
Green Hero ’Aisyiyah dari Kota Delta, Sidoarjo, ini menyalakan gerakan sunyi dari dapur hingga masjid, sains dirawat jadi aksi nyata menjaga bumi.
1000Cahaya – Di tengah riuh perbincangan tentang krisis iklim yang kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, Dr. Syamsudduha Syahrorini memilih jalan yang hening. Ia tidak berdiri di panggung kampanye besar, melainkan di dapur rumahnya di Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo. Di sana, dengan timbangan digital dan toples plastik, ia meracik sisa kulit bawang, potongan buah, dan gula merah menjadi cairan fermentasi yang dikenal sebagai eco-enzyme.
Bagi perempuan yang akrab disapa Bu Rini itu, cairan cokelat hasil fermentasi tiga bulan bukan sekadar pembersih alami. Ia adalah simbol kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang paling dekat, dari kebiasaan paling sederhana. “Kalau perubahan iklim terasa jauh, sampah dapur itu yang paling dekat dengan kita,” ujarnya suatu ketika.
Langkah Bu Rini tidak lahir dari ruang aktivisme, melainkan dari disiplin teknik. Lulusan S-1 Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang, S-2 Sistem Pengaturan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan doktor Ilmu Lingkungan Universitas Brawijaya itu bertahun-tahun berkutat dengan riset teknis. Ia memodelkan sebaran partikulat debu cerobong pabrik gula, mengembangkan sensor kualitas udara berbasis Internet of Things (IoT), serta menganalisis data suhu, sulfur dioksida, karbon monoksida, dan partikel tak kasatmata lain.

Dari laboratorium, ia belajar bahwa setiap sistem saling terhubung. Perubahan kecil pada satu variabel dapat mengganggu keseimbangan keseluruhan. Cara pandang sistemik itulah yang kemudian ia bawa ke ranah sosial.
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik balik. Ketika aktivitas publik menyusut dan rumah menjadi pusat kehidupan, Bu Rini mengikuti pelatihan eco-enzyme yang digagas jejaring komunitas lingkungan, termasuk bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Ia lalu terhubung dengan Komunitas Eco Enzyme Harmoni Surabaya dan mulai mengajak warga sekitar mengolah sampah organik secara mandiri.
Ia menyadari, solusi lingkungan tidak selalu rumit dan mahal. Justru, ia bertumpu pada kebiasaan. Dari dapur, ia melangkah ke ruang organisasi.
Saat dipercaya memimpin Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sidoarjo, organisasi perempuan Muhammadiyah, Bu Rini merancang gerakan berbasis rumah tangga: memilah, mengolah, dan mengurangi sampah. Ia menjelaskan kepada para ibu tentang bahaya emisi metana dari sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan akhir.

“Kalau dibuang ke TPS, sampah organik menghasilkan gas metana. Itu jejak karbon yang memperparah pemanasan global,” katanya dalam sebuah forum diskusi.
Bahasanya sederhana, tetapi berpijak pada sains. Ia tidak sekadar mengajak, melainkan menunjukkan prosesnya. Dari fermentasi eco-enzyme hingga tahap lanjutan yang menghasilkan cairan pembersih ramah lingkungan, semua ia uraikan dengan pendekatan praktis.
Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Kepala Laboratorium Terpadu Fakultas Sains dan Teknologi, ia mengintegrasikan pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa dilibatkan dalam program pengabdian di panti asuhan, melatih pengurus dan anak-anak memilah sampah serta mengolah limbah dapur.
Di ruang kelas, ia membimbing mahasiswa mengembangkan aplikasi prediksi konsumsi listrik berbasis Python. Aplikasi itu menghitung estimasi tagihan listrik dari data peralatan elektronik dan lama pemakaian, sekaligus menampilkan potensi penghematan energi.
Baginya, kampanye hemat energi harus konkret. “Bukan sekadar imbauan. Harus ada hitungannya,” tuturnya.
Pada 2025, ia menggelar sosialisasi hemat energi yang dihadiri ratusan perwakilan majelis, guru, dan cabang ‘Aisyiyah se-Sidoarjo. Ia memperkenalkan penggunaan lampu LED, pengaturan suhu pendingin ruangan, hingga simulasi perhitungan kilowatt-hour melalui aplikasi sederhana. Ia menyebutnya sebagai upaya menggerakkan “power mak-mak”—kesadaran ibu rumah tangga sebagai pengelola utama konsumsi energi domestik.

Langkahnya tidak berhenti di rumah dan kampus. Dalam program pengabdian lintas disiplin, ia bersama mahasiswa memasang dua unit penerangan jalan umum tenaga surya di Kampung Kopi, Desa Jatiarjo, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Panel surya dirakit dengan biaya terjangkau dan kini menyala setiap senja.
Bagi warga, lampu itu sekadar penerangan. Bagi Bu Rini, ia adalah simbol transisi energi—tanda bahwa energi terbarukan bukan wacana eksklusif, melainkan solusi yang dapat dirakit bersama.
Ia juga menggandeng Badan Usaha Milik Desa untuk memperkuat tata kelola wisata sekaligus mengenalkan energi bersih. Di Sidoarjo, ia menginisiasi konsep Green Masjid: pengolahan sampah menjadi eco-enzyme dan eco-brick, budidaya ikan dalam ember terintegrasi tanaman hidroponik, hingga kampanye pengumpulan minyak jelantah agar tidak mencemari saluran air.
Isu sanitasi pun disentuh. Ia mengingatkan pentingnya pengurasan septic tank berkala untuk mencegah pencemaran dan risiko gas berbahaya. Baginya, lingkungan adalah ekosistem terintegrasi: dari dapur, masjid, sekolah, hingga desa wisata.
Lahir di Sidoarjo, 8 Juli 1970, Bu Rini tumbuh dalam keluarga Muhammadiyah. Ibunya aktif di ‘Aisyiyah dan mewariskan pesan agar ia melanjutkan kiprah organisasi. Amanah itu ia jalani tanpa gemuruh.
Perjalanannya dimulai sejak aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, lalu di majelis sosial, hingga kini memimpin bidang lingkungan. Transformasi dari isu kesejahteraan sosial menuju energi dan lingkungan berlangsung alami, seiring latar akademik multidisipliner yang ia miliki.

Ia menyadari, sosialisasi mudah menguap tanpa evaluasi. Karena itu, ia merancang pemantauan berkala untuk memastikan praktik hemat energi benar-benar diterapkan di rumah tangga.
Di rumahnya sendiri, memilah sampah dan menghemat listrik menjadi kebiasaan keluarga. Dukungan suami dan anaknya memperkuat langkah itu.
Jejak Bu Rini mungkin tak selalu riuh. Ia bergerak dari forum kecil ke forum kecil, dari dapur ke laboratorium, dari masjid ke kampus. Namun justru di situlah makna Green Hero menemukan wujudnya: bukan pada sorot lampu, melainkan pada konsistensi.
Di Kota Delta yang lekat dengan industri dan dinamika lingkungan, seorang perempuan berlatar elektro merajut kabel-kabel sains dengan denyut komunitas. Dari partikel debu hingga panel surya, dari eco-enzyme hingga aplikasi penghemat listrik, ia menunjukkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang terukur dan dijaga nyalanya, hari demi hari.***
Green Hero di ramadhan ini dalam pengendalian diri untuk menumbuhkan empati sesama, pengendalian dengan hemat energi, hemat air, hemat plastik, hemat makanan guna menjaga keseimbangan alam semesta agar tetap aman, nyaman dan sehat.
Cintailah bumi, langit pun akan mencintai kita, jagalah alam niscaya kehidupan akan keberlanjutan