Hijrah Energi Dimulai dari Sekolah, SMK Muhammadiyah 1 Jakarta Siap Cetak Generasi Hijau Peduli Lingkungan

Di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, transisi energi dimulai dari ruang kelas. Panel surya menjadi media belajar sekaligus menumbuhkan generasi yang peduli lingkungan.
Dari Wudhu ke Hemat Energi, Inilah Jejak Hijau Peradaban Masjid At-Tanwir Muhammadiyah

Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah mengubah air wudhu dan sinar matahari menjadi jejak baru peradaban yang berkelanjutan.
Menangkap Matahari Mengubahnya Jadi Listrik, Kisah Masjid Mujahidin Menuju Energi Bersih

Di Masjid Mujahidin Magelang, cahaya matahari tak hanya diubah menjadi listrik. Ia menjadi awal lahirnya gerakan komunitas menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Daur Ulang Air Wudhu hingga Panel Surya, Jejak Kampus Muhammadiyah Menuju Transisi Energi

Di Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, transisi energi tak dimulai dari proyek besar, melainkan dari air wudhu, cahaya matahari, dan kebiasaan sehari-hari.
Mencetak Generasi Peduli Lingkungan yang Bertanggung Jawab Melalui Proyek Fikih Hijau

Merawat bumi tak lagi dipahami sebagai pilihan moral semata. Di Unisa Yogyakarta, Fikih Hijau membentuk generasi yang belajar agama melalui aksi nyata menjaga lingkungan.
Gerakan 1000 Cahaya di Bogor dimulai dari Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah

Perubahan menuju energi bersih tidak selalu dimulai dari pembangkit listrik. Di Bogor, Muhammadiyah memilih memulainya dari pesantren dan pendidikan generasi penerus.
Transisi Energi dari Pinggiran Kampung Cisadon Bogor: Dulu Putaran Turbin, Kini Pakai Tenaga Surya

Tak semua transisi energi lahir di kota. Di Kampung Cisadon, Bogor, perubahan dimulai ketika putaran turbin memberi jalan bagi cahaya Matahari. 1000 CAHAYA – Bertahun-tahun lamanya, suara kincir air menjadi satu-satunya tanda kehidupan listrik di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Berputar tanpa henti, tetapi tak pernah benar-benar mampu menerangi seisi kampung. Kini, suara itu mulai menghilang, di halaman rumah warga, panel surya menggantikan peran air sebagai sumber energi. Dari turbin sederhana di sungai, Cisadon perlahan memasuki babak baru; transisi menuju energi bersih yang lebih stabil, meski belum sepenuhnya merdeka dari keterbatasan Kini, perlahan suasana itu berubah, di atap-atap rumah warga, mulai terpasang panel surya yang mengilap terkena sinar matahari pagi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PTLS) tersebut menjadi titik balik kehidupan di kampung terpencil tersebut. “Alhamdulillah sangat membantu masyarakat,” ujar Ketua RT Kampung Cisadon, Ujang Usman kepada Radar Bogor sembari menyesap secangkir kopi. Ujang masih ingat betul awal mula listrik energi bersih itu masuk ke kampungnya, yang hanya berjarak 8 kilometer dari kediaman Presiden RI Prabowo Subianto. Pun, baru hitungan dua purnama mereka alhirnya merasakan energi terbarukan tersebut. Bertahun-tahun lamanya warga Cisadon tidak merasakan listrik konvensional yang menjadi barang umum di luar wilayahnya. Penerangan dan listrik seadanya hanya bergantung pada “kreativitas” turbin atau kincir yang digerakkan oleh aliran air. Satu rumah bergantung pada energi listrik yang dihasilkan dari satu turbin sederhana. “Dulu nggak bisa nanak nasi pakai magicom, sekarang, alhamdulillah bisa, sekarang charger HP normal, kulkas bisa, terus penerangan juga (dari panel surya) jauh lebih terang dibanding kincir air,” katanya. Sementara Cisadon bukanlah nama asing bagi pecinta wisata trekking atau hiking. Jalur ini kerap menjadi tujuan akhir sekadar ngopi atau melintas alam. Banyaknya kunjungan warga luar kampung memaksa Cisadon harus berakselerasi. Di satu sisi, kampung ini menyediakan akses internet melalui sambungan modern Starlink. Di sisi lainnya, warga hidup dalam keterbatasan daya listrik. Kehadiran listrik di Cisadon memang terasa nyata. Radar Bogor menjajal sendiri bagaimana kehidupan warga setelah menikmati listrik komvensional dari energi bersih matahari, gelap sunyi di atas gunung itu perlahan telah pergi. Kapasitas 1.300 watt (6 ampere) per KK sudah cukup membuat perkampungan 40 rumah itu lebih meriah. Daya itu sudah sangat memadai sekadar memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Warga perkampungan yang hanya mengandalkan pendapatan dari bertani dan berladang. Namun, banyak warga yang tetap ingin mengejar ketimpangan energi listrik dari rumahnya. Sistem tenaga surya ini tetap menggunakan token seperti listrik PLN pada umumnya. Artinya, warga tetap harus membeli pulsa listrik sesuai pemakaian. Namun bagi mereka, hal itu bukan masalah besar dibandingkan lampu redup di langit-langit rumah yang mereka rasakan bertahun-tahun lamanya. Meski tidak gratis, kehadiran panel surya sudah memberikan secercah harapan bagi warga Cisadon. Dari energi bersih air menuju energi bersih lainnya yang lebih stabil, yakni surya. Dari sisi perawatan, PLTS juga jauh lebih sederhana dibandingkan turbin kincir air. Warga hanya perlu membersihkan panel surya dari debu agar tetap optimal menyerap sinar matahari. Berbeda dengan kincir air yang harus terus dipantau. Saat banjir datang atau komponen rusak, warga harus memperbaikinya secara manual. Tak jarang, gangguan bisa terjadi hampir setiap hari saat cuaca buruk. “Kalau kincir air itu nggak bisa diprediksi. Bisa rusak kapan saja, apalagi kalau hujan besar. Kalau PLTS ini lebih stabil,” imbuhnya.*** Sumber: Radar Bogor Foto: Radar Bogor/Imam Rahmanto Penulis: Imam Rahmanto, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026
Dari Lampu Redup ke Cahaya Terang di Kampung Cisadon Bogor, Anak-Anak Bisa Belajar Malam Hari

Bagi warga Kampung Cisadon, listrik bukan sekadar penerangan. Cahaya yang kini menyala membuka kesempatan anak-anak belajar dan menatap masa depan. 1000 CAHAYA – Malam di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor dulu identik dengan cahaya temaram. Lampu-lampu kecil dari turbin kincir air hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menyisakan bayangan gelap di sudut-sudut rumah. Bagi anak-anak seperti Muhammad Nazar (16), kondisi itu menjadi tantangan tersendiri setiap kali harus belajar pada malam hari. Nazar tumbuh dalam keterbatasan listrik yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Cisadon, Desa Karang Tengah. Setiap malam, ia harus menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang sering kali tidak cukup untuk membaca atau menulis dengan jelas. “Alhamdulillah sekarang terang, dulu lampu remang-remang, sekarang mah sudah gak, sudah terang,” ujar Nazar kepada Radar Bogor dengan wajah semringah. Di balik perubahan sederhana itu, tersimpan harapan besar, cahaya yang kini menerangi rumah Nazar bukan hanya memudahkan belajar, tetapi juga membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik. Lalu, bagaimana dengan nasib turbin yang selama ini menjadi “pahlawan” di masa lalu Kampung Cisadon? Kini, suara gemuruh air tidak seramai dulu lagi, di aliran sungai kecil yang membelah perkampungan, sisa-sisa turbin masih terlihat diam, tak lagi berputar. Baling-baling dari ban motor itu kini hanya menjadi jejak dari masa lalu, ketika listrik adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari. Bertahun-tahun lamanya, warga Cisado menggantungkan harapan pada turbin kincir air, dari aliran sungai itulah mereka mendapatkan penerangan meski hanya cukup untuk menyalakan lampu temaram dan sesekali mengisi daya ponsel secara bergantian. Kini, turbin mulai dibongkar, kabel dicabut, dinamo dilepas, dan pipa-pipa paralon diangkat dari tempatnya. “Karena sudah masuk PLN, jadi dibongkar saja,” ujar Alun, salah satu warga Cisadon. atau debit air berubah, turbin bisa mengalami gangguan, tak jarang, warga harus memperbaikinya hampir setiap hari. “Kalau listrik sekarang lebih simpel, tinggal beli token, masukin nomor, langsung nyala,” tuturnya.*** Media : Radar Bogor Foto: Radar Bogor/Imam Rahmanto Penulis: Imam Rahmanto, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026
Kurikulum Hijau Bangun Ekosistem Pendidikan Berkelanjutan

Masa depan lingkungan tak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga ruang kelas. Dari sanalah kesadaran ekologis dan budaya hidup berkelanjutan mulai ditanamkan.
Kesadaran Ekologis sebagai Fondasi Transformasi Energi

Panel surya hanyalah salah satu ikhtiar. Fondasi transisi energi sesungguhnya dibangun melalui kebiasaan, disiplin, dan kesadaran ekologis yang ditanamkan sejak dini.