Skip to main content

1000 Cahaya

Di tengah ancaman krisis iklim, cahaya perubahan justru menyala dari akar rumput. Program 1000 Cahaya Muhammadiyah menjadikan masjid, sekolah, dan komunitas sebagai titik awal hijrah energi bersih.

1000 CAHAYA – Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, peran komunitas keagamaan tidak lagi bisa dipinggirkan. Justru dari ruang-ruang ibadah dan pendidikan, lahir gerakan sunyi yang mulai mengubah cara umat memandang energi, lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Di Indonesia, langkah itu kini menemukan bentuknya melalui inisiatif yang digagas oleh Muhammadiyah lewat Program 1000 Cahaya.

Program tersebut bukan sekadar jargon lingkungan, melainkan hadir sebagai gerakan nyata yang menghubungkan nilai keislaman dengan praktik keberlanjutan, dari masjid, sekolah, hingga komunitas akar rumput.

Di dalamnya, energi bersih, efisiensi sumber daya, dan kesadaran ekologis dirangkai menjadi satu narasi besar, yakni hijrah menuju peradaban yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.

Masjid At-Tanwir, Dari Ibadah ke Kesadaran Lingkungan

Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah di Jakarta Pusat menjadi salah satu contoh konkret bagaimana konsep “masjid hijau dan berkemajuan” diwujudkan. Masjid itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi praktik ramah lingkungan.

Pengelolaan air menjadi salah satu inovasi utamanya. Air bekas wudhu yang biasanya terbuang kini ditampung dan didaur ulang untuk berbagai kebutuhan non-ibadah, seperti menyiram tanaman hingga mencuci kendaraan.

Pendekatan tersebut mampu menghemat penggunaan air secara signifikan dan menunjukkan praktik ibadah dapat berjalan seiring dengan konservasi sumber daya.

Selain itu, masjid ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi alternatif.

Dengan dukungan desain bangunan yang memaksimalkan cahaya alami dan efisiensi energi, Masjid At-Tanwir berhasil mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Ini menjadi bukti bahwa rumah ibadah dapat berperan aktif dalam transisi energi bersih tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai pusat spiritual.

Lebih jauh, konsep masjid ini tidak berhenti pada aspek fisik. Kehadiran ruang perpustakaan, ruang pertemuan, dan desain vertikal menunjukkan bahwa masjid juga diposisikan sebagai pusat edukasi dan peradaban. Dengan demikian, nilai “at-tanwir” atau pencerahan benar-benar diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Sekolah Hijau, Energi Bersih dari Ruang Kelas

Transformasi serupa juga terlihat di sektor pendidikan. Di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, energi surya tidak hanya menjadi sumber listrik alternatif, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran.

Sekolah ini menjadikan panel surya sebagai sarana edukasi praktis bagi siswa, khususnya dalam memahami teknologi energi terbarukan.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Lebih dari itu, konsep sekolah hijau yang diusung tidak hanya menyasar aspek energi. Kesadaran lingkungan ditanamkan sebagai bagian dari karakter siswa, mulai dari efisiensi penggunaan listrik hingga pengelolaan sumber daya secara bijak.

Langkah ini penting karena transisi energi tidak akan berhasil tanpa dukungan generasi muda yang memiliki literasi ekologis. Sekolah, dalam hal ini, menjadi titik awal perubahan yang lebih luas.

Bank Sampah Digital, Dari Limbah Jadi Nilai

Di level komunitas, inovasi muncul melalui Bank Sampah Digital Banten. Inisiatif ini menghadirkan pendekatan teknologi dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Bank Sampah Digital memiliki mimpi agar lingkungan semakin bersih, dan masyarakat semakin sadar bahwa tanggung jawab memilah sampah dan mengurangi sampah itu bermula dari diri kita sendiri.

Melalui sistem digital, proses pengumpulan, pencatatan, hingga distribusi sampah menjadi lebih terorganisir dan transparan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Lebih penting lagi, pendekatan ini mengubah paradigma: dari sekadar membuang menjadi mengelola, dari beban menjadi peluang. Di sinilah teknologi berperan sebagai enabler, bukan tujuan akhir.

Gerakan Nyata, Bukan Sekadar Simbol

Ketiga contoh tersebut menunjukkan satu hal penting, yaitu gerakan ekologis Muhammadiyah tidak berhenti pada simbol atau wacana, tetapi hadir dalam praktik nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah Hening Parlan menegaskan gerakan tersebut berakar pada nilai keislaman yang berkelanjutan.

“Komitmen Muhammadiyah dalam transisi energi berkeadilan merupakan wujud dari semangat Green Al Ma’un yang diterjemahkan dalam nilai melalui Fikih Transisi Energi Berkeadilan, serta diwujudkan dalam aksi nyata yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, 1000 Cahaya Muhammadiyah telah menjalankan berbagai program berbasis efisiensi energi dan transisi energi di tingkat akar rumput.

“Sejauh ini, kami telah bekerja bersama 19 pondok pesantren, 20 ranting, 20 cabang, 12 masjid, dan 50 sekolah. Kami juga telah melatih sekitar 370 trainer efisiensi energi serta memberdayakan lebih dari 3.000 perempuan sebagai green heroes, serta menginisiasi puluhan panel surya pasca pelatihan,” jelas Hening.

Dakwah Ekologis dan Energi Berkeadilan

Program 1000 Cahaya tidak berhenti pada teknologi, tetapi membangun kesadaran kolektif berbasis nilai dan aksi nyata. Gerakan ini memadukan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin dengan pendekatan sains yang terukur dan berbasis komunitas.

Fokus utamanya jelas, yakni menghadirkan transisi energi yang adil dan inklusif, mendorong efisiensi melalui audit energi di masjid dan sekolah, serta menekan emisi karbon berbasis data yang terukur. Di saat yang sama, perempuan dan komunitas ditempatkan sebagai penggerak utama perubahan.

Pendekatan tersebut menegaskan transformasi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten, terukur, dan melibatkan banyak pihak.

Kesadaran Umat sebagai Kunci

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai pihak. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) MUI, Suhardin, menilai inisiatif ini sebagai langkah penting dalam membangun kesadaran kolektif umat.

“Jadi gerakan ini sangat komprehensif bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, mempromosikan penggunaan energi bersih dan terbarukan, serta mendorong efisiensi energi di masyarakat, yang dianggap sebagai tanggung jawab moral dan spiritual,” ujarnya.

Ia juga menegaskan aksi iklim harus menjadi bagian dari kesadaran umat, bukan sekadar formalitas.

“Kita harus melakukan gerakan pemuliaan lingkungan hidup dan aksi iklim itu adalah bagian daripada denyut kesadaran individual, denyut kesadaran komunitas, dan denyut kesadaran umat, dalam rangka kita melihat permasalahan bumi ini,” tegas Suhardin.

Hijrah Energi Lebih dari Sekadar Teknologi

Pada akhirnya, apa yang disebut sebagai “hijrah energi” bukan hanya soal beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Ia adalah transformasi nilai yang lebih dalam.

Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari eksploitasi menuju keberlanjutan. Dari ketidakpedulian menuju tanggung jawab.

Masjid, sekolah, dan komunitas kini menjadi titik awal perubahan itu. Jika sebelumnya perubahan energi dianggap sebagai domain industri dan negara, kini ia mulai bergerak dari akar rumput, dari umat itu sendiri.

Saatnya Umat Bergerak

Gerakan 1000 Cahaya telah menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Namun, ia tidak akan berarti tanpa partisipasi lebih luas.

Kini saatnya pengurus masjid mengadopsi konsep ramah lingkungan. Sekolah menjadikan energi bersih sebagai bagian dari Pendidikan. Komunitas mulai mengelola sampah secara bertanggung jawab. Individu mengubah kebiasaan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, melainkan bagian dari iman.

Dan jika satu cahaya sudah menyala, pertanyaannya sederhana: apakah kita siap menyalakan yang berikutnya?***

 

Sumber: inilah.com/Mozaik Islam

Foto: Inilah.com/Rana

Penulis: Rana Setiawan/Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *