Skip to main content

1000 Cahaya

Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah mengubah air wudhu dan sinar matahari menjadi jejak baru peradaban yang berkelanjutan.

1000 CAHAYA – Di tengah krisis iklim yang kian nyata, ditandai dengan ancaman kekurangan air, lonjakan konsumsi energi, dan degradasi lingkungan, hadir sebuah ikhtiar sunyi dari jantung gerakan Islam modern di Indonesia. Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan jadi narasi hidup tentang bagaimana iman, ilmu, dan teknologi berpadu menjadi solusi.

Masjid yang berada di kawasan Gedung Dakwah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini dibangun dengan konsep ramah lingkungan dan berkemajuan, memadukan inovasi teknologi dan nilai spiritual. Di antaranya melalui sistem filterisasi pemanfaatan air limbah wudhu serta penggunaan panel energi surya sebagai sumber listrik alternatif.

Pembangunan Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah rampung pada awal September 2020 dan diresmikan pada Maret 2021. Menariknya, masjid ini telah memenuhi standar Jakarta Green Building sesuai regulasi pemerintah, sebuah capaian yang bahkan tidak diwajibkan bagi rumah ibadah.

Sebagaimana namanya, At-Tanwir, yang berarti pencerahan, masjid ini memang diharapkan menjadi pusat ilmu, dakwah, dan perubahan sosial. Lokasinya berada tepat di belakang Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Nomor 54, Jakarta Pusat.

Tidak hanya menjadi tempat salat, masjid ini juga dilengkapi perpustakaan dan ruang pertemuan di lantai lima dan enam, memperkuat fungsinya sebagai pusat literasi umat.

Masjid ini berdiri tidak mencolok secara ukuran, namun kuat dalam gagasan. Ia dibangun vertikal dengan enam lantai, menggabungkan fungsi ibadah, pendidikan, dan gerakan sosial dalam satu ekosistem.

Lantai bawah difungsikan untuk wudhu dan kebutuhan thaharah. Lantai dua menjadi ruang utama salat berjamaah. Lantai tiga dan empat diperuntukkan bagi jamaah perempuan. Sementara lantai lima dan enam menghadirkan ruang pertemuan, perpustakaan, dan aula, menjadikan masjid ini sebagai pusat pencerahan, sesuai makna “At-Tanwir”.

Dari Air Wudhu, Kesadaran Itu Dimulai

Kisah keberlanjutan di Masjid At-Tanwir dimulai dari sesuatu yang paling sederhana, yakni air wudhu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghemat 30 persen pengeluaran air melalui konsep masjid ramah lingkungan yang diterapkan di Masjid At-Tanwir ini, dengan pengolahan daur ulang air wudhu.

Air yang biasanya terbuang sia-sia setelah wudhu, di masjid ini ditampung dalam bak khusus. Melalui sistem water recycle, air tersebut diproses dan dialirkan kembali untuk kebutuhan non-ibadah, menyiram tanaman, mengisi kolam ikan, hingga mencuci kendaraan operasional.

Sekretaris Takmir Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, Zainal Abidin, menjelaskan filosofi di balik langkah ini.

“Kita lihat di mana-mana masjid itu, jamaah berwudhu dengan air, tapi dibuang dengan sia-sia. Sehingga, PP Muhammadiyah punya ide untuk menggunakan sisa air wudhu ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Namun demikian, kehati-hatian tetap dijaga. Air daur ulang tersebut tidak digunakan kembali untuk wudhu.

Menurut Zainal, dalam upaya pengolahan daur ulang air wudhu, air tersebut tidak digunakan untuk berwudu lagi, karena perlu kajian lebih lanjut terkait hukum-hukumnya serta teknologi yang tinggi.

Di titik ini, Masjid At-Tanwir tidak hanya bicara efisiensi, tetapi juga etika, bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan syariat.

Energi Matahari dan Kemandirian Masjid

Dari air, narasi berlanjut ke energi. Di puncak bangunan lantai tujuh, terpasang panel surya yang menjadi sumber listrik alternatif. Energi matahari diolah menjadi daya untuk menyuplai kebutuhan listrik masjid, dari lampu hingga sistem operasional lainnya.

Dengan memanfaatkan energi sinar matahari ini Masjid at-Tanwir bisa menghemat listrik dan tidak tergantung sepenuhnya pada pasokan listrik PLN.

Efeknya tidak hanya ekologis, tetapi juga ekonomis.

Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, mengungkapkan dampaknya secara konkret.

Dia menegaskan, Masjid At-Tanwir bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan representasi aksi nyata keadilan iklim berbasis iman. Melalui pemanfaatan energi surya di lingkungan Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, termasuk di masjid, Muhammadiyah mulai membangun kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis fosil.

“Langkah nyata ini mampu mengurangi biaya pemakaian listrik dari fosil. Jika solar panelnya berfungsi secara maksimal, biaya pengeluaran listrik per bulannya bisa lebih hemat Rp 15 juta, dari yang biasanya lebih dari Rp 40 juta per bulan,” ungkapnya.

Penggunaan energi terbarukan ini menjadi bagian dari gerakan 1000 Cahaya, dirancang sebagai gerakan kolektif lintas sektor, dari ranting, sekolah pesantren, hingga masjid, untuk mempercepat transisi energi bersih di lingkungan umat.

Fokusnya bukan hanya pada teknologi, tetapi juga perubahan kesadaran bahwa penggunaan energi terbarukan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Muhammadiyah, lanjut Hening, tidak bergerak sendiri. Kolaborasi dengan GreenFaith dan jaringan lintas iman memperkuat posisi rumah ibadah sebagai pusat gerakan lingkungan global.

“Masjid bukan hanya tempat suci berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah khusus, tapi masjid juga sebagai pusat pengetahuan dan pusat gerakan aktualisasi perintah Allah untuk keadilan iklim,” tambahnya.

Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Masjid At-Tanwir menunjukkan, energi bersih bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga strategi ekonomi. Meski membutuhkan investasi awal, teknologi ini terbukti mampu menekan biaya operasional dan memberikan stabilitas di tengah fluktuasi harga energi fosil.

Dengan pendekatan ini, masjid tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga aktor penting dalam transisi menuju masa depan yang berkelanjutan.

Arsitektur yang Berpihak pada Alam

Keunggulan Masjid At-Tanwir tidak berhenti pada air dan energi. Ia juga hadir melalui desain arsitektur yang berpihak pada alam.

Setiap lantai dirancang dengan bukaan yang memungkinkan cahaya matahari masuk secara maksimal. Hal ini mengurangi kebutuhan pencahayaan buatan di siang hari.

Selain itu, bangunan menggunakan kaca dengan kemampuan menyerap panas, sehingga cahaya tetap masuk tanpa meningkatkan suhu ruangan secara signifikan. Nilai OTTV (overall thermal transfer value) yang rendah menjadi indikator efisiensi ini.

Sistem pendingin ruangan menggunakan AC hemat energi dengan kontrol suhu terpusat. Sementara lift dilengkapi teknologi regenerative drive, yang memungkinkan energi saat lift turun disimpan kembali untuk digunakan saat naik.

Sebelumnya Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan pada peresmian masjid, menegaskan keunikan tersebut.

“Dua hal yang agak berbeda dari masjid ini adalah konstruksi dan arsitekturnya yang kita rancang ramah lingkungan,” ujarnya.

Masjid ini menjadi bukti bahwa modernitas dan spiritualitas tidak harus berseberangan. Justru, keduanya bisa saling menguatkan.

EcoMasjid: Dari Konsep ke Gerakan

Apa yang dilakukan Masjid At-Tanwir kemudian meluas menjadi inspirasi gerakan ecoMasjid atau masjid ramah lingkungan di Indonesia.

Direktur Yayasan Ecomasjid Indonesia, Dr Hayu Prabowo, menilai bahwa kesadaran ekologis kini bukan lagi pilihan.

“Kesadaran ekologis tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Di tengah krisis air, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan, masjid sebagai pusat peradaban umat memiliki posisi strategis untuk memimpin perubahan,” ujarnya.

EcoMasjid, menurutnya, bukan sekadar pendekatan teknis. Ia adalah gerakan moral dan spiritual.

“Masjid tidak hanya tempat sujud, tetapi pusat edukasi, perubahan perilaku, dan solusi ekologis berbasis komunitas,” ujarnya.

Konsep tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni Idarah (manajemen), Imarah

(pemakmuran), dan Riayah (pemeliharaan).

Idarah memastikan tata kelola yang sadar lingkungan. Imarah menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah ekologis. Sementara Riayah menekankan praktik konkret dalam pengelolaan air, energi, dan lingkungan.

“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Masjid punya kekuatan untuk membentuk kebiasaan itu setiap hari,” kata Dr. Hayu.

Air sebagai Sedekah, Energi sebagai Amanah

Dalam perspektif Islam, air bukan sekadar sumber daya. Ia adalah amanah, bahkan ladang pahala. Konservasi air di masjid, dengan demikian, bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga ibadah.

Program ecoMasjid mendorong langkah-langkah konkret seperti pemanenan air hujan, sumur resapan, hingga penggunaan keran hemat air.

Setiap tetes yang dihemat adalah bagian dari tanggung jawab antargenerasi.

Di sisi lain, konsumsi energi juga diarahkan menuju kesadaran. Lampu hemat energi, ventilasi alami, dan pengurangan sampah plastik menjadi bagian dari transformasi ini.

“Masjid harus menjadi contoh. Jika masjid disiplin, jamaah akan mengikuti,” tegas Dr Hayu.

Dari Ritual Menuju Transformasi

Masjid At-Tanwir menghadirkan sebuah paradigma baru bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma dalam cara kita memperlakukan air, energi, dan lingkungan.

Masjid menjadi pusat gerakan sosial, mengajak jamaah untuk terlibat dalam aksi nyata seperti penanaman pohon, edukasi lingkungan, dan perubahan perilaku.

Lebih dari itu, ia menjadi simbol peradaban yang berkelanjutan. Maka sangat perlu diperhatikan pernyataan berikut ini: “Jika masjid sudah ramah lingkungan, maka umat akan ikut berubah. Dan jika umat berubah, masa depan bumi bisa diselamatkan.”

Dari air wudhu yang sederhana hingga energi matahari yang canggih, Masjid At-Tanwir menorehkan jejak hijau peradaban. Sebuah pengingat bahwa menjaga bumi bukan sekadar tugas aktivis, tetapi bagian dari iman. Dan dari masjid inilah, perubahan itu dimulai.***

Sumber: inilah.com/Mozaik Islam

Foto: Inilah.com/Rana

Penulis: Rana Setiawan/Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *