1000 Cahaya

Di tengah krisis sampah nasional, PRM Slerok Tegal lewat program CEMERLANG membuktikan bahwa edukasi dan inovasi mampu mengubah sampah menjadi berkah.

 

1000CAHAYAMU – Permasalahan sampah di Indonesia telah menjadi isu serius yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan hingga lingkungan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, pada 2023, Indonesia menghasilkan 31,9 juta ton sampah, di mana 35,67% di antaranya tidak terkelola dengan baik.

Namun, di tengah tantangan ini, ada kisah inspiratif dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, yang berhasil mengubah sampah menjadi berkah melalui inovasi dan eduasi. Mereka menginisiasi program CEMERLANG (Cerdas Memilah Sampah dari Sekarang).

Program CEMERLANG yang diluncurkan pada 2020 ini lahir dari keprihatinan terhadap kebiasaan membakar sampah sembarangan dan minimnya fasilitas pengelolaan limbah di wilayah Slerok.

Santoso, penggagas program ini sekaligus pegiat lingkungan, menjelaskan bahwa Program CEMERLANG bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar memilah sampah menjadi limbah organik dan anorganik yang dapat diolah lebih lanjut.

Melalui pendekatan humanis, CEMERLANG berhasil mengubah pola pikir masyarakat. Sampah, yang sebelumnya dianggap menjijikkan, kini dilihat sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah, baik untuk lingkungan maupun ekonomi warga.

Tujuh Program Pengelolaan Sampah Inovatif dari PRM Slerok

Selain CEMERLANG, PRM Slerok juga mengembangkan tujuh program lain yang saling melengkapi. Ketujuh program tersebut yakni:

1. Tukar Sampah dengan Minyak

Warga dapat menukar sampah anorganik dengan minyak goreng atau sembako. Program ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendorong pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

2. Jelantah Jadi Berkah

Minyak jelantah yang dikumpulkan warga diolah menjadi biodiesel. Selain ramah lingkungan, program ini mencegah pencemaran saluran air akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan.

3. Menjaga Bumi dengan Takakura

Sampah organik diolah menjadi kompos berkualitas menggunakan metode Takakura. Hasilnya, warga dapat memanfaatkan pupuk organik untuk pertanian atau keperluan rumah tangga.

4. Retro Art

Program ini mengubah limbah plastik menjadi suvenir bernilai ekonomi tinggi, seperti tas, hiasan dinding, atau dompet.

5. Vertical Garden

Dengan memanfaatkan lahan sempit, warga diajak menanam sayur menggunakan teknik vertikal. Selain meningkatkan ketahanan pangan, program ini juga memperindah lingkungan.

6. Zero Lifestyle

Gaya hidup 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diterapkan di setiap keluarga untuk mengurangi timbulan sampah dan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan.

7. Komunitas ECO Enzim

Sampah organik cair, seperti kulit buah, diolah menjadi eco-enzyme, produk ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai pembersih rumah tangga alami.

Edukasi Jadi Kunci Keberhasilan  

PRM Slerok secara rutin mengadakan pelatihan daur ulang sampah dan penerapan 3R di setiap keluarga. Kegiatan edukasi ini dilakukan melalui pelatihan bulanan dan penimbangan sampah di Bank Sampah setiap minggu kedua.

Pendekatan yang dilakukan Santoso tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga jamaah masjid. Dengan cara ini, program pengelolaan sampah menjadi gerakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Santoso mengakui masih banyak kendala yang dihadapi, seperti keterbatasan anggaran dan fasilitas. Saat ini, beberapa program masih mengandalkan inisiatif pribadi, seperti penggunaan gas dari limbah ampas tahu. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, diharapkan dapat memperkuat program ini.

“Harapan kami, program-program ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi sirkular bagi masyarakat,” ujar Santoso.

Menginspirasi Perubahan yang Lebih Luas

PRM Slerok membuktikan bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menjadi solusi atas permasalahan sampah. Dengan pendekatan edukatif, masyarakat diajak untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap limbah yang mereka hasilkan.

Program-program yang diterapkan di Slerok menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Jika setiap komunitas dapat mereplikasi langkah ini, Indonesia yang bebas sampah bukanlah mimpi belaka.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *