Skip to main content

1000 Cahaya

Gas rawa dan panel surya menjadi jalan dua sekolah Muhammadiyah membangun kemandirian energi. Ruang pendidikan pun menjelma laboratorium transisi energi.

1000CAHAYA – Ada pemandangan yang tidak biasa di halaman parkir SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara atau SMA Muhamka di Kalibening, Jawa Tengah. Di sudut area sekolah berdiri dua tabung besar berwarna hijau tosca yang terhubung dengan jaringan pipa paralon dan kompresor.

Tabung tersebut bukan menyimpan elpiji, melainkan gas rawa atau biogenic shallow gas (BSG), salah satu sumber energi baru terbarukan yang dimanfaatkan sekolah untuk kebutuhan memasak di dapur mereka.

Kepala SMA Muhamka, Solikhin, mengenang awal mula penemuan gas tersebut pada 2019 ketika sekolah sedang melakukan pengeboran air bersih.

“Yang ngebor waktu itu menyalakan korek api, ternyata muncul gasnya. Semua panik karena belum pernah ada kejadian seperti itu,” kenangnya saat berbincang dengan Kompas.com.

Awalnya, keberadaan gas tersebut sempat dikhawatirkan berbahaya. Setelah melalui penelitian lebih lanjut oleh para ahli dan Dinas ESDM Jawa Tengah, akhirnya diketahui bahwa gas rawa tersebut memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif.

Namun, pengelola sekolah menghadapi tantangan teknis karena gas bercampur air dan memiliki tekanan rendah. Dengan dukungan hibah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sekitar Rp200 juta, sekolah kemudian membangun instalasi lengkap berupa separator, kompresor, jaringan pipa, dan kompor khusus.

Pada masa awal pengoperasian, instalasi tersebut bahkan sempat menyalurkan gas ke sekitar 20–25 rumah warga sekitar sekolah. Namun seiring waktu, warga mulai meninggalkan penggunaan gas rawa karena tekanan api yang kecil dan tidak stabil ketika dipakai bersama-sama.

Akhirnya, instalasi kini difokuskan untuk kebutuhan internal sekolah. Meskipun penghematan secara ekonomi belum terlalu besar, pihak sekolah menganggap kemandirian energi jauh lebih penting dibanding sekadar pengurangan biaya operasional.

“Kami tidak ingin terus bergantung pada LPG subsidi. Kenapa tidak memanfaatkan apa yang sudah diberikan alam di depan mata?” ujar Solikhin.

Sekolah bahkan memiliki cita-cita lebih besar untuk mengembangkan gas rawa menjadi sumber pembangkit listrik skala kecil di masa depan.

“Kami ingin menjadi percontohan bahwa sekolah bisa mandiri energi, tidak hanya untuk dapur, tetapi juga penerangan kelas, laboratorium, dan ruang guru,” tambahnya.

Selain mengembangkan gas rawa, SMA Muhamka juga sempat merancang pemasangan panel surya. Namun keterbatasan anggaran membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan.

Menurut Kepala Tata Usaha sekolah, Noto Listanto, keberadaan instalasi gas rawa telah menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa mengenai energi bersih dan kepedulian lingkungan.

“Anak-anak jadi tahu bahwa energi bersih itu ada di sekitar kita, tinggal mau mengolah atau tidak,” ujarnya.

Data Dinas ESDM Jawa Tengah tahun 2023 mencatat potensi gas rawa di provinsi tersebut mencapai sekitar 14,47 juta standard cubic feet (SCF). Banjarnegara sendiri memiliki potensi terbesar kedua setelah Pemalang dengan cadangan sekitar 1,53 juta SCF yang telah teridentifikasi.

SMAMIO Gresik 

Swan Lake yang berada tepat di samping bangunan SMAMIO Gresik menjadi ‘laboratorium’ bagi siswa-siswi untuk bereksperimen. (Dok. 1000 Cahaya/Fajar)

Kisah energi bersih lain datang dari SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik atau Smamio di Jawa Timur. Berbeda dengan SMA Muhamka yang memanfaatkan energi dari dalam tanah, Smamio memanen energi matahari melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sejak 2021, sekolah tersebut telah mengoperasikan PLTS on grid dengan 76 panel surya yang menghasilkan energi sekitar 25 kWp. Kehadiran panel surya mampu memenuhi hampir 25 persen kebutuhan listrik sekolah.

Kepala Smamio, Ulyatin Nikmah, mengatakan penggunaan PLTS berhasil menurunkan tagihan listrik sekolah dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp15 juta per bulan.

“Penggunaan listrik kami cukup besar karena sekolah punya lift. Kehadiran PLTS sangat membantu,” jelasnya.

Tidak hanya menghemat biaya, panel surya juga memicu lahirnya inovasi penelitian siswa terkait energi bersih. Dua siswi Smamio bahkan mengembangkan riset berbasis panel surya dan mikroalga untuk reduksi emisi karbon.

Bagi kedua sekolah Muhammadiyah tersebut, energi bersih bukan hanya soal teknologi atau penghematan biaya listrik. Lebih jauh dari itu, praktik tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter dan upaya menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda.

Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat belajar teori di ruang kelas, tetapi juga laboratorium hidup yang memperlihatkan bagaimana energi bersih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari gas rawa di pegunungan Banjarnegara hingga panel surya di atap sekolah Gresik, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa transisi energi dapat tumbuh dari ruang pendidikan dan menyala melalui keberanian komunitas lokal untuk mencoba hal-hal baru demi masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.***

 

Sumber: Kompas.com

Penulis: Irawan Sapto Adi, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *