1000 Cahaya

Dari bank sampah yang ia inisiasi di Pelawad, Desty Eka Putri Sari menyalakan 1000 Cahaya bersama ‘Aisyiyah menggerakkan perempuan, mengubah sampah jadi daya, dan menyalakan transisi energi dari akar rumput.

1000 CAHAYA – Sepulang dari Belanda pada 2020, setelah empat tahun mendampingi suaminya menuntaskan studi doktoral, Desty Eka Putri Sari kembali ke kampung halamannya, Desa Pelawad, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Ia pulang membawa pengalaman global, tetapi disambut persoalan yang sangat lokal: tumpukan sampah menggunung di kanan-kiri jalan, berserakan tanpa pengelolaan. Bau menyengat dan pemandangan kumuh itu seperti ironi atas semua pengetahuan yang pernah ia lihat di negeri maju.

Kegelisahan itu tidak ia biarkan menjadi keluhan. Desty memilih berjalan dari rumah ke rumah. Seratus pintu diketuknya. Pertanyaannya sederhana: suka atau tidak dengan kondisi kampung sendiri? Delapan puluh keluarga menjawab tidak suka. Namun mereka tak punya solusi. “Dari dulu juga begitu,” begitu kira-kira jawaban yang berulang. Sampah dibuang ke tanah kosong, ke sungai, menjadi kebiasaan yang tak lagi dipersoalkan.

Desty Eka Putri Sari dan Bank Sampah Digital menerima penghargaan sebagai Bank Sampah Induk Terbaik ke-4 Indonesia 2023 dari Kementrian LHK RI

Di titik itulah Desty melihat celah perubahan. Jika persoalannya bukan pada kesadaran, melainkan pada ketiadaan gagasan, maka yang dibutuhkan adalah sistem yang mungkin dijalankan. Ia kemudian menggagas Gerakan Mandiri Sehat (GEMAS) dan program “Tak Serbu”—Tabungan Sampah Sehari Seribu. Ketika warga menolak iuran Rp20.000 per bulan untuk pengangkutan sampah, Desty menawarkan skema lebih ringan: Rp1.000 per hari. Sampah dipilah, ditimbang, dicatat sebagai tabungan.

Pandemi Covid-19 mempercepat kesadaran itu. Banyak keluarga kehilangan penghasilan. Di tengah keterbatasan, bank sampah menjadi ruang baru pemberdayaan. Sampah bukan lagi residu, melainkan potensi ekonomi. Dari inisiatif kecil itu, gerakan berkembang.

Pada 2022, Desty dipercaya menjadi CEO Bank Sampah Digital (BSD) Serang Raya. Dari dua titik awal, jaringan itu meluas menjadi 315 unit di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Cilegon. Anggotanya mencapai 6.800 orang, 98 persen perempuan dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Setiap bulan 8–15 ton sampah terkelola dan tersambung langsung ke industri. Sejak 2022, nilai ekonomi yang berputar telah mencapai ratusan juta rupiah.

Suasana asri kantor Bank Sampah Digital Serang (Foto: Dok. 1000 Cahaya/Fajar)

Namun bagi Desty, angka bukan tujuan akhir. Transparansi dan tata kelola menjadi prioritas. Dana nasabah dipisahkan dalam rekening khusus, transaksi dilakukan atas nama lembaga, bukan personal. Ia pernah merugi karena belum memahami standar kelembapan kertas industri. Pelajaran mahal inilah yang kemudian menjadi ide untuk menguatkan sistem BSD.

“Kalau tidak kuat di hulu, mesin secanggih apa pun tak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Kerja-kerja itu mendapat pengakuan luas. Pada 2025, ia meraih Juara 1 Ecopreneur dari Astra Infra Toll Merak–Tangerang Merak. Tahun sebelumnya, ia menerima Eka Tjipta Foundation Awards 2024 untuk kategori UMKM Digital Lingkungan. Pada 2023, ia terpilih sebagai Every You Does Good Heroes oleh Unilever. Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Serang menganugerahkan Piagam Perempuan Pegiat Lingkungan pada 2022. Pada tahun yang sama, ia masuk Astra International Awards – SATU Indonesia kategori Komunitas Lingkungan.

Prestasi itu bukan muncul tiba-tiba. Sejak mahasiswa, Desty telah menunjukkan jejak kepemimpinan intelektual. Ia pernah menjadi Mahasiswa Terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta pada 2010, dan bahkan pada 2004 meraih Juara IV Lomba Karya Tulis tingkat nasional yang diselenggarakan Departemen Pertahanan RI. Ada benang merah konsistensi: gagasan yang diturunkan menjadi aksi.

Suasana kantor Bank Sampah Digital Serang (Foto: dok. 1000 Cahaya/Fajar)

Di tengah perjalanan itu, Desty menemukan rumah gerakan yang lebih luas bersama ‘Aisyiyah. Melalui jaringan perempuan hingga tingkat akar rumput, ia melihat peluang memperkuat dampak. Bersama para ibu di ranting dan cabang, unit-unit bank sampah berbasis komunitas dibentuk. Isu lingkungan tidak lagi berhenti pada teknis pengelolaan, tetapi menjadi bagian dari dakwah sosial.

Perjumpaannya dengan Hening Parlan, Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, semakin memperluas cakrawala. Ketika program 1000 Cahaya digulirkan sebagai gerakan efisiensi dan transisi energi berbasis komunitas, Desty menjadi salah satu motor penggeraknya di daerah. Jika sebelumnya ia fokus pada sampah, kini ia berbicara tentang energi: tentang lampu yang dimatikan, token listrik yang dihemat, dan kebiasaan kecil yang berdampak besar.

Istilah “transisi energi” ia terjemahkan menjadi bahasa dapur. Bukan jargon teknis, melainkan percakapan sederhana tentang bagaimana agar listrik cukup sampai akhir bulan. Di setiap pengajian, ia menyisihkan waktu 30 menit membahas lingkungan. Dari majelis taklim ke pertemuan cabang, pesan itu menyebar. Seribu cahaya bukan metafora kosong, melainkan praktik sehari-hari.

Desty Eka Sari Putri, CEO Bank Sampah Digital Serang (Foto: Dok. 1000 Cahaya/Fajar)

Di rumah, nilai itu juga hidup. Desty adalah ibu dari tiga anak. Ia percaya perubahan paling awal lahir dari keluarga. Anak-anaknya terbiasa memilah sampah dan mengingatkan untuk mematikan lampu sebelum keluar kamar. Pendidikan lingkungan bukan ceramah, melainkan kebiasaan.

Sebagai Ketua RT perempuan pertama di lingkungannya, ia menghadirkan kepemimpinan yang membumi. Ketika warga mencari “Pak RT”, mereka belajar menyebut “Bu RT”. Simbol kecil yang menggeser persepsi tentang peran perempuan di ruang publik.

Di Provinsi Banten yang religius, Desty melihat tantangan besar sekaligus peluang. Agama dan lingkungan, menurutnya, tak boleh berjalan sendiri-sendiri. Nilai kebersihan harus menjelma praktik nyata dalam pengelolaan sampah dan energi.

Dari kampung yang dulu dipenuhi tumpukan limbah, kini tumbuh jejaring perubahan. Bank sampah berjalan, perempuan bergerak, dan 1.000 Cahaya menyala. Desty membuktikan, perubahan tak selalu lahir dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari satu karung sampah, satu pintu rumah, dan satu keberanian untuk bertanya.

Dan ketika satu cahaya itu dinyalakan, ia tak pernah benar-benar sendirian.***

One Response

  1. Kegiatan yg harus dicontoh dan dilakukan oleh ibu ibu bijak dalam memilah sampah dari Rumah menjadi berkah. Bisa karena biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *