
Pesantren tak lagi hanya menjadi ruang belajar agama. Di tengah krisis iklim, ia perlahan tumbuh sebagai laboratorium budaya hemat energi dan transisi energi bersih.
1000 CAHAYA – Pesantren selama ini dikenal sebagai ruang pendidikan agama yang lekat dengan tradisi kesederhanaan dan kehidupan kolektif. Namun di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan biaya energi yang terus naik, sejumlah pesantren mulai bergerak melampaui fungsi pendidikan keagamaan semata.
Mereka perlahan menjelma menjadi laboratorium sosial bagi praktik efisiensi energi dan transisi energi bersih berbasis komunitas.
Salah satu contohnya terlihat di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Jawa Barat. Pesantren tersebut mulai memanfaatkan panel surya untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik para santri dan aktivitas pendidikan sehari-hari.
Pimpinan pesantren menyadari bahwa kebutuhan energi terus meningkat seiring bertambahnya jumlah santri dan fasilitas pendidikan. Ketergantungan penuh pada listrik konvensional dinilai membuat operasional pesantren rentan terhadap kenaikan biaya energi.
Karena itu, penggunaan panel surya dipandang bukan hanya sebagai solusi teknis, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter dan kesadaran ekologis bagi para santri.
“Santri harus memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan,” ungkap salah satu pengelola pesantren.
Selain penggunaan energi surya, budaya hemat energi juga mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Para santri dibiasakan mematikan lampu, kipas angin, dan perangkat elektronik setelah digunakan.
Langkah-langkah sederhana tersebut dipandang penting karena perubahan perilaku menjadi fondasi utama dalam transisi energi berbasis komunitas.
Direktur Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam gerakan transisi energi karena menjadi ruang pendidikan yang membentuk kebiasaan hidup generasi muda.
Menurutnya, teknologi seperti panel surya memang penting, tetapi tidak akan efektif jika tidak diiringi perubahan perilaku pengguna energi.
“Kalau budaya hemat energinya tidak dibangun, teknologi hanya akan menjadi simbol,” ujarnya.
Di berbagai daerah, praktik serupa mulai tumbuh. Ada pesantren yang mengembangkan pengelolaan sampah, penghematan air, hingga penggunaan energi alternatif untuk dapur dan kebutuhan listrik harian.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar dengan investasi mahal. Dalam banyak kasus, perubahan justru dimulai dari kesadaran sederhana untuk menggunakan energi secara lebih bijak.
Penguatan budaya efisiensi energi di pesantren juga dinilai memiliki efek jangka panjang. Para santri yang terbiasa hidup hemat energi di lingkungan pendidikan berpotensi membawa kebiasaan tersebut kembali ke keluarga dan masyarakat setelah lulus.
Pakar energi terbarukan Rachmawan Budiarto menjelaskan bahwa komunitas memiliki peran penting dalam mempercepat transisi energi nasional.
Menurutnya, perubahan besar sering kali lahir dari praktik kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat lokal.
“Transisi energi bukan hanya soal kebijakan negara atau industri besar. Komunitas juga punya peran sangat penting,” jelasnya.
Namun demikian, pesantren masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan energi bersih. Biaya investasi awal panel surya yang cukup tinggi, keterbatasan literasi teknis, hingga prioritas kebutuhan dasar santri menjadi hambatan yang nyata.
Banyak pesantren harus lebih dahulu memastikan kebutuhan makan, pendidikan, dan fasilitas dasar terpenuhi sebelum memikirkan investasi teknologi energi.
Karena itu, dukungan kolaborasi dari pemerintah, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, dan sektor swasta dinilai penting agar lebih banyak pesantren mampu mengakses energi bersih.
Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sendiri hadir sebagai salah satu upaya mendorong transformasi tersebut. Program ini tidak hanya mendukung penggunaan energi bersih, tetapi juga memperkuat edukasi dan literasi energi di tingkat komunitas.
Melalui pendekatan berbasis rumah ibadah, sekolah, dan pesantren, program tersebut berusaha memperlihatkan bahwa transisi energi dapat tumbuh dari ruang-ruang sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, langkah kecil yang dilakukan pesantren mungkin terlihat sederhana. Namun dari ruang asrama, masjid, dan ruang belajar itulah kesadaran baru tentang hubungan manusia dengan bumi mulai dibangun.
Ketika santri belajar mematikan lampu setelah digunakan atau melihat panel surya bekerja di atap pesantren, mereka sedang belajar bahwa menjaga energi berarti juga menjaga masa depan kehidupan.***
Sumber: Kompas.com
Penulis: Irawan Sapto Adhi, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026