
Sebanyak 11 jurnalis lolos seleksi ketat dan mulai melakukan liputan tentang transisi energi dalam Fellowship Lipsus Program 1000 Cahaya Muhammadiyah.
1000 CAHAYA – Upaya mendorong transisi energi bersih berbasis komunitas memasuki babak baru. Program Fellowship Liputan Khusus “1000 Cahaya Muhammadiyah” resmi bergerak ke tahap peliputan sejak 1 April 2026, setelah melalui proses seleksi ketat yang menjaring puluhan jurnalis dari berbagai daerah.
Sejak pendaftaran dibuka pada 4 hingga 18 Maret 2026, sebanyak 42 jurnalis dari media nasional dan daerah, baik cetak maupun elektronik, mengajukan proposal liputan. Dari jumlah tersebut, hanya 11 jurnalis yang terpilih menerima pendanaan liputan, menandai tingginya minat sekaligus kompetisi dalam isu jurnalisme energi yang kian relevan.
Program ini mengusung tema “Efisiensi Energi 1000 Cahaya: Jurnalisme Mendalam untuk Transisi Energi Berbasis Komunitas”. Para jurnalis tidak sekadar diminta melaporkan peristiwa, tetapi menggali praktik nyata di lapangan melalui pendekatan deep reporting yang berbasis data, verifikasi, dan narasi berdampak.
Direktur Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, menegaskan bahwa fellowship ini dirancang untuk memperkuat kualitas liputan energi di Indonesia. “Kami berharap lahir karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggerakkan kesadaran publik tentang pentingnya efisiensi energi,” ujarnya dalam sesi pembekalan.

Setiap jurnalis terpilih mendapatkan dukungan dana liputan hingga Rp 7 juta. Besaran dana disesuaikan dengan kompleksitas dan kelayakan proposal, termasuk jumlah titik liputan yang diusulkan.
Tidak berhenti pada dukungan finansial, para peserta juga mengikuti kelas pembekalan intensif pada 30–31 Maret 2026. Dalam sesi ini, mereka dibekali perspektif lintas disiplin, mulai dari pendekatan keagamaan hingga teknis energi.
Niki Alma, misalnya, mengulas konsep fikih transisi energi berkeadilan. Ia menekankan bahwa upaya menjaga lingkungan, termasuk efisiensi energi, merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Sementara itu, pakar energi terbarukan Rachmawan Budiarto menyoroti besarnya peluang komunitas dalam mendorong transisi energi. Menurut dia, perubahan tidak selalu harus dimulai dari skala besar, tetapi bisa tumbuh dari praktik sederhana di tingkat lokal.
Penguatan kapasitas jurnalistik diberikan oleh Themmy Doaly, Ketua Umum SIEJ (Society of Indonesian Environmental Journalists), yang mengangkat pentingnya storytelling dalam isu lingkungan. Ia menekankan bahwa data yang kuat perlu diimbangi dengan narasi yang menyentuh agar pesan dapat menjangkau publik lebih luas.
Memasuki tahap liputan yang berlangsung pada 1–8 April 2026, para jurnalis mulai bergerak ke berbagai titik lokasi program. Mereka akan melaporkan praktik efisiensi energi di masjid, sekolah, pesantren, hingga figur perempuan penggerak lingkungan yang dikenal sebagai Green Hero ‘Aisyiyah.

Topik yang diangkat pun beragam. Mulai dari transisi energi di sekolah Muhammadiyah di Banjarnegara, inovasi pesantren mandiri energi di Yogyakarta, hingga efisiensi air wudhu di masjid ramah lingkungan. Ada pula liputan tentang transformasi “green mosque” sebagai ruang aman berbasis energi bersih bagi perempuan dan anak.
Salah satu jurnalis akan mengangkat kisah efisiensi dan transisi energi Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah. Ponpes yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini mulai melakukan efisiensi energi dengan mengaktivasi panel surya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik bagi para santri. Liputan lain menyoroti upaya rumah sakit menuju konsep green hospital, serta praktik green school di madrasah.
Keragaman tema ini mencerminkan pendekatan program yang tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada perubahan perilaku dan kesadaran kolektif.
Program 1000 Cahaya sendiri merupakan gerakan transisi energi bersih berbasis komunitas yang menyasar rumah ibadah, sekolah, dan pesantren. Inisiatif ini juga menonjolkan peran figur lokal sebagai agen perubahan di tingkat akar rumput.
Selama ini, berbagai praktik baik tersebut dinilai belum terdokumentasi secara optimal dalam laporan jurnalistik yang komprehensif. Padahal, kisah-kisah tersebut berpotensi menjadi inspirasi dan model replikasi di daerah lain.
Melalui fellowship ini, kesenjangan tersebut coba dijembatani. Jurnalis didorong untuk menghasilkan karya mendalam dengan panjang minimal 1.000 kata, dilengkapi dokumentasi visual atau multimedia, serta memenuhi prinsip cover both sides.
Setelah tahap liputan, peserta akan menyusun laporan hingga 15 April 2026. Karya-karya tersebut dijadwalkan terbit paling lambat 26 April 2026, sebelum akhirnya diumumkan tiga karya terbaik pada 27 April 2026.
Program ini tidak hanya berorientasi pada output jurnalistik, tetapi juga pada dampak jangka panjang. Dengan memperkuat literasi energi melalui media, diharapkan publik semakin memahami bahwa transisi energi bukan semata urusan negara atau industri, melainkan juga gerakan kolektif dari komunitas.
Di tengah krisis energi dan perubahan iklim yang kian nyata, langkah kecil dari masjid, sekolah, dan pesantren bisa menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.***