bergantung penuh pada pendingin udara.
Pendingin ruangan tetap digunakan, terutama ketika jamaah membludak pada waktu Dzuhur dan Jumat. Namun pengoperasiannya dikendalikan secara disiplin. Suhu dijaga agar tidak berlebihan, dan sebagian unit dimatikan ketika jamaah berkurang.

“Efisiensi itu dimulai dari kesadaran,” ujar Ustaz Umar, pengurus bidang sarana dan prasarana. “AC dinyalakan sesuai kebutuhan dan waktu.”
Langkah berikutnya yang tengah disiapkan adalah pemasangan panel surya di atap masjid.
Perhitungan teknis telah dilakukan, termasuk penjajakan dukungan melalui skema wakaf panel surya dari PP Muhammadiyah. Pengurus masih mematangkan skema pendanaan dan teknis agar pemasangan berjalan berkelanjutan. Bagi mereka, energi surya bukan sekadar soal penghematan biaya listrik, melainkan pernyataan moral bahwa rumah ibadah dapat menjadi pelopor transisi energi bersih.
Ikhtiar hijau itu tak berhenti pada listrik. Di lantai bawah, tersedia tandon penampung air bekas wudhu. Selama ini air bersumber dari PDAM dan sumur bawah tanah. Melalui sistem filtrasi berbasis zeolit dan karbon aktif—yang instalasinya diadaptasi dari sistem pengolahan limbah rumah sakit—air wudhu diolah kembali untuk menyiram tanaman di sekitar masjid. Sistem ini dirancang optimal terutama saat musim kemarau, bahkan berpotensi dimanfaatkan warga sekitar bila kebutuhan mendesak.

Ruang wudhu menjadi cerminan keseriusan pengelolaan. Area bersih dan kering, keran tersusun rapi, sirkulasi lancar tanpa desakan. Di toilet, wastafel berjajar dengan bunga segar dan pengharum ruangan. Detail kecil yang kerap diabaikan justru dijaga sebagai bagian dari pendidikan kebersihan. Pengelolaan sampah pun menerapkan prinsip 3R—reduce, reuse, recycle. Botol plastik dipilah, kardus dikumpulkan di ruang transit khusus, lalu disalurkan ke rekanan. Kebersihan, bagi pengurus, adalah proses pembiasaan.
Masjid ini juga beroperasi selama 24 jam. Di serambi tersedia ruang istirahat bagi musafir, lengkap dengan kamar singgah yang memadai. Setiap tamu didata dengan tertib. Jika ada yang datang dengan kesulitan ekonomi atau persoalan keluarga, pengurus berupaya membantu semampunya, bahkan membekali mereka saat melanjutkan perjalanan. Di titik ini, fungsi sosial masjid menemukan maknanya.

Lamongan
Struktur takmir melibatkan unsur karyawan rumah sakit, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, hingga ‘Aisyiyah. Kolaborasi lintas unsur ini memadukan profesionalisme manajemen rumah sakit dengan semangat dakwah persyarikatan. Shalat Dzuhur menjadi waktu paling ramai mengikuti ritme kerja rumah sakit, sementara kajian rutin digelar siang hari agar dapat diikuti karyawan dan warga sekitar.

Untuk menopang kemandirian, masjid mengembangkan Badan Usaha Milik Masjid. Gedung serbaguna dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, tersedia pujasera, layanan laundry bagi keluarga pasien, fasilitas cuci kendaraan, hingga pengisian daya kendaraan listrik. Rencana menghadirkan apotek 24 jam tengah disiapkan. Masjid tak lagi berdiri sebagai ruang ibadah semata, melainkan pusat kebermanfaatan.
Pada Februari 2026, masjid ini menerima surat dari LPCR PP Muhammadiyah yang menobatkannya sebagai masjid percontohan nasional di bidang amal usaha. Namun bagi pengurus, pengakuan itu bukan akhir, melainkan penguat langkah.

“Green mosque ini sudah lama kami canangkan. Masjid harus bisa mengawali,” kata Ghofur.
Di seberang rel yang riuh, Masjid Asy-Syifa Muhammadiyah Lamongan membuktikan bahwa keteduhan tidak selalu lahir dari kesunyian.
Ia tumbuh dari kesadaran yang dirawat, dari ventilasi yang dibiarkan terbuka, dari air wudhu yang disaring kembali, hingga dari lampu yang dimatikan saat tak lagi diperlukan. Di antara deru kota dan denyut rumah sakit, sebuah ikhtiar hijau sedang disemai—pelan, tekun, dan berkelanjutan.***