
Panel surya hanyalah salah satu ikhtiar. Fondasi transisi energi sesungguhnya dibangun melalui kebiasaan, disiplin, dan kesadaran ekologis yang ditanamkan sejak dini.
1000 CAHAYA – Di lereng perbukitan Baleendah Kabupaten Bandung yang sejuk, sebuah suasana asri dan nyaman dihadirkan di dalam kompleks sekolah menengah. Tak hanya lahan bangunan yang apik dan tertata rapi, kebersihan juga menjadi daya tarik ketika menginjakkan kaki di sini.
Tidak ada sampah berserakan atau menyembul dari balik dedaunan. Sejauh mata memandang, rimbunnya tanaman dan desain bangunan yang ramah cahaya memberikan sinyal bahwa kesadaran ekologis adalah bagian dari kurikulum di sekolah asrama khusus putri ini.
Deretan santri tampak tertib dalam menikmati santap siang yang kemudian dibersihkan secara mandiri. Dua buah tempat sampah terpisah untuk organik dan non organik tepat berada di sebelah wastafel.
Sebanyak sepuluh kilogram sampah organik dihasilkan setiap hari hari. Namun hal tersebut tidak terbuang sia-sia karena diolah lagi menggunakan sistem biodigester di belakang dapur sekolah. Bahkan minyak sisa penggorengan di dapur sekolah pun dimanfaatkan kembali menjadi profit melalui kerjasama dengan pengepul.
Sampah non organik seperti plastik, botol bekas, dan lainnya juga dikoordinasikan bersama bank sampah setempat. Untuk meminimalisasi sampah plastik, sekolah Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung membiasakan para siswa memakai wadah sendiri dan tumbler dalam berkegiatan.
Bagi Kayyisa Deitra, santriwati yang telah menghabiskan lima tahun masa remajanya di ABS Bandung, sekolah telah mengubah cara pandangnya. Ia mengingat bagaimana awalnya kebijakan tanpa plastik di kantin pesantren terasa sangat merepotkan karena menuntut setiap santriwati untuk mandiri membawa wadah sendiri.
“Awalnya terpaksa harus bawa wadah sendiri karena di kantin tidak ada plastik, tapi lama-lama jadi terbiasa,” tuturnya mengenang masa adaptasi tersebut.
Fasilitas yang memadai seperti tempat sampah yang terpilah di depan setiap kelas dan kamar asrama menjadi pengingat bbahwa kebersihan adalah bagian dari pembiasaan yang masif. Lebih jauh, Kayyisa melihat bahwa ilmu lingkungan yang ia dapatkan adalah bekal untuk masa depan.
Ia percaya bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab wajib setiap individu yang tidak bisa didelegasikan kepada siapa pun karena setiap orang akan menikmati atau menderita akibat kondisi lingkungan yang mereka pijak.
“Perubahan besar dimulai dari hal kecil, seperti disiplin tidak membuang sampah dan berani mengurangi pemakaian plastik dalam keseharian,” ungkapnya.
Kepala SMP ABS Bandung Fitma Fitria Iqlima memandang bahwa infrastruktur teknologi hanyalah sebuah benda apabila tidak ada kesiapan mental orang-orang di dalamnya. Bagi Fitma, tantangan terbesar dalam memimpin sekolah ramah lingkungan bukanlah pada pengadaan alat, melainkan pada transformasi perilaku atau kebiasaan.
Ia meyakini bahwa kesadaran harus tumbuh dari dalam jiwa sebelum teknologi masuk menyentuh fasilitas fisik sekolah. “Hal yang sulit itu mengubah habit yang ada di dalamnya dulu sebelum teknologi masuk,” ungkap Fitma.
Untuk mengawal perubahan ini, Fitma mendampingi sebuah kelompok siswa yang dijuluki Eco Ranger. Terdiri dari dua perwakilan dari setiap kelas baik jenjang SMP maupun SMA, para laskar energi ini bertugas menjadi agen perubahan yang menularkan semangat menjaga bumi kepada teman-temannya.
Tugas mereka sangat praktis dan menyentuh keseharian, mulai dari mengingatkan rekan sebaya agar tidak boros dalam menggunakan tisu hingga memberikan edukasi tentang dampak lingkungan dari setiap tindakan kecil yang dilakukan di asrama.
Komitmen ini ditegakkan secara tegas melalui kebijakan di kantin sekolah. “Sekolah telah bersepakat bahwa mereka yang memesan makanan tanpa membawa piring sendiri tidak akan dilayani,” tuturnya.
Fitma bercerita bahwa ketegasan ini adalah salah satu cara untuk membangun integritas dalam program sekolah hijau. Tanpa adanya plastik yang disediakan di lingkungan sekolah, santriwati dikondisikan untuk memilih disiplin membawa wadah atau tidak jajan sama sekali.
Selain kebijakan administratif, Fitma juga mendorong integrasi isu perubahan iklim ke dalam kurikulum kelas secara kreatif.
“Misalnya dalam mata pelajaran Matematika, siswa diajak berhitung tentang efisiensi sumber daya. Sementara dalam pelajaran IPA, mereka melakukan praktik membuat apotek hidup,” lata Fitma.
Integrasi tersebut memastikan bahwa kesadaran lingkungan tidak berdiri sebagai mata pelajaran tunggal semata, tetapi juga ke dalam seluruh spektrum ilmu pengetahuan yang dipelajari siswa.
Pionir Solusi Krisis Iklim
Efisiensi energi harus direncanakan sejak tahap konstruksi bangunan. Dalam aspek bangunan, desain fisik ABS Bandung dirancang untuk bersahabat dengan energi alam.
Banyak ruangan di sekolah termasuk masjid yang memaksimalkan penggunaan kaca untuk menangkap cahaya matahari di pagi hari, sehingga ketergantungan pada lampu listrik dapat diminimalisasi secara signifikan.
“Ruangannya tidak begitu banyak menggunakan lampu karena desainnya memaksimalkan matahari,” jelas Darojat selaku bagian sarana dan prasarana.
Selain bangunan, ABS Bandung memiliki tradisi unik untuk menghijaukan lingkungan yang melibatkan setiap siswa baru. Setiap tahun ajaran baru, santriwati diwajibkan membawa bibit tanaman buah atau sayuran yang telah dikategorikan oleh sekolah untuk ditanam di lingkungan pesantren.
Tidak hanya untuk kepentingan internal, bibit-bibit yang telah tumbuh besar tersebut juga dapat dihibahkan kepada masyarakat di daerah sekitar Baleendah. Tradisi ini menciptakan hubungan simbiosis antara sekolah dan masyarakat, di mana santriwati belajar menjadi penyedia flora sebagai unsur penting bagi lingkungan sekitarnya.
Wakil Mudir Bidang Pendidikan dan Pengasuhan ABS Bandung Teguh Mulyadi melihat gerakan lingkungan ini sebagai bagian dari panggilan jiwa keagamaan. Ia menekankan bahwa isu lingkungan harus menjadi isu strategis yang merambah dari kalangan pengajar hingga pelajar melalui aksi yang berdampak.
“Menjaga alam adalah bentuk ibadah yang akan memberikan nilai pahala sekaligus menjadi warisan kebaikan bagi generasi penerus. Ke depannya ingin ABS Bandung menjadi pionir yang menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi pusat solusi bagi krisis iklim,” kata Teguh.
Salah satu langkah lanjutan yang sedang dipersiapkan adalah instalasi panel surya melalui kemitraan strategis dengan tim 1000 Cahaya dan Eco Bhinneka. Sekolah berencana membangun sistem energi mandiri untuk mengoperasikan alat siram otomatis di lahan pertanian sayuran seluas 500 meter persegi.
Langkah transisi energi ini diharapkan tidak hanya menghemat biaya operasional, tetapi juga menjadi sarana edukasi teknologi bersih bagi para santriwati di lapangan.
Selain kemitraan teknologi, Teguh juga membuka pintu untuk kolaborasi riset dengan akademisi. Kemitraan ini bertujuan untuk memvalidasi gerakan lingkungan yang ada dan memperkuat narasi komunikasi publik tentang sekolah hijau.
Dengan menggandeng berbagai pihak, visi ABS Bandung untuk menjadi sekolah yang mandiri secara energi dan berdaya secara ekologi akan lebih cepat terwujud.
Implementasi Pedoman Sekolah Hijau
Rachminawati, penulis buku Islamic Green School dari Pimpinan Wilayah Aisyiah (PWA) Jawa Barat, menyatakan bahwa kurikulum lingkungan harus bersifat fleksibel dan dapat diterapkan dalam kondisi sekolah apa pun.
Ia merancang pedoman tersebut agar sekolah tidak merasa terbebani dengan standar yang kaku dan bisa memulai dari kondisi yang ada.
“Hal yang terpenting adalah adanya gerakan awal yang konsisten, sekecil apa pun langkah tersebut, guna mendukung upaya pemerintah dalam mitigasi perubahan iklim,” ucapnya.
Ia pun mengaitkan isu ini dengan hak asasi setiap individu untuk mendapatkan lingkungan yang sehat, sebuah nilai yang juga terkandung dalam ajaran Islam. Rachminawati mengingatkan kembali pahitnya krisis sampah yang pernah melanda Bandung sebagai pengingat betapa krusialnya pengelolaan limbah yang sistematis.
Ia melihat pesantren sebagai tempat persemaian yang ideal untuk menanamkan kesadaran hukum dan etika lingkungan ini kepada generasi muda sejak dini. Sekolah merupakan salah satu bagian dari solusi besar tersebut.
“Nilai-nilai yang dipelajari oleh santri di sekolah harus dibawa pulang dan diterapkan di rumah masing-masing. Kami berharap siswa yang melek lingkungan akan menjadi motor penggerak di keluarga mereka sendiri untuk mulai memilah sampah dan menghemat energi secara mandiri,” papar Rachminawati.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Divisi Lingkungan Hidup Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PWA Jawa Barat Amalia Nur Mila menjelaskan bahwa buku panduan Islamic Green School lahir dari kebutuhan akan standardisasi sekolah ramah lingkungan di lingkungan Aisyiyah.
Buku ini memandu sekolah melalui delapan kebiasaan utama, mulai dari hemat energi hingga pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Fokus utama Amalia tidak hanya pada penghijauan fisik, tetapi juga pada penciptaan budaya di mana setiap peserta didik merasa bangga menjadi pahlawan lingkungan yang aktif berkontribusi.
Dalam implementasinya, Amalia memimpin berbagai pelatihan Training of Trainers (TOT) bagi para guru untuk memastikan mereka memiliki pemahaman yang sama sebelum mendidik siswa.
“Ada kenaikan signifikan dalam pemahaman guru setelah mengikuti pelatihan, seperti di Sukabumi di mana pemahaman guru meningkat dari 50% menjadi 76%. Kami ingin para guru mampu menyisipkan nilai-nilai ini dalam setiap proses pembelajaran secara tidak langsung,” ujar Amalia.
Saat ini, ABS Bandung dan SD Aisyiyah di Sukabumi menjadi proyek percontohan bagi gerakan ini di Jawa Barat. Amalia secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat sejauh mana pedoman tersebut benar-benar diimplementasikan di lapangan.
Ia memantau indikator-indikator keberhasilan seperti pemahaman para guru melalui integrasi kurikulum ke dalam proses pembelajaran, bertambahnya penggunaan panel surya, kerja sama dengan bank sampah, hingga perubahan pemikiran secara kolektif di lingkungan sekolah.
Monitoring ini penting untuk memastikan bahwa program tetap berjalan di jalur yang sesuai dan tidak berhenti menjadi sekadar wacana.
“Keberhasilan sekolah hijau memerlukan kolaborasi komprehensif antara sekolah, orang tua, dan siswa. Sinergi ini diperlukan agar apa yang dilakukan di sekolah tidak terputus saat siswa kembali ke rumah,” ucapnya.
Dengan keterlibatan semua pihak, ia optimis bahwa visi menciptakan lingkungan yang hijau dan berkelanjutan akan menjadi gerakan masif yang menyebar ke seluruh institusi pendidikan di bawah naungan Aisyiyah dan lebih luas lagi ke sekolah umum.
Filosofi Ar-Rahman dan Tanggung Jawab Khalifah
Dari dunia pendidikan asrama, narasi hijau ini meluas ke ruang-ruang suci melalui peran masjid. Salim Rusli dari Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB menjelaskan bahwa tanggung jawab sebagai Khalifah fil Ardh mencakup kewajiban mengurusi seluruh ciptaan, termasuk yang sering dianggap benda mati seperti tanah, air, dan udara.
“Mengelola lingkungan adalah cara manusia mewujudkan asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim di muka bumi melalui kasih sayang kepada alam semesta,” ujarnya.
Salim menyoroti krisis sampah dan kelangkaan air bersih di perkotaan sebagai dampak dari kegagalan manusia dalam menjalankan mandat sebagai khalifah. Pola tersebut kemudian diubah melalui gerakan daur ulang sampah di mana barang bekas dikumpulkan, dibersihkan, dan dimanfaatkan kembali untuk kepentingan sosial.
“Upaya ini sebagai bentuk tanggung jawab moral atas setiap sumber daya yang telah dikonsumsi oleh jamaah,” ungkap Salim.
Ia berharap sistem pengelolaan sampah mandiri yang dikembangkan dapat diduplikasi oleh masjid-masjid lain di seluruh Indonesia. Rumah ibadah bisa menjadi pusat solusi lingkungan, sehingga tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga pusat peradaban yang aktif menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Aplikasi Teknologi dalam Ruang Keagamaan
Setiap keping sampah yang dikelola dan setiap tetes air yang dihemat adalah bagian dari ibadah sosial yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan alam di masa depan.
Dosen Kelompok Keahlian Rekayasa Air dan Limbah Cair Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan (FTSL) ITB Teddy Tedjakusuma menjelaskan sains pun sangat mendukung praktik keagamaan yang mendukung keseimbangan alam.
“Teknologi ini sangat krusial di tengah ancaman fenomena iklim seperti El Nino yang dapat menyebabkan krisis air bersih berkepanjangan,” ujarnya.
Teknologi tersebut seperti di masjid Salman ITB, konsep thaharah atau bersuci dikembangkan melalui sistem sirkularitas air seperti daur ulang air wudu dan pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Air bekas wudu yang biasanya dibuang ke saluran pembuangan justru diolah kembali untuk digunakan menyiram tanaman atau keperluan non-konsumsi lainnya.
Begitu pula dengan air hujan yang ditampung secara sistematis agar tidak terbuang menjadi limpasan yang membebani drainase kota.
“Pendekatan ini adalah bentuk dari memfungsikan masjid sebagai pusat riset dan aplikasi teknologi ramah lingkungan yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh jamaah,” paparnya.
Praktik tersebut diharapkan menjadi sebagai standar baru bagi manajemen masjid modern yang berkelanjutan. Integrasi antara nilai spiritual dan inovasi teknis akan memperkuat peran masjid dalam mitigasi dampak perubahan iklim di Jawa Barat.
Semangat transisi energi dan keramahan lingkungan juga mampu menembus batas-batas geografis hingga ke pelosok pedesaan. Di Kabupaten Bandung, Masjid Peradaban Arjasari menjadi bukti bahwa keterbatasan lokasi tidak menghalangi niat untuk membangun rumah ibadah yang ramah energi.
Meski berada di lingkungan kampung, masjid ini dibangun dengan konsep berkelanjutan yang memanfaatkan energi terbarukan, seperti daur ulang air wudu, danau buatan untuk menampung mata air sekaligus air untuk keperluan sanitasi, serta pembangunan panel surya di atas atap masjid untuk penyediaan listrik.
Dakwah Ekologis
Pada akhirnya, transisi menuju energi bersih dan kehidupan yang berkelanjutan adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dalam menjaga integritas.
Transformasi energi dimulai dari hati, pemikiran, perilaku, barulah kemudian menyentuh teknologi. Gerakan ini membuktikan bahwa pesantren dan masjid bisa menjadi motor penggerak perubahan perilaku massif di mana setiap individu diajak kembali pada fitrahnya sebagai penjaga bumi.
Melalui pembiasaan kecil di kantin, tradisi membawa bibit, hingga sistem daur ulang air yang canggih, institusi-institusi ini sedang mempraktikkan praktik dakwah ekologis yang melampaui ritual formalitas.
Dengan menjadikan bumi sebagai titipan yang harus dikembalikan dalam kondisi baik, pesantren dan masjid di Jawa Barat ini sedang menanamkan harapan bagi dunia yang lebih hijau, adil, dan lestari bagi generasi yang akan datang.***
Sumber: TVRI Jawa Barat
Foto: TVRI Jawa Barat/ Hanifa
Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026