
Ketika sampah menjadi persoalan bangsa, Desty Eka Putri Sari bersama Bank Sampah Digital dan ‘Aisyiyah memulainya dari hal sederhana: mengubah limbah menjadi harapan.
1000 CAHAYA – Indonesia sedang menghadapi krisis yang terlalu lama dianggap sepele. Setiap tahun, lebih dari 70 juta ton sampah diproduksi. Namun, alih-alih dikelola secara optimal, sebagian besar justru berakhir mencemari lingkungan.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2026 menunjukkan, hampir 40 persen sampah masih bocor ke alam, mengotori sungai, merusak laut, dan perlahan menggerogoti kesehatan publik.
Ini bukan lagi persoalan kebersihan. Ini kegagalan sistemik. Kita terlalu lama memandang sampah sebagai akhir dari konsumsi, bukan awal dari siklus baru. Kita membuang, melupakan, lalu berharap masalah selesai di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, TPA hanyalah penundaan krisis, bukan solusi.
Di tengah kebuntuan itu, sebuah model alternatif muncul dari Banten. Ia tidak besar, tidak glamor, tetapi menawarkan sesuatu yang jarang kita miliki dalam kebijakan publik, yaitu keberhasilan yang nyata dengan menginisiasi Bank Sampah Digital.
Lahir dari Krisis, Tumbuh dari Keterbatasan
Pengelolaan sampah di Indonesia masih terjebak pada pendekatan top-down yang sering terputus di tingkat masyarakat. Kebijakan tersedia, tetapi tidak selalu menjawab realitas di lapangan.
Di banyak wilayah, persoalan mendasar masih terjadi: tidak ada sistem pemilahan, fasilitas terbatas, kesadaran rendah, dan minim insentif ekonomi. Akibatnya, sampah tetap berakhir mencemari lingkungan.
Dalam kondisi itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci. Solusi tidak cukup datang dari atas, tetapi harus tumbuh dari bawah, dari rumah, dari kebiasaan, dari kesadaran kolektif.
Gerakan bank sampah digital dengan mengubah sampah jadi daya, dan menyalakan transisi energi dari akar rumput berawal dari kegelisahan Desty Eka Putri Sari sepulang dari Belanda pada 2020, setelah empat tahun mendampingi suaminya menuntaskan studi doktoral.
Saat ia kembali ke kampung halamannya, Desa Pelawad, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Ia pulang membawa pengalaman global, tetapi disambut persoalan yang sangat lokal, yakni tumpukan sampah menggunung di kanan-kiri jalan, berserakan tanpa pengelolaan.
Bau menyengat dan pemandangan kumuh itu seperti ironi atas semua pengetahuan yang pernah ia lihat di negeri maju.
“Masalahnya bukan pada kebijakan, tetapi pada jarak antara sistem dan realitas masyarakat. Karena itu, solusi harus dimulai dari komunitas,” ujar Desty seorang ibu dari tiga anak yang percaya perubahan paling awal lahir dari keluarga.
Mengubah Cara Pandang
Apa yang dilakukan Desty Eka Putri Sari melalui Bank Sampah Digital sederhana namun mendasar, yakni mengubah cara pandang terhadap sampah.

Sampah tidak lagi diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bernilai. Melalui sistem terukur, penimbangan, pencatatan, dan konversi nilai, sampah menjadi aset ekonomi yang bisa ditabung, dimanfaatkan, hingga disalurkan untuk kepentingan sosial.
Pendekatan ini menyasar akar persoalan, yaitu perilaku. Selama sampah dianggap tidak bernilai, masyarakat tidak terdorong untuk mengelolanya. Namun ketika ia memiliki nilai, kesadaran tumbuh dan perilaku pun berubah.
Pandemi Covid-19 mempercepat kesadaran itu. Banyak keluarga kehilangan penghasilan. Di tengah keterbatasan, bank sampah menjadi ruang baru pemberdayaan. Sampah bukan lagi residu, melainkan potensi ekonomi. Dari inisiatif kecil itu, gerakan berkembang.
Digitalisasi yang tak Elitis
Salah satu kekeliruan dalam transformasi digital di Indonesia adalah kecenderungan untuk memaksakan teknologi tanpa mempertimbangkan kesiapan masyarakat.
Bank Sampah Digital mengambil jalan berbeda. Alih-alih memaksakan aplikasi, mereka menggunakan pendekatan hibrida. Warga tetap menggunakan sistem manual, sementara data dikelola secara digital oleh tim. Ini bukan kemunduran. Ini strategi.
“Bank Sampah Digital beroperasi sebagai lembaga sosial yang memanfaatkan aplikasi untuk mencatat dan mengelola setoran sampah. Nasabah dapat mengecek saldo tabungan dan menentukan penjemputan melalui aplikasi,” jelas Desty.
Inovasi Bank Sampah Digital (BSD) tidak berhenti pada aplikasi. Lembaga ini membentuk unit bank sampah di tiap lingkungan RW. Warga menyetor sampah terpilah, kemudian tim pengelola menimbang dan mencatatnya.
Bagi Desty, digitalisasi seharusnya menjadi alat yang mempermudah, bukan penghalang partisipasi. Dalam konteks ini, inklusivitas jauh lebih penting daripada kecanggihan teknologi.
Perempuan dan Ekonomi Sirkular
Satu fakta yang tidak bisa diabaikan: mayoritas nasabah Bank Sampah Digital adalah perempuan, terutama ibu rumah tangga. Di sinilah letak kekuatan sesungguhnya.
Selama ini, perempuan sering ditempatkan sebagai objek program pemberdayaan. Namun dalam model ini, mereka justru menjadi aktor utama.
Mereka yang memilah sampah. Mereka yang menabung. Mereka yang mengelola hasilnya. Dari ruang domestik, mereka membangun ekonomi sirkular skala mikro. Ini bukan sekadar pemberdayaan ekonomi. Ini transformasi sosial.
Selain itu, terdapat Rumah Edukasi yang menyediakan pelatihan pemilahan sampah, pengelolaan daur ulang dan keterampilan kerajinan. BSD juga menjalankan BSD Mart, sebuah pasar daring yang membantu nasabah menjual produk hasil daur ulang.
Program OZON mengelola minyak jelantah agar tidak dibuang sembarangan dan diolah menjadi produk lain. Ada program PBB Sampah yang memungkinkan warga membayar pajak bumi dan bangunan dengan tabungan sampah. Sedekah Sampah menyalurkan nilai tabungan untuk beasiswa anak yatim, listrik rumah ibadah, dan bantuan sembako.
Program lain yang tak kalah menarik adalah Wirawaste yang mengajak anak muda dan pemilik kafe untuk menyediakan tempat pemilahan sampah, Modal Usaha Bergulir yang menyediakan pinjaman bebas bunga, serta Berobat Sampah yang memungkinkan warga menggunakan tabungan sampah untuk membayar pelayanan kesehatan.
Data sebagai Fondasi Perubahan
Dalam banyak program lingkungan, keberhasilan kerap berhenti pada retorika, bukan bukti. Bank Sampah Digital memilih jalur berbeda: berbasis data.
Pada 2022, Desty dipercaya menjadi CEO Bank Sampah Digital (BSD) Serang Raya. Dari dua titik awal, jaringan itu meluas menjadi 315 unit di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Cilegon. Anggotanya mencapai 6.800 orang, 98 persen perempuan dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Kehadian Desty dan Tim Bank Sampah Digitalnya merupakan oase, ketika Provinsi Banten berjuang mengatasi 7,19 ribu ton sampah setiap hari. Sebagai catatan, setiap bulan 8–15 ton sampah terkelola dan tersambung langsung ke industri. Data dari 2020-2025, hampir 850-900 ton sampah terselamatkan tidak bermuara di TPA.
Dalam enam tahun terakhir, mereka mampu mengelola ratusan ton sampah, mencegah limbah masuk ke TPA, dan menghasilkan nilai ekonomi hingga mendekati Rp1 miliar. Namun capaian ini bukan sekadar angka.
Data digunakan sebagai instrumen utama, untuk transparansi, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan. Di titik inilah digitalisasi menjadi relevan: bukan sebagai simbol kemajuan, tetapi sebagai alat untuk memastikan perubahan benar-benar terukur dan berkelanjutan.
Meski menjanjikan, model ini bukan tanpa keterbatasan. Pertama, skalanya masih terbatas. Dengan produksi sampah Banten mencapai ribuan ton per hari, kontribusi Bank Sampah Digital masih kecil secara kuantitatif.
Kedua, ketergantungan pada komunitas membuat ekspansi tidak mudah. Dibutuhkan local champion yang kuat di setiap wilayah.
Ketiga, nilai ekonomi sampah rumah tangga relatif rendah. Tanpa dukungan sistem industri yang lebih luas, potensi ini sulit berkembang maksimal.
Namun justru di sinilah pelajaran pentingnya: solusi tidak harus langsung besar untuk menjadi relevan.
“Kalau tidak kuat di hulu, mesin secanggih apa pun tak akan menyelesaikan masalah,” ujar Desty.
Bank Sampah Digital menjadi relevan bukan karena skalanya, tetapi karena pendekatannya yang membumi. Ia menunjukkan perubahan bisa dimulai dari rumah, teknologi dapat disesuaikan dengan konteks, dan ekonomi sirkular dapat tumbuh dari bawah.
Yang paling penting, komunitas ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar objek program. Dalam krisis sampah yang kompleks, pendekatan ini menghadirkan hal yang selama ini hilang: kedekatan dengan realitas masyarakat.
Kerja-kerja itu mendapat pengakuan luas. Pada 2025, ia meraih Juara 1 Ecopreneur dari Astra Infra Toll Merak–Tangerang Merak. Tahun sebelumnya, ia menerima Eka Tjipta Foundation Awards 2024 untuk kategori UMKM Digital Lingkungan. Pada 2023, ia terpilih sebagai Every You Does Good Heroes oleh Unilever.
Berkat konsistensi Bank Sampah Digital, pada tahun yang sama, Bank Sampah Digital mendapatkan penghargaan sebagai Bank Sampah Hidup Terbaik Tempat Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Bank Sampah Digital juga mendapatkan penghargaan Menara SGH Banten Terbaik, serta penghargaan Inovasi Kelompok Masyarakat oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Serang menganugerahkan Piagam Perempuan Pegiat Lingkungan pada 2022. Pada tahun yang sama, ia masuk Astra International Awards – SATU Indonesia kategori Komunitas Lingkungan.
Prestasi itu bukan muncul tiba-tiba. Sejak mahasiswa, Desty telah menunjukkan jejak kepemimpinan intelektual.
Ia pernah menjadi Mahasiswa Terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta pada 2010, dan bahkan pada 2004 meraih Juara IV Lomba Karya Tulis tingkat nasional yang diselenggarakan Departemen Pertahanan RI.
Bank Sampah Digital telah banyak berkolaborasi dan bekerja sama dengan para pihak diantaranya tiap swasta, pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan tentu saja masyarakat di tingkat RT, RW, dan desa.
Peran Ulama dan Gerakan Sosial
Peran ulama dan gerakan sosial menjadi penguat penting dalam mendorong kesadaran lingkungan berbasis nilai. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH-SDA MUI), Suhardin, menilai gerakan pengelolaan sampah seperti ini selaras dengan perkembangan digitalisasi dan memiliki dampak besar bagi generasi muda.
Pandangan tersebut menegaskan isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan keagamaan, edukasi, dan teknologi secara bersamaan.
Suhardin, juga menilai pengelolaan sampah berbasis digital menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan lingkungan saat ini, terutama dengan melibatkan keluarga dan komunitas sebagai fondasi gerakan.
“Itu bagian dari keniscayaan bagian daripada inovasi teknologi informasi, tata kelola sampah ini kita harapkan berbasis keluarga dan berbasis komunitas. Mudah-mudahan nanti hal-hal yang bersifat gerakan-gerakan lingkungan ini, tidak terpisahkan dengan sistem digitalisasi yang dikembangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, melihat adanya pergeseran paradigma yang signifikan.
Menurutnya, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menjijikkan, melainkan peluang untuk menciptakan nilai tambah bagi lingkungan dan ekonomi warga.
“Pendekatan ini menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujar Hening.
Ia menegaskan persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Jika direplikasi secara luas, Indonesia bebas sampah bukan hal yang mustahil.
Gerakan ini kini meluas ke isu energi melalui program 1000 Cahaya. Di tingkat komunitas, Desty mendorong efisiensi energi lewat langkah sederhana, yakni mematikan lampu, menghemat listrik, dan membangun kebiasaan kecil yang berdampak besar.
Istilah “transisi energi” tidak lagi menjadi jargon teknis, melainkan diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, bagaimana agar listrik cukup hingga akhir bulan. Edukasi ini disampaikan secara konsisten, termasuk dalam pengajian dan majelis taklim.
Dari ruang-ruang sederhana itulah pesan lingkungan menyebar. Seribu Cahaya bukan sekadar simbol, tetapi praktik nyata yang hidup di tengah masyarakat.
Perubahan Dimulai dari Hal Kecil
Jika pemerintah serius mengatasi darurat sampah, maka model seperti Bank Sampah Digital tidak boleh dipandang sebagai inisiatif pinggiran. Ia harus diangkat menjadi bagian dari strategi nasional yang terstruktur dan berkelanjutan.
Langkah yang diperlukan jelas. Pertama, replikasi berbasis komunitas, bukan sekadar proyek sesaat, tetapi pembangunan ekosistem yang hidup di masyarakat. Kedua, pemberian insentif ekonomi agar sampah memiliki nilai yang layak dan menarik untuk dikelola.
Ketiga, integrasi dengan industri guna memastikan rantai pasok berjalan dan hasil pengelolaan tidak terhenti di tingkat komunitas. Keempat, penguatan edukasi yang dimulai dari rumah tangga sebagai fondasi perubahan perilaku.
Tanpa langkah konkret ini, pengelolaan sampah akan terus berjalan parsial, sekadar tambal sulam tanpa menyentuh akar persoalan.
Perubahan besar tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Justru sering bermula dari langkah kecil yang konsisten. Satu rumah mulai memilah sampah, satu komunitas mulai bergerak, dan satu sistem berjalan dengan disiplin.
Bank Sampah Digital menunjukkan solusi tidak harus sempurna untuk memberi dampak. Ia bekerja, nyata, dan menghadirkan harapan.
Di tengah krisis yang kian kompleks, yang dibutuhkan bukan sekadar teknologi canggih atau kebijakan megah, melainkan keberanian untuk memulai dari bawah, dari hal sederhana yang dilakukan bersama.***
Sumber: inilah.com/Mozaik Islam
Foto: Inilah.com/Rana
Penulis: Rana Setiawan/Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026