Skip to main content

1000 Cahaya

Di Aisyiyah Boarding School Bandung, transisi energi dimulai bukan dari panel surya, melainkan dari kesadaran. Teknologi menyusul setelah manusia siap mengelolanya.

1000 CAHAYAMU – Kamis, 9 April 2026, suasana di Aisyiyah Boarding School Bandung belum memperlihatkan deretan panel surya yang terpasang di atap bangunan atau lahan terbuka, namun percakapan tentang energi justru terasa hidup di antara para pengelola dan santri.

Di tempat ini, energi tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari kesadaran yang dibangun perlahan melalui pendidikan, kebiasaan, dan partisipasi kolektif yang melibatkan banyak pihak.

Berbeda dengan banyak program energi terbarukan yang dimulai dari pemasangan alat, di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung, prosesnya berjalan sebaliknya: kesadaran dibangun lebih dulu, sebelum teknologi benar-benar hadir dan digunakan.

Melalui kolaborasi dengan program 1000 Cahaya, ABS Bandung mulai menginisiasi gerakan sedekah energi sejak awal 2025, sebuah pendekatan yang tidak hanya mengandalkan pendanaan institusi, tetapi juga partisipasi komunitas.

Dana tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk santri, wali murid, serta jejaring Muhammadiyah, yang secara bertahap dihimpun untuk mewujudkan instalasi panel surya di lingkungan pesantren.

Hingga awal April 2026, dana yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp15 juta, dan akan digunakan untuk mendukung pemasangan panel surya yang direncanakan mulai diluncurkan pada Mei 2026.

Panel surya tersebut tidak akan langsung digunakan untuk kebutuhan listrik utama bangunan, melainkan difokuskan terlebih dahulu pada pengairan lahan pertanian seluas 5.000 meter persegi yang dikelola oleh pesantren.

Lahan tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di ABS, di mana santri tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga terlibat dalam aktivitas pertanian yang mencakup penanaman sayur dan buah, seperti markisa dan mangga.

“Di sini kehidupan berjalan 24 jam, artinya penggunaan energi juga harus dipahami, bukan sekadar dipakai,” ujar Ust. Darojat, Ketua Satgas Energi ABS Bandung, saat ditemui dalam kegiatan liputan.

Menurutnya, keterlibatan santri dalam isu energi bukan hanya soal teknis, tetapi bagian dari pendidikan yang akan mereka bawa ke masyarakat setelah lulus.

Santri didorong untuk memahami bagaimana energi digunakan, bagaimana menghematnya, serta bagaimana memanfaatkannya secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini membuat energi tidak lagi menjadi sesuatu yang “tidak terlihat”, melainkan bagian dari kesadaran yang terus dilatih dalam keseharian di lingkungan pesantren.

Dalam konteks Green Al-Ma’un, pendekatan ini memiliki makna yang lebih luas, karena energi dipandang sebagai bagian dari kebermanfaatan yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada lingkungan dan masyarakat.

“Santri bukan hanya menggunakan energi, tapi harus tahu bagaimana memanfaatkannya secara bijak,” kata Ust. Darojat.

Namun, proses menuju pemanfaatan energi terbarukan ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan.

Hingga saat liputan dilakukan, panel surya belum terpasang secara fisik, dan masih berada dalam tahap persiapan serta perencanaan teknis.

“Untuk sekarang panelnya memang belum terpasang, rencananya akan mulai direalisasikan pada bulan Mei,” jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi di ABS masih berada pada fase awal, di mana kesadaran dan sistem sedang dibangun sebelum teknologi benar-benar diimplementasikan.

Selain itu, tantangan teknis seperti sistem penyimpanan energi (baterai) dan regulasi penggunaan listrik berbasis panel surya juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan ke depan.

“Kendala terbesar biasanya mungkin nanti di baterai dan regulasi, karena sejauh yang saya ketahui, sistemnya masih berkembang di Indonesia,” tambahnya.

Meski demikian, ABS tidak menunggu semua sistem sempurna untuk mulai bergerak.

Sebagai langkah awal, mereka membentuk Satgas Eco Pesantren, sebuah tim yang bertugas melakukan edukasi, monitoring, dan evaluasi terkait program lingkungan dan energi.

Tim ini secara berkala melakukan peninjauan, mulai dari kegiatan kecil hingga program jangka panjang, untuk memastikan bahwa kesadaran yang dibangun tidak berhenti di satu titik.

“Paling tidak sebulan sekali kita lakukan peninjauan, dan untuk jangka panjang bisa sampai satu semester,” ujarnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa bagi ABS, energi bukan hanya soal pemasangan alat, tetapi juga soal keberlanjutan dalam pengelolaan dan pemanfaatannya.

Dalam pandangan mereka, sebuah fasilitas tidak bisa disebut benar-benar “hidup” hanya karena telah terpasang, tetapi ketika manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.

“Sebuah fasilitas itu bisa disebut hidup ketika manfaatnya benar-benar terasa,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penting, terutama jika dibandingkan dengan banyak kasus di mana teknologi terpasang tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal.

Di ABS, pendekatan yang dilakukan justru berusaha menghindari hal tersebut, dengan memastikan bahwa ketika panel surya benar-benar dipasang, sistem dan kesadaran sudah siap untuk mendukungnya.

Dalam konteks yang lebih luas, program sedekah energi juga menjadi refleksi dari bagaimana konsep filantropi berkembang dalam isu lingkungan.

“Menyalakan listrik mungkin hanya menerangi satu tempat, tapi menyalakan kebermanfaatan bisa memantik banyak orang,” kata Ust. Darojat.

Pernyataan ini menggambarkan bahwa energi tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan teknis, tetapi juga sebagai medium untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas.

Melalui partisipasi kolektif, energi menjadi sesuatu yang dimiliki bersama, dijaga bersama, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

Jika ditarik ke konsep yang lebih sederhana, saklar mungkin hanya berfungsi untuk menyalakan atau mematikan listrik.

Namun di Aisyiyah Boarding School Bandung, yang sedang dinyalakan bukan hanya listrik, melainkan kesadaran yang lebih besar tentang bagaimana energi seharusnya digunakan.

Panel surya mungkin belum terpasang, tetapi proses menuju ke sana sudah berjalan.

Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatan sebenarnya, bukan pada seberapa cepat teknologi hadir, tetapi pada seberapa siap manusia untuk menggunakannya dengan bijak.***

Sumber: HukamaNews.com

Foto: Hukamanews.com/Aji

Penulis: Aji dan Usie, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *