
Audit energi Gedung PP Muhammadiyah menjadi bukti bahwa transisi energi dapat dimulai dari rumah sendiri. Praktik 1000 Cahaya menarik perhatian Viriya ENB.
1000CAHAYAMU — “Praktik baik yang dilakukan 1000 Cahaya Muhammadiyah menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari perubahan nyata di tingkat institusi dan komunitas. Yang penting bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran, kapasitas, dan model yang dapat direplikasi agar dampaknya semakin luas.”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Executive Director Viriya ENB, Suzanty Sitorus, dalam Temu Mitra Viriya ENB 2026 di Bali, Senin (12/10/2026). Ia menegaskan, transisi energi tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi, tetapi juga perlu diiringi perubahan cara pandang, penguatan kapasitas, dan penerapan praktik berkelanjutan.
Salah satu contoh baik yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah adalah Program 1000 Cahaya. Inisiatif ini mendorong efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan melalui pendekatan berbasis komunitas, mulai dari pesantren, sekolah, masjid, hingga berbagai amal usaha Muhammadiyah.
Praktik tersebut kini juga menyentuh Gedung Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Tim auditor telah melakukan audit energi untuk memeriksa penggunaan listrik dan mengidentifikasi peluang penghematan. Langkah ini menjadi pijakan untuk menyusun rekomendasi perbaikan berdasarkan kondisi aktual gedung.
Audit energi menunjukkan bahwa transisi energi tidak harus dimulai dengan pemasangan panel surya. Mengenali pola konsumsi listrik, menemukan pemborosan, dan memperbaiki cara penggunaan energi merupakan langkah awal yang tak kalah penting.
Dari nilai keislaman menjadi aksi nyata
Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan transisi energi yang dibangun Muhammadiyah berakar pada nilai-nilai keislaman yang diterjemahkan ke dalam tindakan konkret.
“Komitmen Muhammadiyah dalam transisi energi berkeadilan merupakan wujud dari semangat Green Al Ma’un yang diterjemahkan dalam nilai melalui Fikih Transisi Energi Berkeadilan, serta diwujudkan dalam aksi nyata yang berkelanjutan,” ujar Hening.
Bagi Hening, perubahan tidak cukup hanya berhenti pada pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, 1000 Cahaya tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi energi bersih, tetapi juga memperkuat kapasitas komunitas agar mampu mengelola energi secara lebih bijaksana. Pesantren, misalnya, menjadi salah satu titik penting karena budaya hemat energi yang tumbuh di lingkungan pendidikan berpeluang dibawa oleh para santri ke rumah dan masyarakat.
Menurut Hening, program ini telah bekerja sama dengan 19 pondok pesantren, 20 ranting, 20 cabang, 12 masjid, dan 50 sekolah. Program tersebut juga telah melatih sekitar 370 fasilitator efisiensi energi serta memberdayakan lebih dari 3.000 perempuan sebagai green heroes.
Capaian itu menunjukkan bahwa gerakan energi bersih dapat tumbuh melalui pendidikan, pengorganisasian komunitas, dan kepemimpinan lokal. Teknologi menjadi bagian dari solusi, sementara perubahan perilaku dan kemampuan masyarakat menjaga keberlanjutan program menjadi fondasi penting.
Audit energi, dari mengenali pemborosan hingga menemukan solusi
Wakil Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah, Dr. Sudarto M. Abukasim, menilai audit energi merupakan langkah strategis untuk memahami pola konsumsi listrik sekaligus menemukan peluang efisiensi yang selama ini mungkin terabaikan.
Bagi institusi yang menggunakan listrik secara terus-menerus, seperti rumah sakit dan lembaga pendidikan, pengelolaan energi yang tidak tepat dapat meningkatkan biaya operasional. Audit membantu pengelola mengetahui kebutuhan energi secara lebih terukur dan menentukan perbaikan yang sesuai.
Dalam konteks rumah sakit Muhammadiyah, Sudarto melihat respons positif terhadap rencana audit energi yang diperkenalkan di PKU Muhammadiyah Gamping pada akhir 2025. Sejumlah rumah sakit lain bahkan telah menyatakan minat untuk mengikuti langkah serupa.
Pendekatan ini menegaskan bahwa efisiensi energi bukan semata-mata upaya mengurangi tagihan listrik. Penghematan harus dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan operasional dan keselamatan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan yang membutuhkan pasokan energi yang berkelanjutan.
Audit energi di Gedung PP Muhammadiyah menjadi contoh penerapan pendekatan tersebut di lingkungan organisasi. Tahap selanjutnya adalah menindaklanjuti rekomendasi auditor, mengukur hasil penghematan, dan mendokumentasikan pembelajaran agar dapat dimanfaatkan oleh institusi lain.
Memperluas dampak
Dukungan Viriya ENB memberikan ruang bagi pengembangan inisiatif efisiensi energi dan energi terbarukan di lingkungan Muhammadiyah. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan praktik yang telah berjalan dapat berkembang menjadi sistem yang berkelanjutan.
Audit energi harus diikuti dengan tindakan nyata. Pelatihan perlu melahirkan agen perubahan di tingkat komunitas. Sementara itu, pengalaman dari satu gedung, sekolah, pesantren, atau rumah sakit perlu didokumentasikan dan dievaluasi agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi institusi lain.
Bagi Muhammadiyah, jaringan amal usaha yang tersebar di berbagai daerah membuka peluang untuk memperluas praktik tersebut. Meski demikian, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi teknis, dan kemampuan masing-masing institusi.
Pengalaman 1000 Cahaya menunjukkan bahwa transisi energi dapat tumbuh dari kebutuhan nyata di tingkat komunitas, lalu diperkuat melalui kolaborasi dan dukungan dari mitra. Perubahan yang dimulai dari pengelolaan listrik sehari-hari berpotensi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh jumlah panel surya yang terpasang. Ukurannya juga terletak pada kemampuan institusi untuk mengurangi pemborosan, membangun kebiasaan baru, dan memastikan manfaat perubahan dapat dirasakan dalam jangka panjang.***