1000 Cahaya

Di tengah hutan jati Kulon Progo, Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum dulu kerap gelap. Kini panel surya hadir, menyalakan harapan dan mendukung belajar santri.

1000 CAHAYA – Di balik rimbun hutan jati di Kabupaten Kulon Progo, sebuah pesantren berdiri dalam kesunyian yang nyaris utuh. Tak ada hiruk-pikuk kota, tak pula gemerlap lampu yang biasa menandai kehidupan modern. Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum tumbuh di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi, sebagian besarnya masih berupa hutan. Bangunan yang ada pun sederhana, semi permanen, menyatu dengan denyut kehidupan para santri.

Di tempat seperti ini, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Pagi diisi dengan belajar, siang dengan aktivitas domestik, dan malam seharusnya menjadi ruang khusyuk untuk mengaji. Namun, justru di malam hari, keterbatasan paling terasa. Listrik yang tak stabil kerap membuat kegiatan belajar terganggu. Dalam beberapa kesempatan, para santri bahkan harus mengaji dalam gelap.

“Kadang saat tadarus, lampu mati. Santri jadi harus menyesuaikan,” ujar Abdul Fatah, pengasuh pesantren, suatu siang di awal April.

Letak pesantren yang berada di tengah kawasan hutan membuat akses listrik dari Perusahaan Listrik Negara tidak selalu bisa diandalkan. Padahal, kebutuhan energi terus meningkat seiring aktivitas harian pesantren. Lampu penerangan, kulkas, hingga peralatan sederhana seperti kipas angin dan mesin cuci menjadi bagian dari kebutuhan dasar.

Dalam sebulan, biaya listrik bisa mencapai sekitar Rp600 ribu. Bagi pesantren kecil di pelosok, angka ini bukan perkara ringan. Namun, seperti banyak ruang pendidikan berbasis komunitas di Indonesia, keterbatasan tak pernah benar-benar menghentikan langkah.

Di tengah situasi itu, sebuah inisiatif datang membawa kemungkinan baru. Tim dari 1000 Cahaya bersama Kitabisa.org dan GreenFaith Indonesia tiba di lokasi untuk memasang panel surya.

Perjalanan menuju pesantren ini hanya sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Namun secara pengalaman, jarak itu terasa lebih jauh. Jalan yang menyempit dan lanskap yang berubah perlahan menjadi hutan menghadirkan kesan terisolasi. Tim tiba menjelang siang, disambut hangat oleh pengurus dan santri.

Tak banyak waktu terbuang. Sekitar 10 orang teknisi langsung bergerak. Tiga panel surya dipasang di atap bangunan utama. Prosesnya relatif cepat, kurang dari satu jam. Setelah itu, baterai dipasang untuk menyimpan energi yang dihasilkan dari sinar matahari.

Bagi Sudarto M. Abukasim, Wakil Direktur 1000 Cahaya, pemasangan ini bukan sekadar bantuan teknis. Ia melihatnya sebagai langkah kecil dengan dampak berlapis.

“Ini bukan hanya soal listrik. Ini tentang bagaimana kita mengubah sinar matahari menjadi energi, dan kepedulian menjadi tindakan nyata,” katanya.

Program ini dirancang sebagai bentuk hibah energi. Tujuannya ganda: mengurangi beban biaya operasional pesantren sekaligus memperkenalkan energi bersih sebagai alternatif yang relevan, terutama di wilayah terpencil.

Gagasan ini sejalan dengan dorongan global untuk transisi energi. Namun, di tempat seperti Madaarijul ‘Ulum, transisi itu tak datang dalam bentuk kebijakan besar, melainkan melalui instalasi sederhana yang langsung menyentuh kebutuhan sehari-hari.

Proses pemasangan solar panel di Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum Kulon Progo. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi model sekaligus pusat inspirasi masa depan yang mandiri, bersih, dan berkelanjutan. Foto: Dok. 1000 Cahaya

Budi Setiawan dari Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai solusi ini kontekstual. Ia menyebut kondisi geografis pesantren yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi hutan membuat pasokan listrik kerap tidak stabil.

“Dengan panel surya, setidaknya ada sumber energi alternatif. Santri tidak harus selalu bergantung pada listrik yang sering padam,” ujarnya.

Sementara itu, Intan Mustikasari dari GreenFaith Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadirkan energi berkeadilan. Menurutnya, akses terhadap energi bersih masih belum merata, terutama bagi komunitas di wilayah terpencil.

“Melalui kerja sama dengan Kitabisa.org, kami mencoba menjembatani kebutuhan itu. Pesantren seperti ini seharusnya tidak tertinggal dalam akses energi,” katanya.

Lebih dari sekadar pemasangan teknologi, kehadiran panel surya membawa perubahan suasana. Malam yang sebelumnya gelap kini berpeluang menjadi lebih terang. Aktivitas belajar bisa berlangsung lebih stabil. Dan yang tak kalah penting, ada rasa bahwa mereka tidak sendirian.

Pesantren ini, dengan segala keterbatasannya, kini menjadi bagian dari narasi yang lebih besar: tentang bagaimana komunitas kecil bisa terhubung dengan gerakan global menuju keberlanjutan.

Di tengah hutan jati yang meranggas, matahari tetap setia bersinar. Kini, sinarnya tak lagi sekadar menerangi siang, tetapi juga disimpan, diolah, dan dihadirkan kembali sebagai cahaya di malam hari.

Dari tempat sunyi di pelosok Kulon Progo, sebuah pelajaran sederhana mengemuka: perubahan tak selalu datang dengan gemuruh. Kadang ia hadir pelan, menempel di atap bangunan, dan bekerja diam-diam menghidupkan harapan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *