Transisi energi tak berhenti pada pemasangan panel surya. Kisah Ponpes Darul Arqam Garut menunjukkan, tantangan terbesar justru dimulai saat teknologi harus dikelola.
1000 CAHAYAMU – Di atas atap asrama putri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, puluhan panel surya berjajar rapi, diam-diam menyerap cahaya matahari setiap hari, namun tak sepenuhnya menghadirkan terang dalam sistem energi pesantren.
Sekilas, kehadiran panel surya itu terlihat seperti simbol kemajuan, modern, ramah lingkungan, dan menjanjikan kemandirian energi, tetapi di balik itu, tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks tentang teknologi yang datang lebih dulu daripada kesiapan manusia yang mengelolanya.
Panel surya tersebut merupakan hibah era pemerintahan Joko Widodo pada 2019, dengan kapasitas sekitar 20.000 watt peak (Wp), sebuah angka yang secara teknis cukup besar untuk menopang sebagian kebutuhan listrik di lingkungan pesantren.
Namun, sejak awal, sistem ini tidak pernah benar-benar berjalan optimal, bukan karena kerusakan alat, melainkan karena keterbatasan pemahaman dan pendampingan teknis yang diterima setelah pemasangan.
“Panelnya sebenarnya berfungsi dengan baik, tapi kami tidak tahu apakah itu bekerja atau tidak,” ujar Wadir Sarana Prasarana, Supiyadi M.Pd. saat ditemui Rabu (8/4/2026), menggambarkan situasi yang terjadi selama bertahun-tahun.
Pernyataan itu mencerminkan satu persoalan mendasar, teknologi tidak cukup hanya dipasang, tetapi juga harus dipahami, dirawat, dan dikelola agar benar-benar memberikan manfaat.
Di Darul Arqam, pelatihan yang diberikan saat awal pemasangan hanya bersifat dasar, sementara kebutuhan di lapangan jauh lebih kompleks, mulai dari perawatan rutin hingga pemahaman sistem distribusi energi.
Masalah lain muncul dari penempatan panel yang dinilai tidak strategis. Panel surya dipasang di area asrama putri, sementara aktivitas dengan kebutuhan listrik tinggi justru berada di area perkantoran dan ruang belajar.
Akibatnya, energi yang dihasilkan tidak termanfaatkan secara maksimal, karena di asrama sendiri penggunaan listrik relatif terbatas, bahkan sebagian besar perangkat elektronik tidak digunakan secara intensif.
“Penempatannya di asrama membuat pemanfaatannya tidak maksimal, karena justru di sana kebutuhan listriknya minim,” ungkap Kabid Rumah Tangga Darul Arqam, Muh. Nurjamil S.P..
Kondisi ini diperparah dengan akses yang sulit untuk melakukan perawatan. Panel yang berada di genting yang curam, membutuhkan tenaga khusus untuk pembersihan rutin, sementara jumlah petugas yang tersedia sangat terbatas.
Dalam praktiknya, panel surya membutuhkan perawatan minimal sebulan sekali agar penyerapan cahaya tetap optimal, tetapi keterbatasan sumber daya manusia membuat proses ini tidak berjalan konsisten.
Di sisi lain, sistem yang digunakan adalah on-grid, yang berarti energi dari panel surya tidak langsung digunakan secara mandiri, melainkan harus terhubung dengan jaringan PLN.
Artinya, tanpa sistem penyimpanan energi seperti baterai, listrik yang dihasilkan hanya efektif digunakan pada siang hari, sementara pada malam hari pesantren tetap bergantung penuh pada listrik konvensional.
Untuk beralih ke sistem off-grid yang lebih mandiri, pesantren membutuhkan baterai dengan kapasitas besar, yang biayanya tidak sedikit.
“Untuk ukuran panel seperti ini, baterainya saja bisa mencapai sekitar Rp250 juta,” kata Supriyadi, menjelaskan kendala utama dalam pengembangan sistem energi tersebut.
Biaya tersebut belum termasuk instalasi tambahan dan sistem pendukung lainnya, yang membuat upaya kemandirian energi menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren.
Permasalahan tidak berhenti di situ. Pada akhir 2025, terjadi kerusakan akibat sambaran petir yang merusak sistem PLTS di Ponpes Darul Arqam, Garut Jawa Barat yang kemudian memicu persoalan administratif dengan pihak PLN.
Akibat perbedaan perhitungan dan kurangnya pemahaman terhadap sistem, pesantren sempat diminta membayar hingga Rp32 juta sebagai bentuk penyesuaian biaya listrik selama beberapa tahun sebelumnya.
“Kami membantu energi, tapi justru harus membayar,” ungkap Humas Darul Arqam, Agus Barkah S.Pd., M.Pd., menggambarkan ironi yang terjadi dalam proses tersebut.
Setelah melalui proses negosiasi, angka tersebut akhirnya ditekan menjadi sekitar Rp7 juta, tetapi kejadian ini meninggalkan pelajaran penting tentang kompleksitas regulasi dan sistem energi yang belum sepenuhnya dipahami oleh pengguna.
Sejak saat itu, panel surya yang semula diharapkan menjadi solusi energi justru perlahan kehilangan perannya.
“Sekarang panel itu seperti hanya jadi aksesoris asrama, ada, tapi belum terasa manfaatnya,” ujar Agus, dengan nada yang mencerminkan antara harapan dan kekecewaan.
Namun, situasi ini tidak berhenti pada titik tersebut.
Pada akhir 2025, program 1000 Cahaya hadir ke Darul Arqam Garut dengan pendekatan yang berbeda, tidak hanya fokus pada alat, tetapi juga pada sistem dan pemahaman.
Tim dari 1000 Cahaya melakukan observasi langsung, mengecek kondisi panel, serta memberikan arahan teknis terkait potensi pemanfaatan kembali sistem yang sebenarnya masih berfungsi.
Dari hasil pendampingan tersebut, terungkap bahwa panel surya di Darul Arqam tidak pernah benar-benar rusak, melainkan hanya tidak dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala yang ada.
Pendekatan ini membuka kembali peluang bahwa sistem energi tersebut masih bisa dihidupkan, bahkan dikembangkan menjadi lebih efektif jika didukung dengan perbaikan manajemen, penempatan, dan pemahaman.
Lebih dari itu, kehadiran 1000 Cahaya juga membawa pesan yang lebih luas, bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesadaran dan kolaborasi.
Dalam konteks ini, pesan yang diusung, “Jangan mengutuk kegelapan, jadilah cahaya”, menjadi relevan dengan kondisi yang dihadapi Darul Arqam.
Alih-alih melihat keterbatasan sebagai akhir, pesantren justru didorong untuk melihatnya sebagai titik awal untuk memperbaiki dan mengoptimalkan potensi yang sudah ada.
Cerita Darul Arqam Garut menunjukkan bahwa dalam transisi energi, tantangan terbesar seringkali bukan pada alat, tetapi pada sistem yang mengelilinginya, mulai dari pengetahuan, sumber daya manusia, hingga regulasi.
Namun di balik semua itu, terdapat satu hal yang menjadi kunci: kesadaran untuk terus mencoba dan memperbaiki.
Karena pada akhirnya, panel surya bukan hanya soal menghasilkan listrik, tetapi tentang bagaimana manusia memilih untuk mengelola, merawat, dan memanfaatkannya demi keberlanjutan.
Dan mungkin, di Darul Arqam Garut, cahaya itu memang belum sepenuhnya terang. Tetapi setidaknya, ia belum padam.***
Sumber: HukamaNews.com
Foto: Hukamanews.com/Aji
Penulis: Aji dan Usie, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026
