
Tak semua transisi energi lahir di kota. Di Kampung Cisadon, Bogor, perubahan dimulai ketika putaran turbin memberi jalan bagi cahaya Matahari.
1000 CAHAYA – Bertahun-tahun lamanya, suara kincir air menjadi satu-satunya tanda kehidupan listrik di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Berputar tanpa henti, tetapi tak pernah benar-benar mampu menerangi seisi kampung.
Kini, suara itu mulai menghilang, di halaman rumah warga, panel surya menggantikan peran air sebagai sumber energi. Dari turbin sederhana di sungai, Cisadon perlahan memasuki babak baru; transisi menuju energi bersih yang lebih stabil, meski belum sepenuhnya merdeka dari keterbatasan
Kini, perlahan suasana itu berubah, di atap-atap rumah warga, mulai terpasang panel surya yang mengilap terkena sinar matahari pagi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PTLS) tersebut menjadi titik balik kehidupan di kampung terpencil tersebut.
“Alhamdulillah sangat membantu masyarakat,” ujar Ketua RT Kampung Cisadon, Ujang Usman kepada Radar Bogor sembari menyesap secangkir kopi.
Ujang masih ingat betul awal mula listrik energi bersih itu masuk ke kampungnya, yang hanya berjarak 8 kilometer dari kediaman Presiden RI Prabowo Subianto. Pun, baru hitungan dua purnama mereka alhirnya merasakan energi terbarukan tersebut.
Bertahun-tahun lamanya warga Cisadon tidak merasakan listrik konvensional yang menjadi barang umum di luar wilayahnya. Penerangan dan listrik seadanya hanya bergantung pada “kreativitas” turbin atau kincir yang digerakkan oleh aliran air. Satu rumah bergantung pada energi listrik yang dihasilkan dari satu turbin sederhana.
“Dulu nggak bisa nanak nasi pakai magicom, sekarang, alhamdulillah bisa, sekarang charger HP normal, kulkas bisa, terus penerangan juga (dari panel surya) jauh lebih terang dibanding kincir air,” katanya.
Sementara Cisadon bukanlah nama asing bagi pecinta wisata trekking atau hiking. Jalur ini kerap menjadi tujuan akhir sekadar ngopi atau melintas alam. Banyaknya kunjungan warga luar kampung memaksa Cisadon harus berakselerasi. Di satu sisi, kampung ini menyediakan akses internet melalui sambungan modern Starlink. Di sisi lainnya, warga hidup dalam keterbatasan daya listrik.
Kehadiran listrik di Cisadon memang terasa nyata. Radar Bogor menjajal sendiri bagaimana kehidupan warga setelah menikmati listrik komvensional dari energi bersih matahari, gelap sunyi di atas gunung itu perlahan telah pergi.
Kapasitas 1.300 watt (6 ampere) per KK sudah cukup membuat perkampungan 40 rumah itu lebih meriah. Daya itu sudah sangat memadai sekadar memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Warga perkampungan yang hanya mengandalkan pendapatan dari bertani dan berladang. Namun, banyak warga yang tetap ingin mengejar ketimpangan energi listrik dari rumahnya.
Sistem tenaga surya ini tetap menggunakan token seperti listrik PLN pada umumnya. Artinya, warga tetap harus membeli pulsa listrik sesuai pemakaian. Namun bagi mereka, hal itu bukan masalah besar dibandingkan lampu redup di langit-langit rumah yang mereka rasakan bertahun-tahun lamanya.
Meski tidak gratis, kehadiran panel surya sudah memberikan secercah harapan bagi warga Cisadon. Dari energi bersih air menuju energi bersih lainnya yang lebih stabil, yakni surya.
Dari sisi perawatan, PLTS juga jauh lebih sederhana dibandingkan turbin kincir air. Warga hanya perlu membersihkan panel surya dari debu agar tetap optimal menyerap sinar matahari.
Berbeda dengan kincir air yang harus terus dipantau. Saat banjir datang atau komponen rusak, warga harus memperbaikinya secara manual. Tak jarang, gangguan bisa terjadi hampir setiap hari saat cuaca buruk.
“Kalau kincir air itu nggak bisa diprediksi. Bisa rusak kapan saja, apalagi kalau hujan besar. Kalau PLTS ini lebih stabil,” imbuhnya.***
Sumber: Radar Bogor
Foto: Radar Bogor/Imam Rahmanto
Penulis: Imam Rahmanto, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026