Skip to main content

1000 Cahaya

Di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, Aisyiyah Boarding School Bandung, dan SD Aisyiyah Sukabumi, energi tak hanya menyalakan lampu, tetapi juga kesadaran.

1000 CAHAYA – Ada satu hal yang sering luput saat kita bicara soal energi: kita terlalu sibuk menyalakan listrik, tapi lupa menyalakan kesadaran. Setiap hari, jutaan saklar ditekan, lampu menyala, perangkat bekerja, aktivitas berjalan, tanpa pernah benar-benar dipertanyakan dari mana energi itu berasal dan apa dampaknya.

Padahal, di balik satu saklar kecil, ada rantai panjang eksploitasi sumber daya, emisi karbon, dan konsekuensi lingkungan yang tidak terlihat secara langsung.

Di titik inilah program 1000 Cahaya hadir dengan pendekatan yang berbeda: bukan sekadar menghadirkan listrik alternatif, tetapi menghidupkan kesadaran yang selama ini padam.

Direktur 1000 Cahaya, Hening Parlan, menegaskan bahwa persoalan energi hari ini bukan lagi soal teknis, melainkan soal cara pandang manusia terhadap kehidupan.

“Krisis iklim bukan sekadar krisis lingkungan, tapi krisis peradaban,” ujar Hening Parlan dalam pemaparannya, 30 Maret 2026.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Saat ini, sebagian besar listrik di Indonesia masih bergantung pada energi fosil, yang berarti setiap penggunaan listrik berkontribusi terhadap emisi karbon dan kerusakan lingkungan.

Di sisi lain, target energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru diproyeksikan mencapai sekitar 31 persen hingga 2050, angka yang menunjukkan bahwa transisi energi masih berjalan lambat.

Dalam skala Muhammadiyah saja, persoalan energi sudah terlihat nyata. Rata-rata satu sekolah mengonsumsi sekitar 308 kWh listrik per bulan, dengan biaya sekitar Rp449.223 atau Rp5,39 juta per tahun.

Jika dikalikan dengan sekitar 1.450 sekolah, total biaya listrik yang harus ditanggung mencapai sekitar Rp7,8 miliar setiap tahun, dan itu belum termasuk rumah sakit, universitas, serta amal usaha lainnya.

“Fokus kita bukan langsung membangun solar panel, tapi efisiensi dulu, efisiensi, efisiensi,” tegas Hening.

Bagi Hening, inilah inti dari Green Al-Ma’un, sebuah pendekatan yang menempatkan energi sebagai bagian dari kepedulian sosial, bukan sekadar kebutuhan teknis. Namun ide besar tidak akan berarti tanpa implementasi yang tepat.

Di sinilah perspektif akademik menjadi penting. Dosen Universitas Gadjah Mada, Rachmawan Budiarto, menjelaskan bahwa transisi energi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan komunitas sebagai aktor utama.

“Energi tidak diukur dari kapasitas terpasang, tapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan,” ujar Rachmawan dalam pemaparannya, 31 Maret 2026.

Ia menambahkan, banyak proyek energi gagal bukan karena teknologi, tetapi karena tidak adanya kapasitas lokal untuk mengelola dan merawatnya. Konsep yang ia sebut sebagai benefit sustainability menekankan bahwa energi harus berkelanjutan secara teknis, sosial, finansial, institusional, dan lingkungan.

Dengan kata lain, energi tidak boleh berhenti di alat, ia harus hidup dalam sistem dan manusia yang menggunakannya. Dan di Jawa Barat, tiga sekolah Muhammadiyah menunjukkan bagaimana teori itu diuji di lapangan, dengan tiga kondisi yang berbeda, namun saling melengkapi.

Garut: Ketika Energi Ada, Tapi Tidak Hidup

Di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, panel surya bukan hal baru. Sejak 2019, sistem energi dengan kapasitas 20 kWp sudah terpasang sebagai bantuan pemerintah. Namun selama bertahun-tahun, keberadaannya tidak memberikan dampak signifikan. Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada sistem yang tidak siap.

Wakil Direktur Sarana Prasarana, Supiyadi M.Pd, mengungkapkan bahwa tidak ada pendampingan teknis setelah instalasi dilakukan.

“Kami tidak punya pendampingan, jadi kami pikir panel ini tidak berfungsi,” ujarnya saat ditemui Rabu, 8 April 2026.

Panel ditempatkan di area asrama putri yang sulit dijangkau, sementara kebutuhan energi terbesar justru berada di area perkantoran.

Kabid Rumah Tangga, Muh Nurjamil S.P, menambahkan bahwa keterbatasan biaya juga menjadi kendala utama dalam pengembangan sistem, terutama untuk penyediaan baterai penyimpanan energi.

Tanpa sistem penyimpanan, energi yang dihasilkan tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, persoalan regulasi dengan PLN juga sempat menjadi hambatan, bahkan menyebabkan kerugian finansial bagi pesantren.

Namun situasi mulai berubah ketika 1000 Cahaya hadir pada akhir 2025. Pendampingan teknis yang diberikan membuka kembali potensi sistem yang sebenarnya masih berfungsi.

“Panelnya sebenarnya berfungsi dengan baik, tapi kami tidak tahu apakah itu bekerja atau tidak,” kata Agus Barkah S.Pd., M.Pd, Humas pesantren.

Garut menjadi contoh nyata bahwa energi tanpa kesadaran hanya akan menjadi benda mati, ada, tapi tidak hidup.

Bandung: Ketika Energi Ditanamkan Sebagai Nilai

Berbeda dengan Garut, di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung, energi tidak dimulai dari alat, tetapi dari nilai. Program sedekah energi yang dimulai sejak awal 2025 berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp15 juta dari wali murid dan donatur.

Dana ini akan digunakan untuk pemasangan panel surya yang direncanakan diluncurkan pada Mei 2026. Panel tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan pertanian seluas 5.000 meter persegi, yang menjadi bagian dari sistem pendidikan di pesantren.

Ketua Satgas Energi, Ust. Darojat, melihat energi sebagai sarana pembentukan karakter.

“Energi itu bukan hanya soal listrik, tapi bagaimana santri belajar merawat amanah,” ujarnya saat ditemui Kamis, 9 April 2026.

Di ABS, santri tidak hanya menjadi pengguna energi, tetapi juga penjaga dan pengelolanya. Mereka diajak memahami bahwa energi memiliki nilai, proses, dan tanggung jawab. Di titik ini, energi tidak hanya dinyalakan, tetapi dihidupi.

Sukabumi: Ketika Energi Menjadi Kebiasaan

Di SD Aisyiyah Sukabumi, pendekatan yang dilakukan lebih sederhana, tetapi justru paling membumi. Panel surya berkapasitas 800 watt telah digunakan sejak November 2025, dengan pendanaan dari sedekah energi sebesar Rp10,8 juta serta dukungan Rp1,5 juta dari 1000 Cahaya dan GreenFaith.

Energi yang dihasilkan digunakan untuk lampu perpustakaan, kantor, dan fasilitas charger. Namun dampak terbesarnya bukan pada listrik, melainkan pada perubahan perilaku.

Kepala Sekolah, Tanti Ramdhiyanti, S.Pd., menegaskan bahwa energi kini menjadi bagian dari pembelajaran.

“Anak-anak jadi lebih sadar. Mereka tahu listrik itu tidak datang begitu saja,” ujarnya saat ditemui Senin, 13 April 2026.

Salah satu siswa, Kayara, bahkan mulai memahami energi dari perspektif yang lebih luas.

“Kalau lampu nyala, itu ada proses panjang di baliknya, jadi kita harus hemat,” katanya.

Di Sukabumi, energi tidak diajarkan sebagai konsep besar, tetapi sebagai kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Menyalakan Kembali yang Selama Ini Padam

Dari Garut, Bandung, hingga Sukabumi, terlihat satu pola yang tidak bisa diabaikan: energi bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal kesadaran.

Garut menunjukkan bagaimana teknologi bisa gagal tanpa pemahaman. Bandung menunjukkan bagaimana kesadaran bisa dibangun sebelum teknologi hadir. Sukabumi menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil bisa menjadi fondasi perubahan.

Di antara ketiganya, 1000 Cahaya hadir bukan sekadar sebagai penyedia program, tetapi sebagai pemantik perubahan. Ia bekerja di titik yang sering dilupakan, bukan pada alat, tetapi pada manusia.

Jika panel surya adalah sumber energi, maka 1000 Cahaya adalah saklar yang menghidupkannya. Saklar yang tidak hanya menyalakan listrik, tetapi juga menyalakan kesadaran yang selama ini padam.

Karena pada akhirnya, krisis energi tidak akan selesai hanya dengan teknologi. Ia akan selesai ketika manusia mulai sadar, bahwa setiap energi yang digunakan adalah tanggung jawab.

Dan mungkin, perubahan besar itu memang tidak dimulai dari pembangkit listrik. Tapi dari satu saklar kecil yang akhirnya benar-benar dinyalakan.***

Sumber: HukamaNews.com

Foto: Hukamanews.com/Aji

Penulis: Aji dan Usie, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *