
Dari layar ponsel seusai Tahajud, Deny Ana I’tikafia menyebarkan dakwah hemat energi yang kini menggerakkan ribuan perempuan di Jawa Tengah.
1000 CAHAYA – Jari – jemari Deny Ana I’tikafia rutin menari di atas layar ponselnya. Hampir setiap hari usai salat Tahajud, sembari menunggu Subuh tiba, ia menyempatkan diri membuat tulisan edukasi mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Melalui medium grup WhatsApp yang merangkul kader ‘Aisyiyah di 35 kabupaten se-Jawa Tengah, perempuan berdarah Yogyakarta itu membagikan opini, cerita pendek, dan kutipan pengingat.
Sebagai motor penggerak lingkungan di pimpinan ‘Aisyiyah, Deny sadar betul, untuk mengubah isi kepala manusia membutuhkan jalan panjang dan kesabaran. Ia pun merancang gerakannya secara bertahap.
Sebelum merambah isu energi, Deny lebih dulu menginisiasi Gerakan Muhammadiyah Peduli Sampah (GMPS) dan program penanaman pohon dengan sistem “pola asuh” di Jepara.
“Tidak sekadar menanam, sistem pola asuh itu mewajibkan penanam (kader/masyarakat umum) merawat pohon dan sayuran hingga tumbuh subur. Ini memberi dampak lingkungan untuk mitigasi bencana, sekaligus manfaat ekonomi untuk kebutuhan masak sehari-hari,” kata perempuan berusia 57 tahun itu kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).
Kini, fokus Deny melebar ke efisiensi energi. Salah satu gebrakan terbarunya digulirkan saat bulan puasa tiba Maret 2026 melalui kampanye Green Ramadan.
Dalam kampanye tersebut, Deny rutin mengirimkan pesan siaran (broadcast) kepada para kader di grup WA. Narasi yang ia bangun jelas: bumi yang rusak bukan semata-mata azab dari Tuhan, melainkan ulah manusia yang tidak mampu menahan rakusnya konsumsi, termasuk dalam pemakaian listrik sehari-hari.
Namun di lapangan, menggiring masyarakat untuk peduli pada hal remeh seperti mencabut colokan penanak nasi atau mematikan kipas angin sering kali berbenturan keras dengan apatisme.
“Duh, tulisan ini dibaca orang enggak, ya?” ungkapnya menceritakan keluh kesah kepada sang suami, Muhammad Tresno, terutama saat pesan panjangnya hanya berujung keheningan di grup WA.
Kerja-kerja literasi digital yang dilakukan Deny merupakan bagian dari agenda strategis ‘Aisyiyah melalui Program 1000 Cahaya Aksi Perempuan Jaga Bumi (Green Hero 1000 Cahaya). Program tersebut bertujuan memperkuat peran perempuan dalam transisi energi dan penyelamatan lingkungan.
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan program tersebut berfokus pada edukasi, penggunaan energi terbarukan, dan pengukuran jejak karbon untuk mewujudkan gaya hidup berkelanjutan berbasis rumah tangga.
“Perempuan punya posisi strategis dalam penyelamatan lingkungan. Green Hero 1000 Cahaya ini untuk merebut ruang paling krusial dalam konsumsi energi, yakni rumah tangga,” ujarnya.
Deny menyadari, tantangan terbesar bukan hanya datang dari masyarakat awam, tetapi juga dari kelompok terdidik yang memandang isu lingkungan sebagai persoalan sepele.
“Meskipun dia doktor sampai profesor pun, kalau tidak peduli, mereka akan bilang, ‘Apa sih yang dibicarakan kok sampah-sampah, lingkungan, hemat energi?” kenangnya.
Di sisi lain, kelompok masyarakat ekonomi bawah juga merasa penghematan listrik tidak memberikan dampak signifikan terhadap tagihan bulanan mereka. Kondisi tersebut membuat perempuan rumah tangga sering menjadi pihak yang paling terbebani untuk memastikan efisiensi energi berjalan.
Meski demikian, Deny menemukan secercah harapan dari seorang kader lansia ‘Aisyiyah bernama Sri Rahayu atau Yayuk di pesisir Pantai Semat, Jepara.
Yayuk mulai menerapkan kebiasaan hemat energi dari rumahnya sendiri. Ia mematikan lampu sejak pagi hari, membuka pintu rumah agar angin laut masuk alami, dan mengurangi penggunaan kipas angin.
“Wong di pinggir pantai kok ndadak pakai kipas angin, kalau pintunya dibuka kan angin bisa masuk semua,” tutur Yayuk.
Praktik sederhana itu ternyata berdampak nyata. Selama tiga tahun terakhir, pengeluaran listrik rumah Yayuk turun hingga 50 persen, dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp600 ribu per bulan.
Bagi Deny, kisah Yayuk membuktikan bahwa perubahan perilaku membutuhkan keteladanan dan proses yang panjang. Ia percaya kebiasaan hemat energi harus terus diulang hingga menjadi budaya sehari-hari.
“Awalnya pasti terasa kaku, tapi kalau dilatih terus akan menjadi refleks otomatis,” ujar Deny.
Program Green Hero 1000 Cahaya sendiri telah melaksanakan 25 aktivitas yang berdampak langsung kepada 3.646 orang. Melalui sekolah Training of Trainers (ToT), terbentuk 27 Green Leaders perempuan yang menjangkau lebih dari 8.000 warga secara langsung maupun tidak langsung.
Di tengah cibiran dan kelelahan, Deny memilih tetap melanjutkan dakwah lingkungannya melalui layar gawai. Baginya, membagikan pengetahuan tentang hemat energi merupakan bagian dari sedekah ilmu yang bermanfaat bagi sesama dan bumi.
“Sedekah itu tidak harus berupa uang, tapi ilmu yang bermanfaat,” pungkasnya.***
Sumber: IDN Times
Penulis: Dhana Kencana, Peserta Program Fellowship Journalist 1000 Cahaya 2026