
Di tengah krisis sampah dan deforestasi, PRM Patangpuluhan di Wirobrajan, Yogyakarta, bergerak lewat lorong sayur, shodaqoh sampah, komposter, dan biopori.
1000 CAHAYA – Masalah lingkungan di Indonesia semakin mendesak perhatian. Dengan predikat sebagai salah satu penghasil sampah terbesar kedua di dunia setelah China, Indonesia menghasilkan lebih dari 70 juta ton sampah setiap tahunnya, di mana hampir 10 juta ton adalah sampah plastik. Ditambah dengan hilangnya ratusan ribu hektar hutan setiap tahun akibat deforestasi, tantangan lingkungan ini menuntut langkah nyata yang berkelanjutan.
Di tengah isu besar ini, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Patangpuluhan di Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, menunjukkan aksi konkret yang menginspirasi. Dipimpin oleh Heri Setyawan, PRM Patangpuluhan meluncurkan berbagai program berbasis komunitas yang bertujuan mengatasi kerusakan lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat.
Berikut adalah beberapa upaya PRM Patangpuluhan melalui program pengelolaan sampah dan penghijauan yang bertujuan menekan kerusakan lingkungan, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan memberdayakan warga dalam pengelolaan sampah.

1. Mengubah Lorong Menjadi Hijau dengan “Lorong Sayur”
Salah satu inisiatif andalan PRM Patangpuluhan adalah Lorong Sayur, yang mengubah gang-gang sempit menjadi lahan produktif. Warga menanam berbagai sayuran organik seperti bayam, kangkung, cabai, hingga tomat di lahan terbatas. Selain memperbaiki lingkungan, hasil panen dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari dan dijual untuk mendanai kegiatan sosial.
“Kami ingin memanfaatkan lahan yang terbatas secara optimal, sembari membangun kesadaran akan pentingnya gaya hidup berkelanjutan,” ujar Heri.
Program ini bukan hanya menciptakan ruang hijau di lingkungan perkotaan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga melalui kerja sama dalam perawatan tanaman.
2. Mengolah Sampah Menjadi Berkah dengan “Shodaqoh Sampah”
Program Shodaqoh Sampah mengajak warga untuk menyumbangkan sampah plastik dan kertas yang mereka kumpulkan. Sampah ini kemudian dijual, dan hasilnya digunakan untuk mendukung kegiatan sosial seperti bantuan pendidikan. Inisiatif ini tidak hanya memberikan solusi bagi masalah penumpukan sampah tetapi juga memperkuat solidaritas dan kesejahteraan masyarakat.
“Sampah yang selama ini menjadi masalah ternyata bisa menjadi berkah,” tambah Heri. Dengan pendekatan ini, masyarakat diajak untuk melihat nilai dari sampah sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan sosial.
3. Penggunaan Komposter Tumpuk

Untuk sampah organik, PRM Patangpuluhan mempromosikan penggunaan komposter tumpuk. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang digunakan untuk penghijauan atau kebutuhan pertanian kecil.
Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir, tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.
4. Pembuatan Biopori
Program biopori merupakan langkah penting dalam pengelolaan air. Lubang resapan biopori ini membantu menyerap air hujan, mencegah banjir, dan memperbaiki kualitas tanah.
Langkah ini sangat relevan untuk kota seperti Yogyakarta, yang menghadapi tantangan genangan air dan minimnya ruang terbuka hijau.
Tiga Pilar Utama Gerakan
Kesuksesan gerakan yang dilakukan oleh PRM Patangpuluhan ini bertumpu pada tiga pilar utama: edukasi, motivasi, dan implementasi.
Edukasi diberikan kepada masyarakat tentang pemahaman pentingnya menjaga lingkungan dan cara-cara praktis untuk melakukannya.
Motivasi diberikan melalui penguatan nilai kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar merasa memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam dan menginspirasi mereka untuk berperan aktif dalam perubahan
Sementara itu, implementasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam tindakan nyata, memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif dan berkelanjutan. Pendekatan ini mengedepankan perubahan perilaku masyarakat yang tidak hanya berbasis pengetahuan, tetapi juga dalam kebiasaan dan tindakan nyata di lapangan.
Dukungan untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Gerakan hijau PRM Patangpuluhan diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Indonesia. Dengan pendekatan berbasis komunitas dan dukungan dari berbagai pihak, langkah ini menunjukkan bahwa perubahan kecil di tingkat lokal dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan.
Heri dan timnya berharap agar Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah terus mendukung inisiatif serupa di berbagai wilayah. Melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama, gerakan penghijauan ini dapat menjadi model yang menginspirasi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang masa depan kita semua,” tutup Heri. Dengan semangat gotong royong dan aksi nyata, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Patangpuluhan telah membuktikan bahwa menyelamatkan bumi adalah tanggung jawab bersama yang bisa dimulai dari langkah-langkah kecil.***