
Bagi warga Kampung Cisadon, listrik bukan sekadar penerangan. Cahaya yang kini menyala membuka kesempatan anak-anak belajar dan menatap masa depan.
1000 CAHAYA – Malam di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor dulu identik dengan cahaya temaram. Lampu-lampu kecil dari turbin kincir air hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menyisakan bayangan gelap di sudut-sudut rumah.
Bagi anak-anak seperti Muhammad Nazar (16), kondisi itu menjadi tantangan tersendiri setiap kali harus belajar pada malam hari. Nazar tumbuh dalam keterbatasan listrik yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Cisadon, Desa Karang Tengah.
Setiap malam, ia harus menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang sering kali tidak cukup untuk membaca atau menulis dengan jelas.
“Alhamdulillah sekarang terang, dulu lampu remang-remang, sekarang mah sudah gak, sudah terang,” ujar Nazar kepada Radar Bogor dengan wajah semringah.
Di balik perubahan sederhana itu, tersimpan harapan besar, cahaya yang kini menerangi rumah Nazar bukan hanya memudahkan belajar, tetapi juga membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik.
Lalu, bagaimana dengan nasib turbin yang selama ini menjadi “pahlawan” di masa lalu Kampung Cisadon?
Kini, suara gemuruh air tidak seramai dulu lagi, di aliran sungai kecil yang membelah perkampungan, sisa-sisa turbin masih terlihat diam, tak lagi berputar. Baling-baling dari ban motor itu kini hanya menjadi jejak dari masa lalu, ketika listrik adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari.
Bertahun-tahun lamanya, warga Cisado menggantungkan harapan pada turbin kincir air, dari aliran sungai itulah mereka mendapatkan penerangan meski hanya cukup untuk menyalakan lampu temaram dan sesekali mengisi daya ponsel secara bergantian. Kini, turbin mulai dibongkar, kabel dicabut, dinamo dilepas, dan pipa-pipa paralon diangkat dari tempatnya.
“Karena sudah masuk PLN, jadi dibongkar saja,” ujar Alun, salah satu warga Cisadon.
atau debit air berubah, turbin bisa mengalami gangguan, tak jarang, warga harus memperbaikinya hampir setiap hari.
“Kalau listrik sekarang lebih simpel, tinggal beli token, masukin nomor, langsung nyala,” tuturnya.***
Media : Radar Bogor
Foto: Radar Bogor/Imam Rahmanto
Penulis: Imam Rahmanto, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026