
Satu panel surya telah menjadi awal transisi energi di SD Aisyiyah Sukabumi. Namun, perubahan terbesar justru sedang dibangun di ruang kelas dan kebiasaan sehari-hari.
1000CAHAYA – Suasana SD Aisyiyah Kota Sukabumi terlihat seperti hari-hari biasa pada Senin pagi, 13 April 2026. Siswa datang dengan seragam rapi, guru menyambut di depan kelas, dan aktivitas belajar berjalan sebagaimana mestinya.
Namun di balik rutinitas itu, ada satu perubahan kecil yang sedang diupayakan, mengenalkan energi dari sumber yang berbeda kepada generasi sejak dini. Tepat di atap bangunan terdepan sekolah, sebuah panel surya berkapasitas 800 watt peak (Wp) telah terpasang.
Panel ini tidak besar, tidak mencolok, dan mungkin tidak langsung menarik perhatian bagi yang tidak tahu. Namun dari panel inilah, listrik dialirkan untuk beberapa kebutuhan dasar, seperti lampu perpustakaan, ruang tata usaha (TU), serta fasilitas pengisian daya ponsel bagi guru dan staf sekolah. Ke depan, sistem ini juga direncanakan untuk mendukung operasional CCTV.
Secara teknis, energi di sekolah ini sudah mulai beralih. Saklar telah ditekan. Namun pertanyaannya, apakah dampaknya sudah benar-benar terasa?
Energi Sudah Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Dimanfaatkan
Kepala SD Aisyiyah Kota Sukabumi, Tanti Ramdhiyanti, S.Pd, menjelaskan bahwa keberadaan panel surya di sekolah ini masih berada pada tahap awal implementasi.
Penggunaannya masih terbatas pada beberapa titik, dan belum menjangkau keseluruhan aktivitas sekolah.
“Untuk saat ini, kita baru memaksimalkan di lampu dan tempat charger saja,” ujar Tanti saat ditemui dalam kegiatan liputan program 1000 Cahaya, Senin (13/4/2026).
Dengan kapasitas 800 Wp, sistem ini memang belum dirancang untuk menopang seluruh kebutuhan listrik sekolah.
Sebagai gambaran, satu lampu LED 18 watt yang menyala selama delapan jam hanya mengonsumsi sekitar 0,144 kWh per hari. Jika dikalikan dengan beberapa titik lampu dan perangkat kecil lainnya, maka energi yang dihasilkan panel surya ini masih dalam skala terbatas.
Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan satu tujuan yang lebih besar: membangun kesadaran sejak dini.
Di dalam kelas, isu energi mulai diperkenalkan kepada siswa melalui berbagai metode pembelajaran. Mulai dari ceramah, diskusi, hingga pendekatan berbasis pemecahan masalah. Namun pemahaman yang terbentuk belum sepenuhnya mendalam.
“Kalau kelas bawah itu baru dikenalkan. Kalau kelas atas sudah mulai memahami, tapi belum memahami secara keseluruhan,” kata Tanti.
Artinya, siswa sudah mengenal apa itu panel surya dan fungsinya, tetapi belum sepenuhnya memahami bagaimana sistem tersebut bekerja atau dampaknya terhadap lingkungan.
Hal ini juga terlihat dari cara siswa menjelaskan energi yang mereka gunakan. Salah satu siswa duta lingkungan, Kayara, menyebut bahwa listrik dari panel surya berasal dari matahari dan digunakan untuk alat-alat listrik.
“Dari matahari… jadi nyala,” ujarnya sederhana.
Jawaban ini menunjukkan bahwa konsep dasar sudah dipahami, tetapi belum berkembang menjadi kesadaran yang lebih dalam tentang proses dan dampak energi.
Salah satu tantangan terbesar dalam program ini bukanlah teknologi, melainkan perubahan perilaku. Sekolah telah memasang berbagai pengingat untuk hemat energi, bahkan sebelum panel surya hadir. Namun mengubah kebiasaan tetap menjadi proses yang tidak mudah.
“Tantangannya banyak, termasuk dari guru juga. Membangun kesadaran itu tidak mudah,” ungkap Tanti.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya dituntut dari siswa, tetapi juga dari seluruh ekosistem sekolah. Kesadaran tidak bisa dibangun secara instan, dan tidak cukup hanya melalui teori di dalam kelas. Diperlukan contoh nyata, konsistensi, serta keterlibatan semua pihak agar kebiasaan baru dapat terbentuk.
Di sisi lain, beberapa perilaku hemat energi sebenarnya sudah mulai terlihat di kalangan siswa. Kayara menyebut bahwa ia dan teman-temannya terbiasa mematikan lampu dan air ketika tidak digunakan.
“Mematikan lampu… mematikan air,” ujarnya.
Namun kebiasaan ini belum sepenuhnya dikaitkan dengan keberadaan panel surya atau konsep energi terbarukan. Artinya, perilaku sudah ada, tetapi belum terhubung dengan pemahaman yang lebih luas tentang energi. Di sinilah letak tantangan berikutnya: menghubungkan tindakan sehari-hari dengan makna di baliknya.
Dalam pandangan pihak sekolah, program ini belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari keberadaan alat, tetapi dari sejauh mana seluruh warga sekolah memahami dan memanfaatkannya.
“Kalau semua bisa memahami, menggunakan, dan tahu manfaatnya, itu baru bisa dikatakan berhasil,” jelas Tanti.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sekolah menyadari posisi mereka saat ini: masih dalam proses. Panel surya bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai perubahan yang lebih besar.
Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, apa yang terjadi di SD Aisyiyah Sukabumi menunjukkan satu hal penting dalam transisi energi, bahwa keberadaan teknologi tidak otomatis menghasilkan perubahan.
Panel surya sudah terpasang. Energi sudah mengalir. Namun tanpa pemahaman dan kesadaran yang kuat, dampaknya tidak akan maksimal. Inilah yang membedakan antara sekadar menggunakan energi dan benar-benar memahami energi.
Program yang dijalankan di sekolah ini merupakan bagian dari gerakan 1000 Cahaya, yang mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus edukasi lingkungan berbasis komunitas.
Namun di lapangan, implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pengenalan, pemahaman, hingga pembentukan kebiasaan.
Dalam konteks ini, panel surya di SD Aisyiyah Sukabumi bukan hanya sumber energi, tetapi juga alat belajar. Ia menjadi titik awal bagi siswa untuk memahami bahwa energi tidak datang begitu saja, dan bahwa setiap penggunaan memiliki konsekuensi.
Di SD Aisyiyah Sukabumi, saklar sudah ditekan. Lampu sudah menyala. Energi sudah mulai digunakan dari sumber yang lebih ramah lingkungan. Namun perjalanan belum selesai.
Yang sedang dibangun bukan hanya sistem energi, tetapi kesadaran kolektif yang akan menentukan bagaimana energi itu digunakan di masa depan.
Seperti yang disampaikan Tanti, “Solar panel adalah langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih, hemat, dan berkelanjutan.”
Kalimat itu bukan sekadar harapan, tetapi arah yang sedang diupayakan. Dan mungkin, perubahan memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Terkadang, ia dimulai dari satu panel kecil di sudut sekolah, yang perlahan menyalakan bukan hanya listrik, tetapi juga cara pandang baru terhadap energi.***
Sumber: HukamaNews.com
Foto: Hukamanews.com/Aji
Penulis: Aji dan Usie, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026