Skip to main content

1000 Cahaya

Di Aisyiyah Boarding School Bandung, pendidikan tak berhenti di ruang kelas. Pengelolaan sampah, hemat energi, dan panel surya menjadi pelajaran hidup para santri.

1000 CAHAYA –  Siang itu, Jumat (10/4/2026), Kayyisa Deitra, santriwati kelas 11 di SMA Aisyiyah Boarding School Bandung berbaris mengantre untuk mengambil bagian makan siangnya.

Dia menenteng sebuah piring dan segera memenuhinya dengan nasi serta lauk pauk yang tersedia. Menu makanannya sederhana, tapi penuh gizi. Berasal dari sayur mayur yang ditanam dan dipanen para santriwati dari kebun sekolah.

Setelah perut terisi, Kayyisa bangkit menuju ke sudut ruangan. Siswi jurusan IPS itu membuang sisa makanan di tempat sampah berlabel “Sampah Organik” yang berada persis di sebelah tong sampah anorganik.

Kayyisa lalu bergeser menuju ke bak pencuci piring. Menyalakan kran air dan membasuh piring kotornya hingga bersih. Setelah itu, dia mematikan kran air dan beranjak ke tempat pengisian air minum dengan membawa tumbler berwarna pink miliknya.

“Kita di sini semuanya wajib punya tumbler masing-masing untuk jajan ke kantin. Terus juga wadah masing-masing biar tidak terlalu banyak membuang sampah plastik, bawa alat makan sendiri semuanya,” kata Kayyisa mengakui.

Aturan itu sama sekali tak memberatkannya. Dia justru merasa beruntung karena tak perlu mencari tempat sampah untuk membuang plastik pembungkus makanannya.

“Kalau makan di kantin pakai alat sendiri aku juga merasa lebih higienis. Meskipun harus nyuci, tapi aku suka dan tidak merasa keberatan,” ungkapnya. 

Kesadaran hemat energi di pesantren

Sejak masuk ke pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung, dia mengaku harus memiliki wadah makan dan tempat minum sendiri.

Sebab, pesantren ramah lingkungan itu mewajibkan seluruh santriwatinya membawa tempat makan dan minum masing-masing untuk mengurangi penggunaan plastik.

Kayyisa pun dituntut untuk menghemat penggunaan energi. Misalnya, mematikan lampu dan kipas saat meninggalkan asrama. Dia juga wajib mematikan kran saat air setelah digunakan.

“Di sini memang kita diajarkannya lebih ke penerapan kebiasaan sehari-hari. Kita diajarkan untuk mulai terbiasa melakukan hal-hal seperti menghemat energi,” ucapnya.

“Mungkin awalnya memang terpaksa, tapi lama-kelamaan jadi nyaman dan akhirnya terbiasa, baik di sini maupun di luar,” imbuh Kayyisa.

Di luar lingkungan pesantren, Kayyisa mulai sadar untuk menjaga lingkungan. Dia rela mengantongi sampah miliknya jika tidak menemukan tempat sampah terdekat.

“Aku masukin ke kantong dulu (sampahnya) atau masukin tas kalau enggak ada tong sampah di dekat aku. Baru nanti dibuang pas ada tong sampah,” ucapnya.

Kebiasaan sederhana Kayyisa tidak datang begitu saja. Kepala SMP Aisyiyah Boarding School Bandung Fitma Fitria Iqlima, mengatakan bahwa pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung mempunyai berbagai program untuk menanamkan kesadaran lingkungan bagi peserta didiknya, termasuk melalui pengelolaan sampah dan penghematan energi.

Program pertama yang wajib diikuti para santriwati adalah BBM (Bawa Botol Minum) dan BWS (Bawa Wadah Sendiri).

Ikhtiar bijak energi juga diwujudkan dalam penempelan stiker-stiker di sudut-sudut gedung pesantren. Stiker tersebut memperingatkan santriwati untuk menggunakan air secukupnya dan menyalakan lampu dengan bijak.

“Bijak energi itu monitoringnya susah ya. Kita enggak bisa mengendalikan teman-teman santri secara langsung. Pendamping juga tidak bisa menemani setiap saat. Jadi sebagai ikhtiar, kami menempelkan stiker-stiker,” tuturnya saat ditemui Kompas.com (10/4/2026).

Selain itu, pesantren yang juga dikenal sebagai green school ini mempunyai program “Tanam Apa yang Kau Makan”. Melalui program tersebut, santriwati diajarkan untuk menanam sayuran di kebun bagian depan sekolah, merawat, dan memanennya.

Beragam sayuran ditanam di lahan kebun pesantren, mulai dari kol, kangkung, selada, dan buah-buahan. Saat masa panen sudah tiba, para santriwati akan menikmati hasil panen mereka.

Jika hasil panen berupa sayuran, staf dapur akan membelinya untuk dimasak menjadi lauk pauk. Selama ini, hasil bumi tersebut mampu memenuhi 80 persen kebutuhan dapur untuk memasak makanan para santriwati.

Sementara jika yang dipanen adalah buah, santriwati akan mendapat jus atau buah potong saat snacktime.

Penanaman kesadaran hemat energi juga dibarengi dengan nilai-nilai Islam yang didasarkan pada Al quran dan Al hadits. Pemahaman ini disampaikan oleh tim Dirasah Islamiyah melalui mata pelajaran PAI dan kemuhammadiyahan.

“Ada juga yang lainnya, seperti kajian fikih ekologi. Fikih ekologinya disampaikannya sama tim yang konsen di bidang agama begitu,” tuturnya.

Hal ini sejalan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang juga mengeluarkan kurikulum perubahan iklim pada 2025.

Kurikulum ini diintegrasikan ke dalam capaian pembelajaran tentang iklim dengan mata pelajaran yang relevan, seperti IPA biologi, geografi, dan mata pelajaran lainnya.

 

Ubah sampah jadi berkah

Selain memilah sampah organik dan anorganik, pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung juga mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomis.

Sampah-sampah organik dari sisa makanan para santriwati diolah menjadi biogas menggunakan mesin biodigester.

Tim Sarana Prasarana Aisyiyah Boarding School Bandung, Darojat, mengatakan bahwa mesin biodigester yang baru datang dua bulan lalu ini mampu mengolah 25 kilogram (kg) sampah organik setiap harinya.

“Rata-rata sampah yang dihasilkan itu 15 kg per hari. Tapi kalau digabung dengan sampah dapur bisa mencapai 25 kg per hari,” kata Darojat saat ditemui Kompas.com.

Seluruh sampah organik tersebut kemudian dicacah menggunakan mesin yang terletak di area workshop eco-green pesantren. Setelah itu, sampah yang berukuran lebih kecil dimasukkan ke dalam tabung mesin biodigester.

Darojat mengatakan, pompa mesin dan bakteri starter akan mengolah dan membusukan sampah organik menjadi pupuk serta biogas.

Pupuk yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman di kebun sekolah. Sedangkan biogasnya disalurkan lewat pipa yang terhubung dengan sebuah kompor di dapur pesantren.

“Nyala api dari biogas ketahanannya bisa kuat 2-3 jam untuk memasak,” kata Darojat.

Para santriwati sering memanfaatkannya untuk kegiatan memasak, khususnya mata pelajaran kewirausahaan. Hasil penjualan kegiatan kewirausahaan dialokasikan untuk dana organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Tak hanya mengolah sampah menjadi biogas, program green pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung juga memanfaatkan kembali sisa minyak jelantah melalui kerja sama dengan pengepul. Dalam satu bulan, pesantren itu menghasilkan 20 liter minyak jelantah.

“Minyak jelantahnya dijual perbulan atau 2 bulan sekali. Satu liternya itu Rp 6.000, nanti ada yang ngambil buat bahan baku biodiesel,” ungkap Darojat.

Adapun sampah-sampah anorganik yang sudah dipilah dimanfaatkan melalui bank sampah.

 

Kolaborasi pengelolaan sampah 1000 Cahaya Muhammadiyah

Upaya pengelolaan sampah yang maksimal mulai dari memilah, memroses, hingga memanfaatkan limbah menjadi barang yang bernilai ekonomis dilakukan Aisyiyah Boarding School Bandung bersama dengan 1000 Cahaya Muhammadiyah.

Baik Aisyiyah Boarding School maupun 1000 Cahaya Muhammadiyah percaya bahwa pemanfaatan sampah yang optimal dapat menciptakan lingkungan yang bersih.

Kedua organisasi itu juga menggalakkan penghematan energi melalui kebiasaan sehari-hari.

“Jadi rekap sampah memang kita ada laporannya ke 1000 Cahaya Muhammadiyah. Laporannya itu setiap bulan berapa input sampah dan konsumsi listriknya,” kata Darojat.

Dalam Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik 1000 Cahaya Muhammadiyah yang diikuti oleh Darojat dan 40 perwakilan pesantren Muhammadiyah lainnya di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam Cilongok, Banyumas pada 27 Februari-1 Maret 2026, upaya penghematan energi juga disampaikan.

Dalam pertemuan tersebut, Darojat mengaku mendapat ilmu baru tentang cara menghemat energi yang lekas diimplementasikannya di pesantren.

“Pelatihan di Banyumas itu kita dapat bagaimana menghemat energi lewat hal-hal kecil, seperti mencabut colokan-colokan dari stop kontak. Sebelumnya kami hanya mematikan power on/off-nya,” tuturnya.

Sesuai paparan, alat listrik yang tidak diputus langsung dari stop kontak masih mengonsumsi arus listrik sebanyak 0,2-20 watt. Jika dikalkulasi dengan jumlah alat elektronik di pesantren, kebiasaan tersebut mengakibatkan tagihan listrik bulanan melonjak.

Dengan mengadopsi perilaku hemat energi, Darojat berharap tagihan bulanan pesantren bisa berkurang.

“Tagihan listrik seluruh pesantren ini per bulan Rp 8 juta. Target kami setiap bulan bisa menurunkan hemat energi sampai 10 persen. Jadi hemat sekitar Rp 800.000,” kata Darojat.

Selain mengurangi tagihan, pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung juga mencatat seluruh pemasukan dari program eco-pesantren ke tim keuangan setiap bulan.

Sebagian dana yang terkumpul akan digunakan untuk membeli buku bagi santriwati. Sementara sisanya digunakan untuk pembiayaan kebun, seperti pengadaan bibit dan pupuk.

“Termasuk dari penjualan minyak juga dilaporkan. Jadi Aisyiyah Boarding School Bandung punya rekening khusus untuk pengelolaan dana ini,” ungkap Darojat.

 

Pemasangan panel surya perkuat transisi energi di pesantren

Optimalisasi energi di pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung tak berhenti di pengelolaan sampah saja. Lembaga pendidikan itu memperluas upaya penghematan energi fosil melalui investasi energi terbarukan lewat sistem pembangkit listrik (PLTS).

Bersama dengan 1000 Cahaya Muhammadiyah dan Lazismu KL ABS Bandung, Aisyiyah Boarding School Bandung menggalang dana bertajuk “Sedekah Energi Terbarukan” untuk membeli panel surya. PLTS tersebut rencananya akan dibangun di lahan pesantren seluas 5.000 meter persegi pada Mei 2026.

“Kita pasang (panel surya) di bulan Mei 2026, terutama untuk penyiraman kebun,” kata Darojat.

Dia menjelaskan, keputusan pemasangan panel surya bermula ketika Darojat mengikut lokakarya bersama 1000 Cahaya Muhammadiyah.

Di sana, ia menyadari bahwa penyiraman tanaman di kebun pesantren mengonsumsi energi listrik yang sangat tinggi. Akibatnya tagihan listrik melonjak.

Dengan memasang panel surya diharapkan pengeluaran bulanan dapat berkurang. Selain itu, investasi energi terbarukan ini juga selaras dengan program eco-pesantren, terutama untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan kemandirian energi.

1000 Cahaya Muhammadiyah menyambut baik keputusan tersebut. Direktur Program 1.000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan bahwa pihaknya bersedia membantu pemasangan energi terbarukan, baik dari aspek modal maupun sumber daya manusianya.

“Aku baru dapat kabar ini, kalau Aisyiyah Boarding School Bandung sudah melakukan pengadaan panel surya dan tengah merakitnya untuk segera dipasang,” kata dia sambil tersenyum bahagia.

Hening mengatakan, sedekah energi merupakan bagian dari program 1000 Cahaya Muhammadiyah bersama dengan Green Faith, organisasi yang memperjuangkan keadilan iklim dan energi bersih.

Kedua organisasi itu terlibat dapat penyusunan buku berjudul “Fikih Transisi Energi Berkeadilan” yang mengupas tentang transisi energi dari sudut pandang Islam. Sebagai implementasi dari konsep tersebut, 1000 Cahaya Muhammadiyah melakukan sosialisasi ke ranting Muhammadiyah.

Hasilnya, sejumlah komunitas, mulai dari sekolah, pesantren, hingga masjid satu per satu mulai hijrah dari energi fosil ke energi terbarukan.

Tak hanya sampai pada pemasangan, 1000 Cahaya Muhammadiyah juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan berupa edukasi dan peningkatan skill.

“Kami beri edukasi secara berkala, sehingga setelah ini harapannya mereka enggak berhenti,” kata dia.

Beberapa wujud pendampingan dan edukasi yang dilakukan adalah pengecekan dan audit penggunaan energi serta pengadaan manajer energi.

“Setelah audit energi, mereka akan tahu mana yang boros dan bisa menguranginya. Nanti di bulan berikutnya mereka bisa tahu berapa persentase pengurangan listriknya, apakah 10 persen, 20 persen, atau 30 persen,” ungkapnya.

Salah satu komunitas yang sudah menuai manfaat dari pemasangan sistem energi terbarukan adalah pondok pesantren Darul Aqram di Garut, Jawa Tengah. Lembaga tersebut telah memasang panel surya sejak 2019 atas bantuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) yang nilai bantuannya mencapai Rp 500 juta.

Enam puluh empat pelat panel surya dipasang di atap bangunan asrama putri dengan sistem on-grid, yakni tersambung langsung ke jaringan listrik PLN.

Ketika Matahari mulai menyingsing di wilayah yang dikelilingi pegunungan itu, sistem PLTS akan menyerap sinar Matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik dengan kapasitas 20 Kilowatt-peak (kWp).

Energi tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan gedung di bawahnya, yakni di asrama putri. Sejak panel surya dipasang, pesantren mampu menghemat tagihan listrik asrama putri sebesar 30 persen.

“Hampir 30-50 persen mengurangi beban pembiayaan listrik dari pesantren ini, khususnya buat dari asrama ini,” kata Kepala Bidang Rumah Tangga, Muhammad Noorjamil, saat ditemui Kompas.com, Kamis (9/4/2026).

 

Peran pesantren dalam transisi energi

Di tengah krisis lingkungan yang kian terasa, transisi energi menjadi hal mendesak untuk dilakukan. Tindakan ini bukan lagi menjadi tanggung jawab personal, tetapi juga masyarakat luas untuk giat menjaga Bumi.

Dalam perspektif Islam, menjaga Bumi bukan hanya menjadi pilihan sosial, melainkan amanah spiritual. Manusia diposisikan sebagai khalifah di Bumi yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan, alih-alih merusaknya.

Hening menerangkan, salah satu perwujudan dari menjaga Bumi adalah berhijrah dari energi fosil yang terbatas ke energi terbarukan.

“Selama ini energi yang kita gunakan bersumber dari fosil yang terbatas jumlahnya. Kalau terbatas berarti suatu hari nanti akan habis. Di sisi lain, energi fosil juga menimbulkan dampak yang kurang baik,” ucapnya.

“Nah, kalau sudah seperti ini kemudian berikutnya apa? Ya mari kita berhijrah ke energi surga yang berasal dari Gusti Allah. Contohnya, seperti energi Matahari, energi angin, atau energi air,” imbuh Hening.

Keterlibatan komunitas terhadap kesadaran penggunaan energi dan transisi energi sangat krusial.

Dosen di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Rachmawan Budiarto, mengatakan bahwa pesantren menjadi komunitas yang sangat strategis untuk menanamkan kesadaran penghematan energi dan transisi energi.

Hal ini karena pesantren menjadi tempat ratusan ribu santri dan santriwati menimba ilmu selama beberapa tahun.

“Kalau pesantren bisa menghemat energi dalam menjalankan fasilitas-fasilitasnya, maka itu sangat strategis karena efek menularnya bisa sangat tinggi,” kata Rachmawan saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).

Dia menerangkan, pesantren bisa menjadi wadah untuk menanamkan kesadaran hemat energi dalam jumlah individu yang besar. Implementasi transisi energi di pesantren juga bisa berpotensi diaplikasikan oleh para santri ketika lulus nanti.

Di samping itu, banyaknya pesantren yang beralih ke energi terbarukan, seperti pemasangan sistem panel surya juga bisa menghemat penggunaan energi fosil.

Dengan begitu, emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari sistem pembangkit listrik yang menggunakan minyak dan batubara juga berkurang.

Rachmawan menghitung, panel surya yang dipasang dengan kapasitas 20 kWp bisa mencegah emisi karbon dioksida sebanyak 17,4 kg (faktor emisi karbon dioksida = 0,87 kg/kWh).

Jika upaya transisi energi seperti yang diinisiasi 1000 Cahaya Muhammadiyah dapat diimplementasikan ke pesantren-pesantren lainnya di Indonesia, maka jumlah emisi karbon dioksida yang berkurang menjadi lebih besar.

“Saya sangat berharap kegiatan seperti 1000 Cahaya Muhammadiyah ini bisa diikuti oleh komunitas-komunitas lain. Tapi di sisi lain pemerintah juga semoga bisa memberikan dukungan lebih baik untuk komunitas-komunitas ini,” ucapnya.

 

Tren positif penggunaan energi terbarukan

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Widya Yudha, mengapresiasi peran pesantren dalam menanamkan penghematan energi dan penggunaan energi terbarukan.

Dia menjelaskan, saat ini Indonesia masih berada dalam fase akselerasi transisi energi dengan rekalibrasi target yang lebih kredibel. Akan tetapi, hasilnya mulai tampak nyata.

“Transisi energi Indonesia menunjukkan kemajuan nyata dengan arah kebijakan yang semakin ada,” kata dia, saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).

Data pada 2021-2025 menunjukkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) meningkat dari 11,83 persen pada 2021 menjadi 15,75 persen per 2025.

Meski angka itu sedikit di bawah target Renstra 2025 (16–20 persen), Satya mengatakan bahwa capaian ini menandakan progres yang konsisten.

Kedepannya, pemerintah akan terus melakukan percepatan implementasi dengan menetapkan target Renstra yang lebih realistis dan progresif, yakni 17-20 persen pada 2026.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah melakukan berbagai upaya, seperti substitusi pembangkit berbasis bahan bakar minyak (BBM) dengan (EBT), seperti PLTP dan PLTA.

Pemerintah juga mengembangkan klaster industri berbasis EBT dan optimalisasi bioenergi, seperti E5 dan bioethanol. Sinergi lintas sektor juga dilakukan melalui pengemabngan PLTS di beberapa wilayah bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan kesadaran komunitas, upaya menjaga Bumi menjadi gerakan kolektif. Langkah kecil tersebut menjadi gelombang besar yang bisa menekan emisi karbon dioksida dan merawat Bumi menjadi lebih lestari dan layak huni.***

Media : Kompas.com

Foto: Kompas.com/Alinda

Penulis: Alinda Hardiantoro, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *