
Saat kota industri Gresik sibuk membakar energi, Smamio justru memanen cahaya matahari dan mengubahnya jadi listrik dan kesadaran baru bagi seluruh anak didik mereka.
1000 CAHAYA – Di tengah kepungan kawasan industri dan panas pesisir utara Jawa, sebuah gedung lima lantai berdiri tegak di Kawasan Gresik Kota Baru (GKB), Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kaca-kaca lebarnya memantulkan cahaya siang, sementara di atapnya, 76 panel surya bekerja senyap menyerap terik matahari. Di sanalah SMA Muhammadiyah 10 Gresik—akrab disapa Smamio—menyemai ikhtiar baru: memanen energi surya untuk menghidupi ruang-ruang belajar sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis sejak bangku sekolah.
Didirikan pada 2015 di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah GKB, Smamio tumbuh dari lahan kosong menjadi institusi pendidikan dengan 18 ruang belajar dan 531 siswa. Akreditasi A diraih dalam waktu relatif singkat. Namun, yang membuatnya menonjol bukan semata capaian administratif, melainkan keberanian berinvestasi pada masa depan, tepat di atap gedungnya.

Sejak 2020, di masa pandemi Covid-19, sekolah ini memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas sekitar 35 kWp dengan sistem on-grid. Tanpa baterai penyimpanan, energi yang dihasilkan langsung terhubung ke jaringan listrik utama dan dipakai untuk kebutuhan harian sekolah. Di negara tropis seperti Indonesia, langkah ini terasa logis. Sinar matahari melimpah hampir sepanjang tahun, terlebih di Gresik yang suhu hariannya kerap menyentuh 30–35 derajat Celsius.
Bagi Smamio, keputusan tersebut bukan sekadar mengikuti tren energi terbarukan. Dengan gedung lima lantai, dua lift, seluruh kelas berpendingin udara, laboratorium, ruang pertemuan, hingga masjid dalam satu kompleks, konsumsi listrik menjadi kebutuhan tak terhindarkan. Namun tagihan bulanan yang berkisar Rp 15–20 juta masih bisa ditekan berkat kontribusi panel surya.
“Setelah PLTS terpasang, kami merasakan penghematan yang cukup signifikan, sekitar 25 sampai 40 persen dari biaya listrik bulanan. Untuk ukuran sekolah dengan beban seperti kami, itu sangat membantu,” ujar Kepala SMA Muhammadiyah 10 Gresik, Ulyatun Nikmah.

Di kota industri yang panas dan padat, pendingin udara bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar demi kenyamanan belajar. Menariknya, panel surya justru bekerja optimal saat matahari berada di puncak terik—persis ketika beban listrik sekolah sedang tinggi. “PLTS ini menjadi solusi rasional bagi kami. Ketika siang hari aktivitas belajar penuh dan AC menyala, panel surya ikut menyuplai. Jadi ada efisiensi nyata,” kata Ulyatun.
Namun cerita Smamio tidak berhenti pada angka penghematan. Panel-panel di atap itu diubah menjadi laboratorium hidup. Sebagai sekolah dengan tagline “Career and Research School”, Smamio mewajibkan siswa kelas XI mengikuti pembelajaran riset dan menyusun proyek akhir bertajuk Final Assessment for Research (FAR). Isu energi dan lingkungan menjadi tema kontekstual yang dekat dengan keseharian mereka.
Siswa diajak menghitung jejak karbon pribadi, kelas, hingga sekolah. Mereka membandingkan konsumsi listrik sebelum dan sesudah PLTS terpasang, lalu mendiskusikan implikasinya terhadap emisi tidak langsung dari pembangkitan listrik berbasis fosil. Dari sana, energi tak lagi dipahami sebatas sakelar yang menyalakan lampu, melainkan sebagai rangkaian proses panjang yang berdampak pada bumi.

“Yang paling penting bagi kami bukan hanya panelnya, tetapi mindset anak-anak. Mereka harus paham bahwa ada alternatif energi yang lebih bersih. Bahwa listrik tidak selalu identik dengan bahan bakar fosil,” tutur Ulyatun.
Penjelasan teknis tentang sel fotovoltaik—bagaimana cahaya matahari diubah menjadi listrik—diberikan secara sederhana. Tujuannya bukan mencetak insinyur dalam sekejap, melainkan menanamkan kesadaran bahwa sumber energi bisa dipilih, dan pilihan itu memiliki konsekuensi ekologis. “Harapan kami, anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga punya kepekaan ekologis. Mereka tahu bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab moral,” ujarnya.
Upaya itu diperkuat dengan budaya hemat energi. Manajemen sekolah mengatur penggunaan lift, mematikan AC pada jam tertentu, serta mendorong kesepakatan kelas untuk bijak memakai listrik. Di asrama, disiplin penggunaan energi diterapkan lebih ketat pada malam hari. Pendekatan ini lebih berupa pembiasaan ketimbang sekadar aturan teknis. Siswa diajak berdiskusi dan menghitung sendiri selisih konsumsi listrik dalam berbagai skenario penggunaan.
“Efisiensi energi kami jadikan budaya, bukan sekadar kebijakan teknis. Anak-anak harus merasa memiliki tanggung jawab yang sama,” kata Ulyatun.

Komitmen pada lingkungan juga tampak di belakang gedung utama. Terdapat area hidroponik dan danau resapan yang dikenal sebagai Swan Lake. Meski kualitas airnya belum ideal akibat limpasan limbah rumah tangga sekitar, kawasan ini dimanfaatkan sebagai objek riset—mulai dari uji mikroplastik hingga eksperimen eco-enzyme untuk membantu menormalisasi air. Isu energi, air, dan lingkungan dipertemukan dalam praktik nyata, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Semangat riset itu ditopang sumber daya manusia yang mumpuni. Dari 45 guru, 16 di antaranya bergelar magister dan doktor, termasuk dari bidang sains murni. Tim pengembang riset lintas mata pelajaran memastikan budaya penelitian berjalan terstruktur. Hasilnya, sekitar 76 persen lulusan diterima di perguruan tinggi negeri dan kedinasan melalui berbagai jalur.
Di atas lahan hampir 9.700 meter persegi dengan bangunan sekitar 6.000 meter persegi, Smamio terus berbenah. Research center, student center, dan fasilitas boarding school dikembangkan bertahap. Namun, di antara semua pembangunan fisik itu, deretan panel surya di atap menjadi simbol paling terang.
“Panel surya ini bukan sekadar alat. Ia simbol komitmen kami untuk menjadi sekolah yang hijau secara fisik dan hijau dalam cara berpikir. Kami ingin tumbuh bersama zaman, tanpa meninggalkan tanggung jawab pada bumi,” kata Ulyatun.
Di kota industri yang panas, Smamio memilih menangkap cahaya matahari sebagai sumber energi sekaligus inspirasi. Dari atapnya, pesan sederhana disuarakan: pendidikan bukan hanya tentang menyiapkan masa depan siswa, tetapi juga tentang menjaga masa depan planet tempat mereka akan hidup.***
This information is very useful, I hope to see more articles like this.