
Di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, transisi energi dimulai dari ruang kelas. Panel surya menjadi media belajar sekaligus menumbuhkan generasi yang peduli lingkungan.
1000 CAHAYA – Di tengah dunia yang kian resah oleh krisis iklim dan ketergantungan panjang pada energi fosil, sebuah langkah senyap namun penuh makna justru lahir dari ruang-ruang kelas. Bukan dari pusat kekuasaan, bukan pula dari korporasi raksasa, melainkan dari sebuah sekolah vokasi di jantung ibu kota.
SMK Muhammadiyah 1 Jakarta mengambil peran itu dengan mengubah ruang belajar menjadi ruang aksi, dan teori menjadi praktik nyata menuju masa depan energi bersih.
Cahaya dari Sekolah
Di atap sekolah, deretan panel surya kini berdiri kokoh, menyerap cahaya matahari yang selama ini kerap dianggap biasa. Namun di tangan para siswa, cahaya itu berubah menjadi energi, menjadi ilmu, bahkan menjadi harapan.
Panel-panel itu bukan sekadar perangkat teknologi, tetapi simbol transformasi bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan, melainkan harus membentuk kesadaran dan keterampilan untuk menjawab tantangan zaman.
Isu lingkungan kini menjadi perhatian utama di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Perubahan iklim, polusi, dan kerusakan lingkungan telah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia.
Dalam konteks ini, sekolah memiliki tanggung jawab besar sebagai tempat pembentukan karakter generasi muda. Pendidikan tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis dan kemampuan menciptakan solusi.
SMK Muhammadiyah 1 Jakarta menjawab tantangan itu melalui langkah konkret dengan menghadirkan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai media pembelajaran sekaligus sarana transformasi menuju sekolah berbasis energi terbarukan.
Gerakan Energi Bersih
Inisiatif tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kolaborasi bersama PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re dalam Program Pelatihan Panel Surya untuk Negeri.
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 16 Oktober 2025 menjadi tonggak penting yang menandai komitmen bersama antara dunia pendidikan dan industri.
Langkah itu selaras dengan arah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya percepatan menuju swasembada energi berbasis sumber daya nasional yang bersih dan efisien.
Energi surya dipandang sebagai salah satu kunci kemandirian energi Indonesia di masa depan.
Namun di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, visi besar itu tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan hadir dalam bentuk nyata, panel surya berkapasitas 5.000 watt yang terpasang di rooftop sekolah, menghasilkan energi sekaligus pengalaman belajar.
Belajar dari Surya
Energi yang dihasilkan tidak hanya menghidupi operasional berbagai fasilitas, mulai dari ruang perpustakaan hingga laboratorium teknik kelistrikan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung.
Sistem tersebut mampu menurunkan emisi karbon hingga sekitar 12 ton CO₂ per tahun.
Di perpustakaan dan laboratorium, listrik yang mengalir kini berasal dari sinar matahari. Tiga unit pendingin ruangan dan sembilan lampu beroperasi menggunakan energi bersih.
Selain itu, siswa mempraktikkan langsung instalasi panel, memahami inverter, hingga menganalisis efisiensi energi.
“Dengan adanya pengembangan panel surya ini, kami semakin termotivasi untuk memanfaatkan energi terbarukan,” ungkap Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, Febriantoni.
Motivasi itu bukan datang secara instan. Sejak tiga tahun lalu, sekolah ini telah memulai langkah kecil melalui riset sederhana tentang lampu tenaga surya.
Dari eksperimen awal, kemudian berkembang menjadi implementasi nyata di lingkungan sekolah, termasuk di pos keamanan.
“Sekolah kami sebelumnya sudah mencoba panel surya versi kecil dan bahkan sempat kami ikut sertakan dalam expo tingkat nasional. Kami juga sudah memanfaatkannya di pos keamanan sekolah, di mana lampunya menggunakan baterai tenaga surya,” pungkasnya.
Sebagai sekolah vokasi dengan jurusan teknik instalasi tenaga listrik, SMK Muhammadiyah 1 Jakarta memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat pembelajaran berbasis praktik.
Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Jadi artinya ini justru lebih memperdalam ya bagaimana siswa atau pelajar memahami tentang apa itu panel surya dan sistemnya atau pemanfaatan teknologi energi bersih dan terbarukan,” ungkap Febriantoni.
Pendekatan ini menjadi sangat relevan di tengah kebutuhan industri yang semakin tinggi terhadap tenaga kerja di sektor energi bersih.
Dengan keterampilan yang dimiliki, siswa tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi pelaku utama dalam industri energi terbarukan.
Program tersebut menargetkan lahirnya lebih dari 200 teknisi PLTS tersertifikasi hingga 2030. Ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era energi baru.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari lompatan besar, melainkan dari langkah kecil yang konsisten dan berkelanjutan.
Dari satu lampu tenaga surya, berkembang menjadi sistem energi terintegrasi yang kini menjadi bagian dari ekosistem sekolah.
Sebagai sekolah vokasi dengan jurusan teknik instalasi tenaga listrik, SMK Muhammadiyah 1 Jakarta memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan pembelajaran berbasis energi terbarukan.
Program tersebut memperkuat kurikulum dengan pendekatan praktik langsung, memberikan pengalaman nyata kepada siswa.
Lebih luas lagi, program ini membuka peluang karier di sektor energi terbarukan yang terus berkembang, menjadikan siswa tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi.
Dari Nilai ke Aksi
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari gerakan 1000 Cahaya Muhammadiyah yang digagas Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Program ini bertujuan membangun ekosistem energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan, dengan menyasar sekolah, masjid, dan pesantren.
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
“Sekolah memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi. SMK Muhammadiyah 1 Jakarta menjadi sekolah pionir Program 1000 Cahaya untuk wilayah DKI Jakarta,” ungkap Hening.
Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah itu menambahkan, program tersebut merupakan kontribusi nyata Muhammadiyah dalam mendukung target net zero emission Indonesia pada 2050.
Menurutnya, integrasi pendidikan energi bersih dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi pendekatan khas yang tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga moral dan spiritual.
“Dengan kegiatan ini, kami berharap dapat memperkuat komitmen terhadap energi bersih, meningkatkan literasi energi terbarukan di kalangan generasi muda, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat dan industri,” kata Hening.
Konsep Green School yang diusung SMK Muhammadiyah 1 Jakarta memperlihatkan pendidikan dapat menjadi alat transformasi sosial. Sekolah tidak lagi hanya menjadi pengguna energi, tetapi juga produsen sekaligus pusat pembelajaran teknologi hijau.
Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) MUI, Suhardin, menyambut baik inisiatif tersebut sebagai bagian dari gerakan kolektif umat dalam menjaga lingkungan.
“Jadi gerakan ini sangat komprehensif bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, mempromosikan penggunaan energi bersih dan terbarukan, serta mendorong efisiensi energi di masyarakat, yang dianggap sebagai tanggung jawab moral dan spiritual,” ujarnya.
Ia juga menegaskan aksi iklim harus menjadi bagian dari kesadaran umat, bukan sekadar program formalitas.
“Kita harus melakukan gerakan pemuliaan lingkungan hidup dan aksi iklim itu adalah bagian daripada denyut kesadaran individual, denyut kesadaran komunitas, dan denyut kesadaran umat, dalam rangka kita melihat permasalahan bumi ini,” tegas Suhardin.
Dari perspektif ini, “hijrah energi” bukan sekadar perpindahan dari energi fosil ke energi terbarukan. Ia adalah transformasi nilai, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari eksploitasi menuju keberlanjutan, dari ketidakpedulian menuju tanggung jawab.
SMK Muhammadiyah 1 Jakarta telah memulai hijrah itu. Dari atap sekolah, dari ruang kelas, dan dari semangat siswa yang belajar memahami masa depan.
Ke depan, sekolah ini berencana memperluas pemanfaatan energi surya ke gedung kedua, termasuk untuk kebutuhan listrik musala. Langkah ini menunjukkan komitmen terhadap energi bersih bukanlah proyek jangka pendek, melainkan bagian dari visi jangka panjang.
Hijrah Menuju Masa Depan
Hingga kini, sekitar 67 persen pembangkit listrik Indonesia masih bergantung pada batubara. Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi masih menghadapi tantangan besar.
Namun, perubahan tidak selalu harus dimulai dari skala besar, tetapi bisa dimulai dari sekolah, dari ruang kelas, dari langkah kecil yang konsisten.
SMK Muhammadiyah 1 Jakarta telah membuktikan bahwa hijrah energi bukan sekadar wacana, tetapi gerakan nyata. Dari atap sekolah, dari cahaya matahari, dan dari semangat belajar siswa, masa depan energi Indonesia mulai ditulis ulang.
Apa yang dilakukan SMK Muhammadiyah 1 Jakarta seharusnya menjadi inspirasi bagi sekolah lain di seluruh Indonesia.
Jika setiap sekolah mulai mengadopsi energi terbarukan, maka dampaknya akan sangat besar, tidak hanya dalam pengurangan emisi, tetapi juga dalam pembentukan generasi yang sadar lingkungan.
Hijrah energi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan bisa dimulai dari satu sekolah, satu panel surya, satu langkah kecil. Namun jika langkah itu dilakukan bersama-sama, ia akan menjadi gelombang besar yang mampu mengubah arah bangsa.
Dan mungkin, dari sinilah cahaya masa depan Indonesia benar-benar mulai menyala.***
Sumber: inilah.com/Mozaik Islam
Foto: Inilah.com/Rana
Penulis: Rana Setiawan/Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026