
Transisi energi tak cukup diajarkan di ruang kuliah. Sejumlah kampus Muhammadiyah mulai membuktikannya lewat praktik energi bersih dan budaya hemat energi di lingkungan akademik.
1000 CAHAYA – Perguruan tinggi selama ini dikenal sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Namun di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan kebutuhan transisi energi, sejumlah kampus mulai memainkan peran baru sebagai ruang praktik energi bersih dan laboratorium perubahan sosial.
Di berbagai daerah, kampus-kampus Muhammadiyah perlahan mengembangkan inisiatif energi bersih yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi biaya operasional, tetapi juga pendidikan lingkungan dan pembentukan budaya baru di lingkungan akademik.
Salah satu praktik tersebut terlihat dari penggunaan panel surya di sejumlah gedung kampus untuk mendukung kebutuhan listrik harian. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mengenalkan energi terbarukan kepada mahasiswa secara langsung.
Para pengelola kampus menyadari bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memberi contoh kepada masyarakat mengenai praktik pembangunan berkelanjutan.
“Kalau kampus bicara soal perubahan iklim tetapi tidak memberi contoh praktik nyata, mahasiswa juga akan sulit percaya,” ungkap salah satu pengelola kampus Muhammadiyah dalam wawancara dengan Kompas.com.
Selain penggunaan panel surya, beberapa kampus mulai menerapkan kebijakan penghematan energi di lingkungan internal. Penggunaan lampu LED, pengaturan pendingin ruangan, pemanfaatan pencahayaan alami, hingga kampanye pengurangan konsumsi listrik dilakukan secara bertahap.
Langkah tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi biaya listrik kampus yang terus meningkat, tetapi juga membentuk budaya sadar energi di kalangan civitas akademika.
Direktur Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mempercepat transisi energi karena menjadi ruang pembentukan pengetahuan dan perilaku generasi muda.
Menurutnya, mahasiswa bukan hanya calon tenaga kerja masa depan, tetapi juga agen perubahan sosial yang akan membawa nilai-nilai keberlanjutan ke tengah masyarakat.
“Kampus harus menjadi contoh hidup tentang bagaimana energi digunakan secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Beberapa kampus bahkan mulai mengintegrasikan isu energi bersih dan perubahan iklim ke dalam kegiatan penelitian mahasiswa. Berbagai riset mengenai energi surya, pengurangan emisi karbon, efisiensi bangunan, hingga inovasi teknologi ramah lingkungan mulai berkembang.
Praktik tersebut memperlihatkan bahwa transisi energi di lingkungan pendidikan tinggi tidak hanya berlangsung pada level infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran kritis mahasiswa.
Pakar energi terbarukan Rachmawan Budiarto menjelaskan bahwa kampus memiliki peluang besar untuk menjadi pusat inovasi energi bersih berbasis komunitas.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai ruang uji coba teknologi sekaligus pusat edukasi publik yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau kampus bergerak, dampaknya bisa menjalar ke masyarakat lebih luas karena kampus punya pengaruh sosial dan intelektual,” katanya.
Meski demikian, pengembangan energi bersih di lingkungan kampus masih menghadapi berbagai tantangan. Investasi awal pemasangan panel surya dan modernisasi sistem energi gedung membutuhkan biaya besar.
Selain itu, tidak semua kampus memiliki sumber daya teknis dan manajemen energi yang memadai untuk mengelola teknologi energi terbarukan secara optimal.
Namun demikian, berbagai praktik yang mulai tumbuh menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dan bertahap.
Di banyak kampus, perubahan perilaku seperti mematikan lampu ruang kelas kosong, mengurangi penggunaan pendingin ruangan berlebihan, dan memanfaatkan cahaya alami mulai diperkenalkan sebagai bagian dari budaya akademik baru.
Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sendiri berupaya memperkuat proses tersebut melalui pendekatan berbasis komunitas pendidikan dan rumah ibadah. Program ini menempatkan institusi pendidikan sebagai salah satu simpul penting dalam gerakan transisi energi nasional.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memproduksi teori. Kampus dituntut menjadi ruang praktik nyata yang menunjukkan bagaimana masyarakat dapat hidup lebih hemat energi, lebih ramah lingkungan, dan lebih bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.
Ketika panel surya mulai dipasang di atap gedung kampus dan mahasiswa mulai terbiasa menggunakan energi secara bijak, perguruan tinggi sedang menanamkan kesadaran baru bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga keberlanjutan kehidupan.***
Sumber: Kompas.com
Foto: Kompas.com/Irawan Sapto Adhi
Penulis: Irawan Sapto Adhi, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026