1000 Cahaya

Wakil ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jepara, Deny Ana I’tikafia. (IDN Times/Dhana Kencana)

Deny Ana I’tikafia, sosok Kartini masa kini ini sukses menggerakkan dakwah digital lewat WhatsApp untuk menanamkan budaya hemat energi dan peduli lingkungan di kalangan kader ‘Aisyiyah se-Jawa Tengah.

1000 CAHAYA – Di tengah peringatan Hari Kartini, kisah Deny Ana I’tikafia menghadirkan makna baru tentang emansipasi. Bukan melalui panggung besar atau kebijakan negara, Deny memilih jalur sunyi: mengetik pesan-pesan sederhana dari layar ponselnya. Dari sana, ia menyalakan gerakan hemat energi yang pelan tapi pasti mengubah kebiasaan perempuan di rumah tangga.

Setiap dini hari, usai Tahajud, jari-jemarinya bergerak di atas gawai. Ia menulis refleksi, cerita pendek, hingga ajakan hemat listrik yang kemudian dibagikan ke grup WhatsApp kader ‘Aisyiyah di 35 kabupaten di Jawa Tengah. Bagi Deny, dakwah hari ini tak lagi terbatas mimbar. Ruang digital adalah ladang baru untuk menanam kesadaran lingkungan.

Langkah itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum berbicara soal energi, Deny lebih dulu menggerakkan isu lingkungan lain, mulai dari pengelolaan sampah hingga penanaman pohon dengan sistem “pola asuh”. Ia ingin memastikan bahwa perubahan tidak berhenti pada seremoni, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan yang dirawat.

Kini, fokusnya meluas pada efisiensi energi. Momentum Ramadan 2026 ia manfaatkan untuk meluncurkan kampanye Green Ramadan. Pesannya lugas: kerusakan bumi bukan semata takdir, tetapi hasil dari gaya hidup manusia yang boros, termasuk dalam penggunaan listrik sehari-hari.

Namun, jalan yang ia tempuh tidak selalu mulus. Di ruang digital, pesan-pesan Deny kerap berhadapan dengan sunyi. Tidak sedikit tulisannya berakhir tanpa respons. Ia bahkan sempat ragu, apakah ajakan sederhana seperti mencabut colokan atau mematikan kipas angin benar-benar dibaca.

Tantangan itu tidak hanya datang dari sikap apatis masyarakat, tetapi juga dari bias sosial yang lebih dalam. Di satu sisi, kelompok terpelajar kerap meremehkan isu hemat energi sebagai hal sepele. Di sisi lain, masyarakat ekonomi bawah merasa penghematan listrik tidak cukup signifikan untuk mengubah kebiasaan.

Wakil ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jepara, Deny Ana I’tikafia mematikan kipas angin di rumahnya. (IDN Times/Dhana Kencana)

Situasi tersebut berdampak langsung pada perempuan. Dalam banyak rumah tangga, beban untuk mengatur konsumsi energi justru jatuh ke tangan ibu rumah tangga. Ketika anggota keluarga lain abai, perempuan harus memikul tanggung jawab tambahan—sebuah realitas yang tak jarang memicu kelelahan mental.

Di tengah tantangan itu, secercah harapan datang dari pesisir Jepara. Sri Rahayu, seorang kader lansia, membuktikan bahwa pesan sederhana bisa berbuah nyata. Tanpa banyak teori, ia mempraktikkan hemat energi dalam keseharian: mematikan lampu saat pagi, membuka pintu untuk memanfaatkan angin laut, hingga menempelkan pengingat di sudut rumah.

Perubahan itu tidak instan. Ia sempat menghadapi protes dari suaminya. Namun, konsistensi perlahan mengubah keadaan. Dalam tiga tahun, tagihan listrik rumah tangganya turun hingga 50 persen. Lebih dari sekadar angka, kebiasaan baru itu menjadi budaya yang mengakar.

Kisah tersebut menjadi titik balik bagi Deny. Ia menyadari bahwa perubahan tidak membutuhkan pendekatan rumit. Keteladanan dan konsistensi jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi. Dari situlah ia semakin yakin untuk terus melanjutkan dakwah digitalnya.

Dalam keseharian, Deny juga mempraktikkan apa yang ia tulis. Di kantor, ia tak segan mematikan lampu yang dibiarkan menyala. Dalam berbagai forum ‘Aisyiyah, ia mendorong agar pesan hemat energi selalu disisipkan. Ia bahkan meminta kader mendokumentasikan aksi mereka, agar gerakan ini tidak berhenti sebagai wacana.

Upaya tersebut menjadi bagian dari program yang lebih besar, yakni “1000 Cahaya Aksi Perempuan Jaga Bumi”. Program ini menempatkan perempuan sebagai aktor kunci dalam transisi energi, terutama di sektor rumah tangga yang menjadi pusat konsumsi listrik.

Meski demikian, para pegiat mengingatkan bahwa gerakan ini harus berjalan beriringan dengan keadilan dalam keluarga. Tanpa dukungan anggota keluarga lain, upaya hemat energi berisiko menjadi beban tambahan bagi perempuan. Karena itu, perubahan perilaku harus bersifat kolektif.

Deny memahami betul tantangan tersebut. Baginya, gerakan ini bukan sekadar soal menekan tagihan listrik, tetapi tentang membangun kesadaran bersama. Ia percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Di Bumi Kartini, Deny terus melangkah. Ia mengabaikan cibiran, menepis keraguan, dan tetap menekan tombol “kirim” setiap hari. Baginya, setiap pesan adalah sedekah ilmu, setiap ajakan adalah bagian dari ibadah.

Kisah Deny menunjukkan bahwa Kartini masa kini tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang, ia hanya seorang ibu yang setia menulis di layar ponsel. Namun dari situlah, perubahan perlahan tumbuh: menyala dari rumah ke rumah, hingga menjadi gerakan yang menjaga bumi.***

Diolah ulang dari artikel Dhana Kencana peserta Fellowship Liputan Khusus Energi Program 1000 Cahaya Muhammadiyah berjudul:  Dakwah Deny dari Gawai Menggerakkan Budaya Hemat Energi di Bumi Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *