Skip to main content

1000 Cahaya

Bagi RS Roemani Muhammadiyah Semarang, efisiensi listrik bukan sekadar mematikan lampu atau pendingin ruangan. Penghematan dibangun melalui disiplin, teknologi, dan budaya kerja yang menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

1000 CAHAYAMU – Rumah sakit tidak dapat menggunakan logika penghematan energi yang sama seperti gedung perkantoran biasa. Di fasilitas kesehatan, pendingin udara, ventilasi, pencahayaan, dan berbagai perangkat penunjang bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan bagian penting dari keselamatan pasien dan pengendalian infeksi.

Dilema itulah yang dihadapi RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Rumah sakit yang berdiri sejak 1975 tersebut setiap hari melayani ratusan pasien rawat inap maupun rawat jalan dengan kebutuhan energi yang sangat besar.

Beban listrik terbesar berasal dari sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) yang mengonsumsi sekitar 40–60 persen total energi gedung. Di satu sisi, rumah sakit harus menekan biaya operasional. Namun di sisi lain, penghematan yang keliru dapat mengganggu kualitas layanan medis dan membahayakan pasien.

Direktur Umum dan AIK RS Roemani, Syaifulloh, menjelaskan bahwa langkah efisiensi energi mulai diperkuat ketika rumah sakit mengalami penurunan kunjungan pasien pada Mei 2024.

“Kami harus melakukan efisiensi di berbagai sektor, termasuk listrik, logistik, dan tenaga,” ujarnya saat ditemui IDN Times.

Kebijakan tersebut berdampak signifikan terhadap pengeluaran listrik rumah sakit. Sebelum efisiensi dilakukan, tagihan listrik rata-rata mencapai sekitar Rp275 juta per bulan. Setelah berbagai langkah penghematan diterapkan, biaya listrik berhasil ditekan hingga kisaran Rp218 juta per bulan.

Artinya, rumah sakit mampu menghemat sekitar Rp55 juta setiap bulan tanpa mengurangi kualitas pelayanan medis kepada pasien.

Penghematan itu tidak dilakukan melalui satu kebijakan besar, melainkan dari berbagai perubahan kecil yang diawasi secara konsisten setiap hari.

Salah satu unit yang berperan penting adalah Pelayanan dan Pengamanan (Yanpam). Tim keamanan melakukan patroli rutin di berbagai gedung rumah sakit untuk memastikan tidak ada lampu, AC, atau perangkat elektronik yang menyala sia-sia di ruangan kosong.

“Kalau ada AC atau lampu yang masih menyala di ruangan yang tidak digunakan, pasti langsung kami matikan,” kata Koordinator Yanpam, Mualiman.

Selain itu, rumah sakit juga mulai melakukan audit peralatan listrik. Unit AC berusia lebih dari sepuluh tahun dipensiunkan karena dianggap terlalu boros energi. Lampu neon konvensional diganti bertahap dengan lampu LED berdaya rendah namun memiliki pencahayaan setara.

Perubahan juga diterapkan pada penggunaan alat medis. Perangkat tidak lagi dibiarkan menyala seharian, tetapi baru diaktifkan beberapa menit sebelum digunakan untuk tindakan medis.

Meski demikian, efisiensi di rumah sakit memiliki batas yang sangat ketat. Beberapa area kritis seperti ruang operasi, ICU, dan ruang isolasi tidak boleh terkena kebijakan penghematan berlebihan karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.

Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS Roemani, Sri Saidah, menegaskan bahwa HVAC di ruang kritis bukan hanya alat pendingin, tetapi bagian dari sistem pengendalian infeksi.

“Kalau dipaksakan berhemat di sana, risikonya adalah infeksi silang dan keselamatan pasien,” tegasnya.

Karena itu, rumah sakit lebih banyak mendorong perubahan perilaku di area non-kritis. Karyawan dan pengunjung diajak menggunakan tangga untuk perpindahan jarak pendek, mematikan perangkat komputer setelah dipakai, dan menggunakan energi seperlunya.

Kampanye tersebut dikemas sebagai bagian dari budaya hidup sehat. Pesan-pesan penghematan energi ditempel di area lift, ruang kerja, hingga disampaikan dalam forum internal rumah sakit.

Perlahan, budaya baru mulai terbentuk. Para perawat dan staf kini lebih terbiasa menggunakan energi secara disiplin tanpa mengurangi pelayanan kepada pasien.

Bagi pasien seperti Amelia Mayawati, perubahan tersebut tidak mengurangi kenyamanan selama berada di rumah sakit.

“Tidak terasa panas sama sekali. Tetap nyaman,” ujarnya.

Pakar efisiensi energi Mada Ayu Habsari menilai langkah RS Roemani sudah berada di jalur yang tepat, meski masih perlu pengembangan sistem manajemen energi yang lebih cerdas dan adaptif.

Menurutnya, rumah sakit idealnya menggunakan Building Management System (BMS) atau Building Automation System (BAS) agar pengaturan pendingin ruangan dapat disesuaikan dengan fungsi dan tingkat penggunaan tiap area.

Direktur Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, juga menilai pengelolaan energi di rumah sakit sangat kompleks karena harus menjaga keseimbangan antara efisiensi dan keselamatan pasien.

“Penghematan tidak boleh dilakukan sembarangan,” ujarnya.

Sebagai langkah jangka panjang, RS Roemani kini menyiapkan penggunaan sistem pendingin sentral jenis chiller di gedung baru mereka. Teknologi tersebut diklaim mampu membaca kebutuhan ruangan dan menyesuaikan penggunaan energi secara otomatis.

Pengalaman RS Roemani menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan hanya soal mematikan saklar listrik, melainkan tentang kedisiplinan, perubahan budaya, dan kecermatan menjaga batas antara penghematan dan keselamatan manusia.

Di rumah sakit ini, penghematan energi pada akhirnya tidak hanya menyelamatkan biaya operasional, tetapi juga mengubah cara pandang para pekerjanya tentang hidup yang lebih bijak, sederhana, dan penuh rasa syukur.***

Sumber: IDN Times

Penulis: Dhana Kencana, Peserta Program 1000 Cahaya Fellowship Journalist 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *