
Transisi energi ternyata bisa dimulai dari pesantren. Di Kudus, panel surya menghemat listrik sekaligus menanamkan kebiasaan merawat bumi kepada santri.
1000 CAHAYA – Ahmad Ridwan Nofik Putra Darin, santri kelas dua belas asal Samarinda, Kalimantan Timur, tinggal di sebuah asrama putra tiga lantai milik Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. Ia berbagi kamar bersama sembilan santri lain dengan akses listrik yang terbatas.
Di dalam kamar, hanya tersedia beberapa titik colokan listrik. Keterbatasan itu memaksa para santri lebih disiplin menggunakan perangkat elektronik. Jika ada setrika yang lupa dicabut, hawa panas segera memenuhi ruangan dan memicu pemborosan listrik.
Pimpinan Pesantren Muhammadiyah Kudus, Oemar Teguh S. Laksana, mengakui kebiasaan santri sering kali membuat konsumsi listrik meningkat sia-sia.
“Sudah dipanasi tapi lupa dipakai nyetrika,” ujarnya saat ditemui IDN Times.
Pesantren yang berdiri di atas lahan sekitar 7.000 meter persegi itu memang beroperasi selama 24 jam penuh. Aktivitas asrama, laboratorium komputer, masjid, pompa air, hingga pendingin ruangan menyebabkan kebutuhan listrik terus meningkat setiap hari.
Kondisi tersebut membuat pesantren rentan ketika terjadi pemadaman listrik. Sebelum adanya panel surya, para santri pernah mengalami antrean panjang air wudhu karena pompa mati mendadak saat listrik padam menjelang Magrib.
Berangkat dari situasi tersebut, pihak pesantren mulai mencari solusi energi alternatif. Mereka kemudian memperoleh dukungan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui jejaring Muhammadiyah dan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut Oemar, pesantren sebenarnya sudah memiliki pengalaman mengembangkan energi alternatif sejak 2010 melalui pengolahan biogas dari limbah manusia untuk kebutuhan dapur keluarga ustaz.
“Ketika ada informasi program panel surya dari ESDM, kami langsung tindak lanjuti,” ujarnya.
Setelah melalui proses survei dan pengajuan, sistem PLTS resmi beroperasi optimal pada awal 2025. Panel-panel surya dipasang di atap asrama putra dengan kapasitas mencapai 8 kilo watt peak (kWp).
Sistem tersebut menggunakan model on-grid yang terhubung langsung dengan jaringan listrik PLN tanpa baterai penyimpanan. Saat cuaca cerah, energi yang dihasilkan mampu mencapai sekitar 7.000 watt dan otomatis mengurangi tarikan listrik dari PLN.
Meski tanpa baterai, dampak ekonominya terasa signifikan. Bendahara pesantren, Usih Rumanah, mencatat tagihan listrik bulanan yang sebelumnya mencapai sekitar Rp2,5 juta turun menjadi sekitar Rp1,5 juta setelah pemasangan PLTS.
“Anggaran ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan santri yang lain,” jelasnya.
Dana penghematan tersebut kemudian dialihkan untuk mendukung operasional pesantren, mulai dari kebutuhan dapur, alat tulis, hingga perbaikan fasilitas belajar santri.
Direktur Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, menilai keberhasilan teknologi seperti panel surya harus diiringi perubahan perilaku pengguna energi.
“Kalau penghuni asrama masih boros listrik, alat secanggih apa pun tidak akan optimal. Yang paling penting adalah perubahan kebiasaan,” tegas Hening.
Karena itu, pengurus pesantren memperketat pengawasan penggunaan energi. Para pengasuh rutin berpatroli ke kamar-kamar untuk memastikan lampu dan setrika tidak menyala sia-sia.
“Kami harus berkali-kali mengingatkan santri agar mematikan colokan setelah dipakai,” ujar salah satu pengasuh asrama, Yusrin.
Perlahan, kebiasaan hemat energi mulai tertanam di kalangan santri. Ahmad Ridwan mengaku kini lebih terbiasa mematikan alat elektronik setelah digunakan.
“Karena hemat energi itu bisa menjaga bumi dan pesantren supaya tidak boros,” katanya.
Keberhasilan pesantren di Kudus juga memperlihatkan potensi besar jika praktik serupa diterapkan secara luas. Data Kementerian Agama hingga Oktober 2025 mencatat Indonesia memiliki lebih dari 42.391 pesantren mandiri. Jika sebagian kecil saja mulai mengadopsi energi bersih, dampaknya terhadap pengurangan emisi karbon nasional akan sangat besar.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Biaya investasi awal, keterbatasan literasi teknis, serta prioritas kebutuhan dasar pesantren masih menjadi hambatan utama dalam pengembangan energi surya di lingkungan pendidikan keagamaan.
Meski begitu, pengalaman Pesantren Muhammadiyah Kudus membuktikan bahwa transisi energi bukan sesuatu yang mustahil dilakukan komunitas pendidikan berbasis agama.
Ketika panel surya di atap bekerja menyerap cahaya matahari dan para santri mulai disiplin mematikan colokan listrik, pesantren tersebut tidak hanya sedang menghemat biaya operasional. Mereka sedang menanamkan budaya baru tentang tanggung jawab merawat bumi kepada generasi muda.***
Sumber: IDN Times
Penulis: Dhana Kencana, Peserta Program Fellowship Journalist 1000 Cahaya 2026