1000 Cahaya

Di tengah suhu ekstrem dan ancaman krisis iklim, Green Pesantren Subulus Salam, Tegal, JawaTengah, hadir sebagai ikhtiar hijau merawat bumi dari lingkungan pesantren.

1000 CAHAYA – Perubahan iklim telah menjadi isu penting di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu rata-rata di Indonesia pada Oktober 2024 lalu mencapai 27,78°C, dengan suhu maksimum harian menyentuh 38°C.

Fenomena suhu ekstrim ini disebabkan oleh pemanasan global dan fase El Niño yang memengaruhi cuaca ekstrem. Tak hanya berdampak pada lingkungan, kondisi ini juga mengancam kesehatan masyarakat, terutama melalui risiko dehidrasi dan kelelahan.

Sebagai salah satu negara dengan emisi gas rumah kaca tertinggi di dunia, Indonesia berada di peringkat keenam setelah negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat. Deforestasi yang masif serta konversi lahan gambut menjadi penyebab utama emisi karbon yang kian meningkat, meskipun kawasan hutan tropis Indonesia seharusnya menjadi penyerap karbon yang vital.

Di tengah tantangan ini, berbagai upaya mitigasi diperlukan untuk menekan dampak perubahan iklim, salah satunya adalah penghijauan. Langkah konkret diambil oleh Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Subulus Salam, Kota Tegal, melalui program inovatif bernama Green Pesantren.

Green Pesantren: Solusi Lokal untuk Isu Global  

Terletak di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa yang dikenal dengan cuacanya yang terik, Pondok Pesantren Subulus Salam menciptakan program Green Pesantren untuk menjawab tantangan iklim lokal.

Nur Faizin, salah satu pengajar di Pondok Pesantren Subulus Salam mengatakan, program ini berfokus pada dua elemen utama yakni penanaman pohon dan tanaman hias di lingkungan pesantren.

“Penanaman pohon merupakan upaya kami untuk menurunkan suhu udara yang tinggi, terutama karena pesantren ini berada di daerah pesisir yang panas dan lembap,” ujar Nur Faizin.

Jenis pohon yang ditanam meliputi pucuk merah, cemara, ketapang, mangga, kelengkeng, dan jambu air. Pohon-pohon ini bukan hanya berfungsi estetika, tetapi juga membantu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi para santri.

Selain pohon, berbagai tanaman hias seperti lidah mertua, monstera, melati, dan palem juga ditanam di sekitar pesantren.

“Tanaman hias tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga mampu menyerap polutan udara dan menurunkan suhu sekitar,” tambahnya.

Hasilnya, lingkungan pesantren menjadi lebih asri, sejuk, dan kondusif untuk proses belajar-mengajar.

Dampak Positif yang Terasa  

Program Green Pesantrendi Pondok Pesantren Subulus Salam ini telah membawa perubahan signifikan. Selain menurunkan suhu di lingkungan pondok, keberadaan pohon dan tanaman hias meningkatkan kualitas udara di area pesantren. Udara menjadi lebih segar, polutan berkurang, dan suasana belajar para santri semakin nyaman.

Namun, dampak Green Pesantren tidak berhenti di situ. Subulus Salam juga berhasil mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulumnya. Santri diajarkan bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi.

Kesadaran lingkungan yang ditanamkan sejak dini ini diharapkan menjadi bekal bagi para santri untuk membawa perubahan positif di masyarakat.

Inspirasi untuk Masyarakat Sekitar  

Program Green Pesantren Pondok Subulus Salam tidak hanya berdampak di lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar. Nur Faizin berharap, inisiatif ini dapat mendorong komunitas lokal untuk ikut serta dalam penghijauan dan pelestarian lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menanam pohon bisa membawa dampak besar dalam menghadapi perubahan iklim,” tuturnya.

Di tengah ancaman pemanasan global, Green Pesantren adalah contoh nyata bahwa solusi terhadap isu global dapat dimulai dari langkah-langkah lokal. Dengan dukungan dari berbagai pihak, model seperti ini dapat direplikasi di pesantren dan komunitas lain di seluruh Indonesia, membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *