
Ketika panel surya di Pesantren Darul Arqam berhenti berfungsi, ikhtiar tak ikut padam. Pendampingan 1000 Cahaya Muhammadiyah menghidupkan kembali harapan energi bersih.
1000 CAHAYA – Sudah tujuh tahun, 64 pelat panel surya terpasang di atap bangunan asrama putri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Jawa Barat.
Instalasi ini menjadi salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) rooftop terbesar di Jawa Barat. Lokasinya dinilai ideal dengan sinar Matahari di Garut yang pada pukul 08.30 WIB sudah mulai terik, menyibak sejuk pagi menjadi hangat yang terasa di kulit.
“Di Jawa Barat itu ada 15 kalau PLTS. Di Banjar, Tasikmalaya, Cimadang, Cirebon, Sukabumi, Bandung, Cianjur, Bogor. Yang paling besar itu ada tiga. Yang dua saya lupa. Salah satunya ini yang paling besar. Iya, paling besar ini,” kata Kepala Bidang Rumah Tangga, Muhammad Noorjamil, saat ditemui Kompas.com, Kamis (9/4/2026).
Satu demi satu pelat pengubah energi Matahari menjadi listrik itu tersusun rapi di atas atap datar seluas 99 meter persegi. Dengan luas itu, teknologi ini dapat menyimpan kapasitas listrik hingga 20 kWp.
Papan informasi proyek yang berdiri sekitar dua meter dari Saklar Isolator DC panel surya mencatat bahwa PLTS itu dipasang pada 2019 atas bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM). Nilai bantuannya ditaksir Rp 500 juta.
Pemasangan dilakukan secara on-grid, yakni sistem PLTS terhubung langsung ke jaringan listrik PLN. Ponpes Darul Arqam tidak memerlukan baterai untuk mengoperasikan solar panel. Cukup memasang inverter yang akan mengubah energi surya menjadi Alternating Current (AC) listrik.
Selanjutnya, arus listrik yang dihasilkan langsung dialirkan ke bangunan di bawahnya untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Tagihan listrik susut hingga 30 persen
Pemasangan panel surya lekas menuai manfaat bagi pesantren. Jamil, begitu sapaan akrabnya mengatakan bahwa sejak dipasang, ponpes mampu menghemat tagihan listrik asrama putri sekitar 30 persen.
“Hampir 30-50 persen mengurangi beban pembiayaan listrik dari pesantren ini, khususnya buat dari asrama ini,” kata dia.
Jika dihitung secara keseluruhan, pesantren harus menanggung biaya tagihan listrik hingga Rp 30 juta per bulan. Oleh karena itu, keberadaan panel surya menjadi sangat penting untuk menekan pengeluaran rutin.
Namun, di balik manfaat tersebut, Jamil tak memungkiri bahwa sistem PLTS ini tidak lepas dari berbagai kendala.
Kendala pertama adalah keterbatasan literasi penggunaan panel surya yang membuat teknologi pengubah energi itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal.
Dia juga menilai, lokasi pemasangan panel surya di bagian belakang area pesantren kurang pas. Hal ini karena aktivitas penggunaan energi listrik di gedung tersebut sangat minim.
Para santriwati hanya menggunakan lampu sebagai penerangan di asrama putri. Sesekali mereka juga menggunakan setrika untuk keperluan penatu. Tidak ada aktivitas elektronik lainnya di sana.
“(Para santriwati) di sini hanya sebatas menggunakan lampu untuk penerangan dan setrika. Kalau pagi, anak-anak sudah keluar. Jadi waktu Matahari sudah muncul, listriknya ya sudah mati semua,” kata Jamil.
Awalnya panel surya rencananya akan dipasang di area rooftop perkantoran pesantren. Di sana, penggunaan energi listrik lebih tinggi karena ada aktivitas administrasi, seperti penggunaan komputer dan printer. Pendingin ruangan juga dipakai di area tersebut, meski jumlahnya tak seberapa.
Namun, karena mempertimbangkan kemudahan penyimpanan dan pemasangan, solar panel akhirnya dipasang di asrama putri.
Saat petir mematikan harapan, manfaat PLTS jadi beban
Petaka datang tanpa peringatan. Pada pertengahan 2025, sambaran petir merusak sistem PLTS di Ponpes Darul Arqam, Garut, Jawa Barat.
Puluhan pelat solar panel itu mati total.
Berbagai upaya perbaikan dilakukan. Teknisi pesantren berinisiasi mengganti komponen yang terbakar dan berkoordinasi dengan PLN. Namun, hasilnya di luar dugaan.
Tagihan listrik pesantren justru melonjak. Pesantren bahkan dituding melakukan manipulasi penggunaan listrik sehingga dikenai denda hingga puluhan juta rupiah.
“Kita harus mengganti kerugian hampir Rp 30 juta. Terus kami nego. Akhirnya sampai di Rp 6-7 juta,” tutur Saeful Bahar, teknisi PLTS Ponpes Darul Arqam.
Peristiwa itu membuat pengurus pesantren gamang. Mereka tak hanya kehilangan manfaat PLTS dengan kapasitas 20 kWp itu, tetapi juga dihadapkan pada risiko biaya tambahan jika ingin mengaktifkannya kembali.
Sejak saat itu, puluhan pelat panel yang dulu diandalkan justru menjadi sumber kekhawatiran.
Upaya 1000 Cahaya Muhammadiyah pulihkan manfaat panel surya
Masalah yang dihadapi pesantren Darul Arqam Garut tak luput dari perhatian program 1000 Cahaya Muhammadiyah.
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan perwakilan tim segera mengunjungi pesantren untuk melakukan pengecekan kondisi panel surya.
Dari pengecekan tersebut, tim menemukan empat penyebab utama panel surya tidak berfungsi, yaitu:
Pertama, lokasi pemasangan panel surya di asrama putri kurang optimal karena gedung tersebut kosong pada siang hari.
Kedua, pemasangan dengan sistem on-grid membuat pemantauan penggunaan energi solar panel tidak maksimal.
Ketiga, munculnya denda dan lonjakan tagihan listrik yang belum dipahami oleh pesantren.
Keempat, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola dan merawat panel surya.
Berangkat dari masalah tersebut, 1000 Cahaya Muhammadiyah memutuskan untuk membantu dan mendampingi pesantren agar bisa kembali memanfaatkan solar panel melalui edukasi dan pengembangan skill, salah satunya pengadaan manajer energi.
“Kita akan melakukan retrofitting fisik (perbaikan ulang sistem). Jadi, kita ingin melihat kembali ketidakmaksimalan fungsi dan memberikan solusi nyata, misalnya lewat pengadaan manajer energi,” kata Hening, saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Senin (13/4/2026).
Dari sinilah upaya pembenahan dimulai. Manajer energi akan bertugas memantau kebermanfaatan solar panel, mulai dari perawatan, penghitungan penggunaan energi tiap bulan, hingga evaluasi secara berkala.
Dengan begitu, harapannya sumber daya yang sempat mangkrak itu dapat dimanfaatkan kembali dengan optimal.
Hemat energi jadi laku hidup para santri
Lebih dari sekadar perbaikan teknologi, upaya optimalisasi energi di pesantren Darul Arqam juga mengubah perilaku para santri dalam kehidupan sehari-hari.
Fahira Sakila, santriwati yang duduk di kelas 11, mengatakan bahwa pelajaran tentang larangan mubazir dalam kurikulum pesantren tidak hanya berhenti di ruang kelas.
Konsep itu mulai melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Fahira mulai menyadari untuk menggunakan energi dengan bijak. Misalnya, menutup kran air setelah berwudhu dan mematikan lampu sebelum tidur.
“Di pesantren itu entah kenapa sekarang jadi lebih peka sama hal-hal kecil. Misal kalau habis wudhu kran air tidak ditutup rapat itu jadi kepikiran kalau nanti gara-gara ini satu asrama bisa kehabisan air,” kata dia.
Hal serupa juga dirasakan Haira. Santriwati yang duduk di kelas 11 ini juga mulai terbiasa memilah sampah saat melakukan kegiatan rutin Jumat Bersih. Dia juga dengan sadar menggunakan air secukupnya.
Dari kebiasaan sederhana itu, kesadaran untuk hidup hemat energi tumbuh tanpa terasa membebani.
Di Ponpes Darul Arqam, nilai-nilai tersebut berakar dari ajaran Islam yang menekankan keseimbangan dan larangan menggunakan sesuatu dengan berlebihan.
Sekretaris Ponpes Darul Arqam, Agung Gunawan, mengatakan prinsip tidak mubazir yang diajarkan dalam Al quran diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam menggunakan energi dan mengelola sumber daya.
“Kita tidak boleh mubazir. Allah juga tidak suka terhadap orang yang berlebih-lebihan. Nah, orang yang berlebih-lebihan itu kita definisikan bahwa dalam memakai sesuatu tidak sesuai dengan kadarnya, baik itu listrik maupun penggunaan alat-alat yang lainnya,” kata Agung, saat ditemui Kompas.com di ponpes.
“Dari hal-hal kecil itu mungkin santri tidak menyadari pada awalnya. Tapi lama-lama akan menjadi kebiasaan yang dibawa hingga ke rumah masing-masing,” tuturnya.
Perlahan, energi bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan Bumi.
Tak hanya melalui pemanfaatan teknologi, upaya pesantren Darul Arqam untuk menghemat energi juga diwujudkan dalam penggunaan mesin steam boiler dan budidaya maggot BSF.
Upaya-upaya ini diharapkan mampu melahirkan lulusan santri yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan bermanfaat bagi masyarakat.***
Sumber: Kompas.com
Foto: Kompas.com/Alinda
Penulis: Alinda Hardiantoro, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026